[Narsisku Bahagiamu] Pedagang “Kecil” dari Pasar Kota

Sebenarnya dia sudah mau saya angkat dalam lomba yang lalu , namun rupanya belum berjodoh.
Tema lomba tentang pedagang kecil rupanya lebih cocok dengan dirinya, selain karena ukuran tubuhnya. Perkenalkan, “Seni”, pedagang sayur “kecil” di Pasar Kota, Kendari.
Seni, Menghitung Uang Jualan
Perkenalan kami sudah semenjak saya pertama kali bolak-balik Purirano (kantor) dan Pasar Kota , melintasi jalur angkot di kota Kendari.
Seni, anak kelas 5 SD, berjualan sayur di lokasi yang sangat strategis. Tempat itu berada di jejeran depan, bersebelahan dengan jalan umum, jalur angkot Purirano memutar. Bisa dipastikan jumlah pembeli yang mondar-mandir di situ sangat banyak, salah satunya saya.
Semenjak bulan April tahun ini, saya sering bertemu Seni. Di bawah payung lebar warna warni, menjajakan aneka sayur mayur. Favorit saya, Bayam Auri (mirip nama angkatan bersenjata kita, hehe), jenis bayam yang tumbuh secara liar, tanpa pupuk, perawatan minimal. Favorit Mama juga.
“Siapa namamu?” tanya saya. Ini kali pertama saya berdialog aktif dengannya, biasanya cuma ” Ada Bayam Auri?” . Di pasar, dialog sok akrab kayak begini amat jarang, kecuali sudah kenal lama. Saya menghindari banyak tanya, situasi yang kurang kondusif di tengah pasar yang ramai, jadi maaf pemirsa kalo sesi wawancara terlihat minim.
“Seni. Namaku Seni.” Situasi bisa cepat cair, mengingat saya adalah langganannya. “Dari sejak kapan ko jualan?”, saya penasaran dengan awal karirnya. “Kelas dua.”, jadi sejak umur 7 atau 8 tahun anak ini berpanas-panas di luar demi membantu orangtuanya. “Kelas berapa ko sekarang?”, “Kelas lima.” Rupanya profesi ini telah dijalaninya selama kurang lebih selama tiga hingga empat tahun.
Selain Seni, ada anak lain, Herni, kakaknya Seni. Namun, di banding Seni, Herni jarang saya temui. Beberapa kali saya saya bertemu Ibu dari Seni dan Herni. Mereka bertukar jadwal di waktu siang, karena Seni bersekolah di pagi hari.
Seni dan Herni

Setelah wawancara singkat, saya pun meminta Seni untuk memotret saya, masih dengan seragam lengkap dan tas ransel (saya tak bisa melepaskannya, rawan!), pose seadanya demi kelengkapan syarat lomba.
“Pak/Bu, kembang pepayanya..2000 saja!”

Mengambil gambar di tengah pasar begini, perasaan malu saya simpan di dalam tas saja, karena menarik perhatian banyak orang.
Pasar ini bukan pasar permanen, masih berupa petak-petak yang bisa dibongkar kapan saja. Pasar Kota rencananya akan diberi sentuham modern, di sebelah lokasi ini sudah berlangsung pembangunan gedung pasar yang baru. Kalau sudah jadi, saya tidak tahu apakah Seni dan Ibunya masih bisa berdagang di sini, mengingat kebijakan soal perpasaran di Kendari agak keras akhir-akhir ini. Mungkin saja, lapak seperti ini akan digusur.
Namun, satu yang menjadi renungan saya. Anak seperti Seni sudah banting tulang mencari uang, tetap semangat, walau usianya masih kecil. Bukan dengan minta-minta atau mengemis di jalan.
Proses Transaksi
Lapak Tempat Seni Berjualan

*Tulisan ini demi ikut lomba yang ini
Advertisements

24 thoughts on “[Narsisku Bahagiamu] Pedagang “Kecil” dari Pasar Kota

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s