Catatan dari Rio

Tak terasa cabang Bulutangkis di Olimpiade Rio 2016 akan segera tuntas digelar. Dua sektor telah memastikan peraih medalinya, Ganda Campuran dan Ganda Putri

Emas kembali untuk Indonesia

Indonesia datang ke Rio membawa 10 pebulutangkis dari semua sektor dengan harapan 3 emas dari sektor ganda yang selama ini memang jadi andalan.

Sayang, pemain -pemain kita berguguran. Bahkan, Sang Juara Dunia 2015-Ahsan Hendra,  tak bisa lolos dari fase grup. Greysia-Nitya yang tahun ini sudah memenangkan 1 gelar Super Series takluk di perempat final dari pemain China.

Di sektor Ganda Campuran, para BL sempat berharap-harap cemas sebab 2 pasangan ganda kita mesti bertemu di perempat final setelah lolos jadi juara dan runner-up grup. Tontowi Ahmad-Liliyana Natsir dan Praveen Jordan-Debby Susanto harus “saling bunuh” demi tempat di semifinal. Undian yang dirasa tak adil, sebab harapan medali cukup besar dari keduanya. 

Praveen-Debby kalah, Owi-Butet melaju ke semifinal dan berhadapan dengan peraih emas di Olimpiade London 2012, Zhang Nan-Zhao Yunlei (ZZ).  

Semua prediksi condong ke duo ZZ. Owi-Butet terakhir menang dari mereka di final All England 2014, setelahnya selalu kalah. Kekalahan yang paling menyakitkan terjadi di semifinal Kejuaraan Dunia di Jakarta, Agustus tahun lalu.

Pertandingan berlangsung ketat dan seimbang. Namun, Owi-Butet bermain lebih bersih dan menekan pasangan nomor 1 dunia tersebut. Pasangan kita menang dalam 2 gim langsung, 21-16 21-15.

Final mempertemukan Indonesia dan Malaysia. Chan Peng Soon-Goh Liu Ying mengejutkan semua orang dengan maju ke final setelah mengalahkan peraih perak Olimpiade London  Xu Chen-Ma Jin.  Meski selalu unggul, bukan berarti pasangan kita bisa tenang. Pertarungan yang tak mudah di fase grup sebelumnya menjadi patokan kalau Owi-Butet tidak boleh menganggap enteng duo Malaysia itu.

Maju ke final dan menjadi satu-satunya harapan Indonesia buat meraih emas memberi tekanan buat Tontowi dan Liliyana. Sepanjang pertandingan, keduanya terus memberi dukungan dan saling mengingatkan agar terus fokus dan tidak lengah meski sedang unggul. Hasilnya, mereka menang 2 gim langsung 21-14 21-12. Emas pertama buat Butet dan Owi sekaligus Emas satu-satunya Indonesia di Rio 2016.

Anomali di Rio

Kalau di 2012 lalu China menyapu bersih medali Bulutangkis, di Rio China seperti kehilangan taringnya. Hingga saat ini, baru perunggu yang diperoleh  China di Ganda Campuran serta emas/perak Ganda Putra. Tak ada medali dari Ganda Putri yang biasanya menjadi milik China. 

China juga terancam kehilangan medali di Tunggal Putri. Li Xuerui yang kalah di semifinal dari Carolina Marin, hampir dipastikan tak akan ikut dalam pertandingan medali perunggu melawan Nozomi Okuhara setelah mengalami cidera lutut. 

Peluang medali emas bagi China di Tunggal Putra masih terbuka. Meloloskan 2 pemain, Lin Dan dan Chen Long, ke semifinal, jaminan bahwa salah satu medali dari sektor ini akan jatuh ke tangan China.

Selain runtuhnya dominasi China, Rio juga mencatat tumbangnya para unggulan. Lee Yong Dae-Yoo Yeon Seong , Saina Nehwal,  Ahsan-Hendra, Ratchanok Intanon, Greysia-Nitya. Bersamaan dengan itu, nama-nama yang jarang bersinar di Super Series atau kejuaraan besar lainnya mengisi daftar peraih medali. Malaysia sukses mengirim 2 wakil ke final, Ganda Campuran dan Ganda Putra, di luar nama Lee Chong Wei yang selalu jadi tumpuan mereka. Inggris bahkan meraih perunggu Ganda Putra lewat pasangan yang biasa-biasa saja. India bahkan berpeluang meraih emas dari PV Sindhu, bukan dari Saina Nehwal yang digadang-gadang jadi peraih emas pertama India dari Bulutangkis.

Masa Depan Bulutangkis di Olimpiade

Bulutangkis yang menjadi salah satu cabang perebutan medali sejak 1992 terancam tercoret dari Olimpiade beberapa tahun terakhir. Dominasi negara asia terutama China menjadi salah satu alasannya. Sapu bersih China dan skandal main sabun yang menyeret 3 negara termasuk Indonesia di London 2012 memperkuat sinyal-sinyal pencoretan tersebut. Namun, setelah beberapa waktu, perlahan Bulutangkis makin menunjukkan perkembangan menggembirakan. Munculnya juara dunia berturut-turut 2 tahun asal Spanyol, Carolina Marin,  Denmark yang menjuarai Piala Thomas 2016, serta kejutan-kejutan di Rio kali ini tampaknya akan sedikit “menjamin” tempat Bulutangkis dalam daftar cabang olahraga Olimpiade.

Advertisements

6 thoughts on “Catatan dari Rio

  1. 3 negara atau 4 ya mbak main sabun itu? Pasangan Korea ada 2 kan yang didis? Olimpiede kali ini nano nanonya komplit. Sedihnya ada.. Nyesaknya ada… Asemnya ada.. Happy-nya Alhamdulillah juga ada 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s