Setelah Tiga Kali

It’s a risky thing.
Saya membeli sagu Jum’at kemarin, hanya setengah liter. Di bayangan saya, sagu tersebut akan berubah menjadi sinonggi, bagaimanapun.

Sinonggi sendiri adalah makanan khas dari Tolaki, suku asli Kendari. Mereka biasa menyantapnya dengan side dish berbagai rupa, ikan sayur dan sambal. Meski begitu, Sinonggi kini jadi makanan khas Kendari.

Saya sudah sering makan sinonggi. Masalahnya, saya tak pernah memasaknya sendiri. Masak sinonggi adalah pekerjaan yang sangat beresiko, salah sedikit bukan sinonggi yang diperoleh, melainkan sagu mentah campur air.

Sabtu kemari, rumah dalam keadaan ramai, adik dan kakak saya datang dari kampung. Untuk lebih memeriahkannya lagi, saya berinisiatif untuk membuat sinonggi. Karena saya tidak tahu membuatnya, maka tugas mulia tersebut saya serahkan ke kakak saya. Kakak saya mengaku bisa membuatnya. Sip dah (in my mind), urusan masak sinonggi beres.

Sudah saya ceritakan tadi, makan sinonggi itu gak afdol kalau tak ada hidangan sampingannya. Maka, dimasaklah sayur bayam bening yang dicampur dengan jagung, labu kuning dan daun kelor. Untuk ikannya, dipilih ikan rambe (gak tau sebutan nasional buat ikan ini, yang pasti ikannya merah dan dagingnya manis) yang dipindang dengan asam, kunyit, sereh dan tomat). Serta tak lupa sambal tomat yang ditumis.

Side dishnya sudah siap, tinggal membuat hidangan utama-sinonggi. Kakak saya sudah siap, namun setelah ditanya ke adik saya, rupanya dia juga mengaku bisa. Akhirnya saya putuskan, adik saya saja yang membuatnya. Kemampuan masaknya di atas saya, memang.
Sagu mentah yang telah diendapkan di dalam air, perlahan-lahan diaduk sampai kental. Lalu, ke dalam loyang dituang air panas (yang baru mendidih) sedikit demi sedikit. Tapi, kok sagunya adem ayem saja. Tak ada perubahan.
Kenapa dia ndak berubah?” tanya saya ke adik saya.
Aduk ko! Itumi ko ndak aduk tadi,” semua tegang. Sinonggi ini sepertinya gagal.
Tunggu, telepon Ana dulu,” ujar adik saya. Ana adalah sepupu kami yang sudah mahir dalam dunia per-sinonggi-an.

Setelah adik saya menelepon untuk meminta petunjuk. Perjuangan dilanjutkan. Kali ini air dalam sagu dikurangi, dan air panas dituangkan dalam jumlah yang lebih banyak. Sagu perlahan-lahan berubah, volumenya bertambah. Namun, warnanya kembali sama dengan warna sagu mentah. Sinonggi memiliki warna bening, seperti lem sagu.

sinonggi dkk

Ohh, tambah airnya. Kita kasih duduk di kompor* saja. Pasti jadiji itu, katanya Ana,” adik saya melanjutkan percobaan yang ketiga. Dan, taaaaraaaaaaa, berhasil sodara-sodara. Sagu telah berubah jadi sinonggi. Kami pun langsung menyerbunya. Sikaaaat!

eksekusi (pemeran: Alif, my nephew)
———————————————————-
kasih duduk di kompor = istilah untuk memasak di kompor (Raha)
Gambar sudah ada!
Advertisements

27 thoughts on “Setelah Tiga Kali

  1. Senang sekali membacanya Belajar bahasa baru, sekaligus pengobat kangeeen untuk teman mp dari Papua yang sekarang nggak aktifKasih duduk dikompor ini lucuuu banget bahasanya tapi bolehlah dipraktekan

  2. elok46 said: Senang sekali membacanya Belajar bahasa baru, sekaligus pengobat kangeeen untuk teman mp dari Papua yang sekarang nggak aktifKasih duduk dikompor ini lucuuu banget bahasanya tapi bolehlah dipraktekan

    Glad to hear that;)

  3. ummuyusuf24 said: aq pernah bikin kapurung, tapi g ikut makan :Dair endapannya dikurangi dulu deh kalau g salah mbak

    iya, jangan banyak2 airnya.

  4. akuai said: pengen nyicip jadinya. gak kebayang sagu dihidangkan bareng sayur soalnya ^^

    nyoba kapurung aja, ai. Di jakarta mungkin ada di restoran makassar πŸ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s