Bagaimana kalau..

Membaca tulisan kak ani, membuat ada sedikit imaji di pikiran ini. Bagaimana kalau, setelah nikah dan punya anak, saya berhenti bekerja (kantoran), dan mulai jadi full time mom and freelancer.
Bagaimana kalau saya mengubah haluan ke jalur penulis kecil2n dan fotografer amatiran. Bagaimana kalau, saya mengajar sendiri les buat anak- anak saya, dan bukannya mengandalkan bimbel yang mahalnya luar biasa.
Semenjak kecil, saya termasuk gila sekolah -anak yang tanpa disuruh atau diberi uang dulu baru mau sekolah. Dan, setelah selesai, saya bekerja di bidang yang sangat memeras otak, seismologi. Saya lelah, dan sepertinya pilihan pensiun dini menarik.
Sesuatu yang akan dianggap gila orang-orang sekampung, dimana semua rela menyikut dan menyogok demi jadi pegawai pemerintah.
Pilihan yang mungkin punya resiko besar, tapi…mungkin saja akan menjadi hal menggoda 5, 10, atau 20 tahun mendatang.

*episodeimaji

Advertisements

9 thoughts on “Bagaimana kalau..

  1. Bagaimana kalau, setelah nikah dan punya anak, saya berhenti bekerja (kantoran), dan mulai jadi full time mom —> sering kepikiran kek gini… hohohoho….

  2. medilubis said: Bagaimana kalau, setelah nikah dan punya anak, saya berhenti bekerja (kantoran), dan mulai jadi full time mom —> sering kepikiran kek gini… hohohoho….

    berani??????

  3. pianochenk said: dan sepertinya pilihan pensiun dini menarik.Sesuatu yang akan dianggap gila orang-orang sekampung, dimana semua rela menyikut dan menyogok demi jadi pegawai pemerintah.

    sama Pi, sy juga pernah terpikir utk pensiun dini. rasanya menjadi seorang istri & mama (kelak) jauh lebih penting. insyaallah tidak bermaksud takabur menyianyiakan rezki yg susahpayah diperoleh & diinginkan banyak orang.

  4. barakahnya luar biasa, biasa nonton ustadz maulana kan. kata ustadz memasak makanan untuk suami dgn tangan kita sndiri pahalanya 1000 sedang menemaninya pahalanya juga 1000 belum mengurus anak dan sebagainya. keputusan saya, walau mengamalkan ilmu di luar dan menuntut ilmu itu ada pahalanya sendiri namun dirumah memiliki makna tersendiri,

  5. Dulu, wkt masih kuliah,punya cita2 semacam itu.. Sekarang,sudah merasakan bagaimana dunia kerja, ada pergeseran,tapi entah besok ketika menjalaninya ^^

  6. ummuyusuf24 said: barakahnya luar biasa, biasa nonton ustadz maulana kan. kata ustadz memasak makanan untuk suami dgn tangan kita sndiri pahalanya 1000 sedang menemaninya pahalanya juga 1000 belum mengurus anak dan sebagainya. keputusan saya, walau mengamalkan ilmu di luar dan menuntut ilmu itu ada pahalanya sendiri namun dirumah memiliki makna tersendiri,

    iya mbak..nyari pahala susah2, di rumah sendiri banyak berserakan 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s