Ke pasar (tradisional).

Beberapa hari lalu, saya mendapat pemandangan langka.
Seorang remaja lelaki menemani ibunya berbelanja
di pasar.
Kenangan pun kembali mengajak saya, memutar memori, tentang pasar tradisional.
Ritual ini adalah hal yang saya benci, waktu kecil dulu.
Betapa tidak, pasar adalah tempat dimana kakiku tak pernah selamat dari becek dan lumpur, lengket -basah dan bau.
Belum lagi bau dan panasnya, pokoknya segala ketidaknyamanan ada di pasar.
Mama tidak mau tau, dia biasa berjalan di depan dan selalu menyuruh saya berjalan lebih cepat lagi,dan lebih sering lagi meninggalkan saya yang bergulat dengan tanah berlumpur dikaki.
Sekarang, ke pasar adalah kebiasaan baru lagi. Dalam seminggu, berbelanja di pasar bisa saya lakukan tiga atau empat kali.
Rajin? Bukan. Ini dikarenakan tempat transit angkot saya ada di pasar. Jadi, sekalian saja saya lakukan, toh tidak butuh ongkos lebih dan tidak memakan waktu banyak.
Lagipula, pasarnya juga kalau hujan tidak terlalu becek. Ojeknya juga banyak, hingga kalau kalian berdiri menepi sebentar pasti banyak yang menghampiri,hihi.

*5 Ramadhan, moga kuat ya Allah!

Advertisements

4 thoughts on “Ke pasar (tradisional).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s