Untuk Bumi dari Kendari

Peduli lingkungan dan hemat energi? Tema yang jarang saya ambil. Bukan karena tak peduli, tapi memang selama ini belum terpikir saja buat postingan tentang lingkungan dan energi.

Mari kita mulai saja.

***

Coba kalian perhatikan daerah sekitar atau di kota kalian? Apa yang berubah? Kalau dari pandangan mata saya saat ini, banyak. Kota tempat saya lahir ini, Kendari, termasuk yang perkembangannya sangat pesat. Dulu, yang banyak itu rawa dan tanah lapang. Sekarang, semua penuh dengan bangunan. Padat.

Kalau dulu, saya masih bisa berlari-lari di lapangan yang luas, sekarang sudah jarang mendapatkan tanah yang seperti itu lagi. Semuanya mulai di isi dengan rumah dan ruko. Yah, Kendari memang terkenal dengan kota ruko. Pertambahan penduduk di kota ini juga tak main-main. Baik yang datang dari wilayah Sulawesi Tenggara (provinsi dimana Kendari adalah ibukotanya)  ataupun dari provinsi tetangga maupun dari lain pulau. Kendari mulai “gemuk”.

Nah, dengan lahan yang makin “sempit” dan penduduk yang bertambah, maka masalah yang paling cepat muncul adalah sampah.

Ngomongin sampah, pasti ujung-ujungnya ke TPA juga alias Tempat Pembuangan Akhir. Dan, beruntungnya Kendari punya TPA yang keren, namanya TPA Puuwatu [1]. Gimana gak keren, di sana sampah diubah jadi gas metan yang dimanfaatkan warga sekitar TPA.

Meski TPA-nya bagus, namun yang menjadi masalah lagi adalah budaya membuang sampah warga kota. Kali, pinggir jalan, bahkan dari atas angkutan umum, mereka bebas membuang sampahnya. Miris rasanya melihat perilaku yang tidak bertanggung jawab ini. Tapi, tunggu dulu. Menunjuk memakai satu jari ke arah orang lain, berarti empat jari yang lain tertuju ke diri sendiri. Jangan-jangan kita juga sering berlaku yang sama. Jadi, mulai sadar diri untuk tak membuang sampah di tempat yang tak sepatutnya, yuuuukkk!

Salah satu bentuk sampah yang jamak di jaman modern, adalah sampah plastik dan kertas. Untuk sampah kertas, di kantor semua kertas hasil print yang tak terpakai atau salah, tak langsung dibuang dan dibakar. Hampir semua kertas bekas itu disatukan (di-staples) lalu dipakai lagi. Untuk apa?? Sebagian besar untuk kertas cakaran (bukan yang dicakar-cakar lo ya;) ) dan untuk menuliskan parameter gempa hasil analisa  sebelum dilaporkan (kantor saya adalah kantor pengamatan gempa daerah).

Sementara sampah plastik, sampai saat ini menjadi PR besar buat saya. Selain botol air mineral yang biasa dipakai kembali, sampah plastik yang lain langsung dibuang. Walau, sebenarnya ada jenis sampah plastik yang bisa dikurangi, yaitu kantong plastik (yang umumnya berwarna hitam). Setiap kali berbelanja, usahakan untuk tak membungkus belanjaan dengan bahan selain kantong plastik, seperti koran atau tas khusus. Beberapa kali, saya mempersiapkan dari rumah tas jinjing berbahan kanvas untuk berbelanja di pasar. Bahkan, juga pernah menolak kantong plastik dari penjual dan langsung memasukkan barang belanjaan ke tas ransel saya (yang kebetulan bisa muat banyak barang).

Kota yang tambah padat seperti Kendari juga berarti kendaraan yang berlalu-lalang di jalannya turut bertambah. Pada 2011, ada sekitar 129 ribu unit kendaraan di kota ini, dengan yang terbesar adalah motor[2]. Pertambahan kendaraan pribadi dianggap sebagai hasil dari tambah makmurnya warga kota. Namun, itu juga berarti berlipat-lipatnya polusi udara. Untuk yang ini, saya setia dengan kendaraan umum saja. Setiap saat saya selalu naik pete-pete.

Pete-pete (atau angkot) adalah kendaraan umum yang banyak di Kendari. Saat normal, pete-pete mampu menampung 10-12 orang. Meski tak sebanyak jumlah penumpang bus atau kereta, namun jumlah BBM yang dapat dihemat tidak sedikit untuk ukuran kota ini. Meski belum men-cover keseluruhan kota, namun hingga saat ini pete-pete masih bisa saya andalkan untuk berpergian di dalam kota.

Kdi Teater2

pete-pete

Tentang kota yang beranjak maju, maka tak lengkap kalo tak menyinggung tentang pemakaian alat elektronik  yang bertambah pula, salah satunya yang mengkonsumsi energi listrik paling besar, AC. Mau hemat energi yang praktis? Pakai AC hemat listrik dengan suhu yang tak terlalu rendah. Standar untuk Indonesia sudah ada juga [3]. Saya kebetulan tak terlalu suka dingin, namun juga tak suka kepanasan. Suhu 24 derajat celsius sudah ideal. Pas banget^^

Semua orang sekarang sudah punya handphone, dan keborosan terbesar dari handphone adalah dari sisi charger-nya. Sering lihat charger yang tergantung begitu saja tanpa ada handphone yang tengah di-charge? Oh, kawan hindarilah perilaku yang satu ini. Salah satu kebiasaan saya adalah segera mencabut charger tersebut dan menggulungnya hingga rapi, hehe. Selalu saya usahakan untuk mengisi baterai handphone hingga penuh, dan segera mencabut charger-nya. Juga untuk kasus kabel TV atau yang lain, kalau tak terpakai, segera saya cabut.

Mematikan lampu yang tak perlu juga bisa buat hemat energi. Apalagi lampu kamar saat tidur. Selain hemat energi, juga baik untuk kesehatan[4].  Kebiasaan yang dulu ditanamkan oleh Bapak, mulai saya lakukan lagi beberapa bulan lalu. Dengan lampu yang temaram dahulu,  perlahan-lahan menjadi padam secara total. Bagi yang tak bisa gelap sama sekali, bisa mencoba memakai lampu tidur.  Mematikan lampu saat tidur juga sunnah Rasul, lho. Jadi, kebiasaan yang amat sangat bermanfaat.

Prinsipnya sih matikan alat elektronik/lampu yang tidak sedang digunakan, seperti TV, kipas angin. Kalau perlu cabut kabelnya. Apalagi kalau waktu untuk memakainya lagi tak pasti, lebih baik dimatikan saja. Penghematan dari sisi mengubah kebiasaan ini bisa berarti banyak buat penggunaan listrik. Satu rumah satu lampu yang dimatikan, bayangkan dalam satu kota (seperti Kendari yang punya jumlah pelanggan 50 ribu [2]) besaran daya listrik yang dihemat. Besar sekali.

***

Akhirnya, semua tips dan kebiasaan di atas hanyalah hal-hal kecil yang sangat mudah untuk dilakukan. Meski kecil, namun akan berdampak besar jika dilakukan oleh banyak orang. Apalagi jika ditambah komitmen dan kesungguhan, bagi bumi kita yang lebih baik, untuk anak dan cucu kita.

__________________________

Sumber

[1] http://sultra.antaranews.com/print/264626/pemkot-kendari-olah-sampah-menjadi-gas-metan

[2] http://kendarikota.bps.go.id/statda/2012/kotakendari/statdakota2012.pdf

[3] http://harianandalas.com/Berita-Utama/Suhu-AC-27C-Lampu-12-Watt

[4] http://erabaru.net/kesehatan/34-kesehatan/5034-tidur-malam-lebih-baik-lampu-mati-atau-tidak

 

Tulisan ini dalam diikutkan dalam Blogger Contest Sobat Bumi Pertamina

Pertamina

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s