Dibonceng Bapak

Beberapa hari, dari jendela pete-pete saya melihat seorang anak perempuan dibonceng bapaknya. Biasa memang. Tapi, itu mengingatkan saya kembali pada Bapak, hu..hu.

Terakhir kali saya dibonceng Bapak itu sudah lama sekali, mungkin waktu SMP.  Waktu itu Bapak semakin sibuk dan kami (saya dan adik) juga sudah bertambah besar sehingga kami harus mulai mengurus segala keperluan sendiri.

Waktu SD, kantor Bapak dan sekolah berdekatan sehingga biasanya kami diantar Bapak. Vespa biru, saya di belakang dan adik berdiri di depan. Namun saat SMP, Bapak sudah tak sempat lagi, hanya adik saja yang diantar karena masih SD. Saya pun berjalan kaki ke sekolah. 

Waktu SMA dan pindah ke Kendari, Bapak mulai sakit-sakitan. Tak mungkin buat berboncengan di motor Bapak. Vespa biru kini berganti mobil yang dibeli Bapak karena mesti pulang-pergi bertugas di kota kabupaten lain. Vespa itu kemudian berpindah tangan ke suami kakak. 

Dibonceng Bapak mungkin biasa, tapi juga ungkapan kasih sayang yang luar biasa dari seorang Bapak buat anaknya.

Advertisements

3 thoughts on “Dibonceng Bapak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s