Laporan Narsis bag1, Mama Selfi sudah!

Orang bijak bilang, amanah itu musti disegerakan. Uang hadiah sudah saya tarik dari ATM dari hari rabu, namun kemarin belum sempat karena banyak hal, jadi rencana penerimaan hadiah saya undur hingga pagi ini.

Turun dari pete-pete (banyak yang asing dengan istilah ini, tapi percayalah ini bukan makanan apalagi sejenis barang pecah belah. Kalau mau tau, sila di gugling sajah ), saya langsung bergegas ke warung Mamanya Selfi.

” Ini ada uang dari lomba tulisan yang kemarin”, saya langsung memberondong mamanya Selfi dengan inti kedatangan saya.


Pandangan tak percaya dari Mamanya Selfi, dan juga Bapaknya Selfi. “Apa ini??” tanya Mamanya Sefi, “Tulisan yang kemarin, semua pedagang yang dituliskan (kisahnya) dikasih uang hadiah sama panitia” jelas saya.
Masih tak percaya, sambil senyum-senyum Mamanya Selfi menerima uang hadiah sebesar Rp.200.000,-.

“Sebelumnya, ndak ada yang kayak ini. Seringmi dibilang mau dibantu, tapi sampai sekarang ndak ada beritanya.” Bapaknya Selfi mencurahkan uneg-unegnya tentang mereka yang sering “mengobral” janji bantuan untuk pedagang kecil seperti dia, namun tak ada realisasi.

Terima kasih kepada panitia dan donatur yang mau mengadakan lomba ini sekaligus memberikan bantuannya, “Terima kasih sekali!”, dari Bapak dan Mamanya Selfi.



Advertisements

“Nekat saja..!”

“Sudah, nekat saja..!”
“Man jadda wa jadda, siapa yang bersungguh-sungguh maka pasti berhasil!”
Kata-kata “motivasi” yang saya semburkan ke teman saya, yang ingin ikut workshop kepenulisan hari ini. Hari itu, hari minggu.

Bagaimana tidak mau nekat, dia tinggal berkilo-kilometer dari Kendari, di kota Bau-Bau. Ke Kendari, dia mesti naik kapal fiber selama berjam-jam. Dan, harinya bukan hari libur, hari kerja.

Bang Darwis “Tere Liye” dalam sesi tandatangan


Bagaimana dengan saya? Hehe, hampir saja. Hampir tidak ikut wokshop ini. Setelah Selasa sebelumnya ada rencana rapat bulanan kantor. Acara ini sudah hampir saya “delete” dari daftar saya. Rapat biasanya berakhir molor, kalau bukan jam 11, ya jam 12. Workshop dimulai dari jam 9.30, selesai jam 12.30. Kalau saya nekat ikut, paling banter saya cuman dapat ruang aula kosong, alias sudah bubar. Kantor dan Kampus Unhalu berjarak 1.5 jam perjalanan dengan angkot. Itu yang ada dalam pikiran saya dari kemarin.
Tapi, pikiran untuk membatalkan tidak saya kabarkan ke teman saya, pemegang tiket. Saya masih berharap ada keajaiban.
Dan, memang..rencana manusia dan Allah jauh berbeda. Rapat yang biasa lama, eh tau-tau singkat, padat dan jelas. Setelah ijin ke pak bos, dan oke, saya pun meluncur ke kampus. Perfect.
Selama 1.5 jam di atas angkot, dalam panasnya cuaca Kendari siang tadi, dan akhirnya sampai di kampus. Berlari-lari ke tingkat 3, masuk ke aula..dan masih mendapatkan 15 menit terakhir dari sesi pemaparan bang Tere Liye tentang menulis, alhamdulillah.
Teman saya, yang dari Bau-Bau juga sudah ada di sana. Tapi, karena mesti mengejar kapal balik ke Bau-Bau, maka jam 12 tepat dia pamit. Yang penting, workshop sudah diikuti
Sesi tanya jawab, saya berani melontarkan pertanyaan. Ini ajaib…sekali , bagi saya. Biasanya di saat saat ini, panick attack melanda.

“Bang, saya blogger. Bagaimana pendapat abang tentang blogger yang menerbitkan buku”…dengan pede saya memperkenalkan diri sebagai blogger.
“oh, bagus!”, bang Tere menjawab. Dia lalu menyebutkan blogger-blogger yang sukses menerbitkan , seperti Raditya Dika, Arief Pocong, dan mbak Dewi Rieka. Tere liye juga menganjurkan untuk membukukan blog kita, “Jangan takut ditolak penerbit”, rapikan naskah kita terus kirim ke penerbit.

Dia juga berkisah tentang Hafalan Shalat delisa yang pernah ditolak dua penerbit besar, lalu setelah beberapa waktu saat buku tersebut meledak, salah satu penerbit malah “menawarkan” jasa untuk menerbitkan naskahnya. “Maaf, kita tidak berjodoh”, tegas bang Tere.

Walau materi workshop tidak semua saya ikuti, namun nasehat yang sama seperti yang lain dari bang Tere, “Menulis..terus menulis..eksplor..”, kira-kira begitu sarannya buat yang mau menulis. Maka dengan itu, saya juga akan terus menulis, dan menulis, insya Allah di blog ini dan di media-media lain. Aamiin 🙂

Dear MP, dengarkan curhatku. Mohon kami, para blogger jangan dianaktirikan. Kami ini cinta MP, bener de cinta. Mohon juga fitur2 blog jangn dipreteli satu2, jadinya ga asyik lagi. Plissss.. Saya masih betah ngeblog di mari.. Salam. Pia-nochenk

Dear MP, dengarkan curhatku. Mohon kami, para blogger jangan dianaktirikan. Kami ini cinta MP, bener de cinta. Mohon juga fitur2 blog jangn dipreteli satu2, jadinya ga asyik lagi. Plissss.. Saya masih betah ngeblog di mari.. Salam. Pia-nochenk

All England 2012, Ada juga Indonesia


Setelah film Unstopable-nya Denzel Washington semalam berhasil mengalihkan kegiatan “menulis” yang seharusnya saya lakukan, tak sengaja kanal MNC SPORTS terpencet. Ah, rupanya All England sedang ditayangkan. Pertarungan antara Wang Yi Han dan Li Xue Rui mendekati titik akhir, Li Wue Rui pun memperoleh juara. Dalam usia yang sangat muda, 21.

Setelah itu, maka giliran pasangan ganda campuran Indonesia bertarung. Melawan ganda Denmark, yang hari sebelumnya melibas pasangan China no. 2 dunia.
saking semangatnya, duo kita sambil melayang untuk meladeni lawan
(dari sports.okezone.com)
Permainan berjalan tegang, tapi kendali ada di pasangan butet-owi. Serangan-serangan tajam cuma dilakukan saat benar-benar diperlukan, pukulan-pukulan bervariasi dilepaskan. Hingga nyaris tak terbaca lawan. Set pertama berakhir dengan 21-17.
Set kedua, walau sempat beberapa kali pasangan Denmark menyerang, tapi butet-owi tetap fokus. Tidak terpancing permainan ganda Denmark. 21-19, set ini ditutup dengan kemenangan pasangan Indonesia.
Ganda campuran beberapa kali memang menyelamatkan wajah Indonesia di pentas bulutangkis dunia, setelah tak lagi ada tunggal putra atau ganda putra yang prestasinya mencolok. Di 2012 ini, inilah gelar pertama Indonesia di turnamen sekelas Super Series.
Next Butet-Owi, OLIMPIADE 2012!!