Catatan dari Rio (2)

Dan, akhirnya cabang Bulutangkis di Olimpiade Rio 2016 telah mencapai akhirnya kemarin. Banyak kisah-kisah dramatis plus mencengangkan terjadi.

Agustus yang berbeda buat Ahsan-Hendra dan Butet-Owi

Agustus tahun lalu tepatnya 16 Agustus adalah momen yang indah bagi Ahsan dan Hendra. Untuk kedua kalinya mereka menggenggam gelar Juara Dunia Ganda Putra. Terasa tambah bermakna sebab mereka meraihnya di depan publik sendiri, Jakarta. Namun, Agustus tahun ini begitu berbeda. Di Olimpiade Rio 2016, di mana banyak orang berharap Emas dari pasangan yang mulai berduet sejak Denmark Terbuka 2012 ini (termasuk saya), mereka malah tersingkir di putaran penyisihan grup (dan buat baper berjamaah BL se-Indonesia). Hanya mampu meraih kemenangan sekali dari 3 pertandingan. Berakhirnya perjalanan Ahsan-Hendra di Rio mungkin akan jadi kesempatan terakhir pasangan ini di Olimpiade, mengingat umur Hendra yang tak muda lagi dan Ahsan yang rentan cidera. 

“Kegagalan” Ahsan-Hendra sebenarnya telah terlihat dari awal tahun, grafik permainan yang terus menurun, hanya bagus saat Piala Thomas, dan kemudian turun lagi. Mereka sering kalah dari bukan pemain top dunia. 

Buat Butet dan Owi, ini adalah “unreal” August. Setelah Agustus tahun lalu terpuruk di Kejuaraan Dunia, kalah secara dramatis dari Zhang Nan-Zhao Yunlei. Butet bahkan secara tersirat menyatakan ingin mundur dari Bulutangkis akibat seringnya selalu kalah di momen-momen penting (Asian Games 2014 dan Olimpiade 2012). Tetapi, semua tak sama di Agustus ini. Tepat tanggal 17 Agustus 2016, di partai puncak Ganda Campuran Olimpiade, mereka berhasil meraih tempat tertinggi, Emas. Butet dan Owi berhasil menjawab keraguan banyak orang tentang mereka, karena mereka sendiri percaya bahwa kerja keras yang selama ini mereka lakukan demi Olimpiade pasti akan berbuah dan ternyata hasilnya manis.

Kejutan Malaysia

Malaysia datang ke Rio dengan hanya 1 pemain top 10 dunia. Namun akhirnya meloloskan 3 wakil ke final, Ganda Campuran-Ganda Putra-Tunggal Putra. Prestasi yang buat banyak orang terkejut (dan kita iri).

Chan Peng Soon-Goh Liu Ying yang pernah beringkat 3 dunia, Goh V Shem-Tan Wee Kiong, dan Lee Chong Wei, menjadi wakil Malaysia di final. Chan-Goh mengalahkan finalis London 2012, Xu Chen-Ma Jin. Goh-Tan mengalahkan Lee Yong Dae-Yoo Yoon Seong, peringkat 1 dunia di perempat final. Dan Lee Chong Wei mengalahkan musuh bebuyutannya Lin Dan di semifinal. Walau pada ujungnya tak satu pun emas yang diperoleh, Malaysia membuktikan bahwa walau kurang diperhitungkan mereka sanggup meraih banyak medali di sini.

3rd and maybee last attempt for Lee Chong Wei

Sejarah telah ditulis, Lee Chong Wei maju ke final ketiganya di Olimpiade. Di semifinal dia mengalahkan kawan sekaligus lawan terbaiknya, Lin Dan, yang selalu menjegalnya di 2 final sebelumnya.

Semifinal yang bagi banyak orang disebut final yang kepagian karena sekali lagi mempertemukan dua maestro bulutangkis. 3 gim berlangsung, Lee Chong Wei akhirnya menang setelah melalui laga seru nan menegangkan sekaligus banyak ditunggu penikmat bulutangkis sedunia.

Maju ke final memberi harapan bagi LCW (dan Malaysia) untuk raihan emas Olimpiade pertama baginya dan negaranya. Apalagi lawannya “hanya” Chen Long, si No.2 di bawah Lin Dan. Statistik tahun ini dirinya dan Chen Long juga bagus. Terakhir mereka bertemu di final Kejuaraan Asia 2016 Juni lalu, Chen Long kalah waktu itu.
Apa daya, final kali ini adalah antiklimaks bagi LCW. Pertarungan semifinal sehari sebelumnya rupanya menguras dirinya, fisik dan mental. Chen Long yang sepanjang tahun belum memenangkan satu gelar pun tampil lebih taktis dari dirinya. LCW yang unggul di awal gim pertama, kalah 18-21 dan akhirnya takluk di gim kedua 18-21. Percobaan Lee Chong Wei ketiga kalinya ini kembali berbuah perak. Percoban ketiga kali LCW dan mungkin yang terakhir di Olimpiade.

So Many Farewells

Olimpiade kali ini menjadi pilihan banyak pemain untuk mengumumkan pensiun dan menepi dari Bulutangkis Internasional. Zhao Yunlei memutuskan pensiun setelah mendapat medali perunggu di Olimpiade terakhirnya. Yu Yang juga mengucapkan terima kasih dan perpisahan setelah tak mendapat medali di sini (dan insiden di perebutan perunggu Ganda Putri). Lee Yong Dae keluar dari tim nasional Korea setelah lebih dari 14 tahun, dia juga tak mendapat medali di sini. Alasannya agar banyak pemain muda yang bisa masuk tim nasional. Yoo Yoon Seong, sang partner, juga ikut keluar. Kim Sarang dan Bae Yeon Ju juga keluar dari tim nasional Korea, kemungkinan karena seringnya cidera. Sementara dari Indonesia, Debby Susanto sudah memastikan ini adalah olimpiade terakhirnya.

Dengan perginya nama-nama lama, setelah Olimpiade kita akan melihat banyak muka-muka baru di turnamen-turnamen mendatang. Yang pasti, perbulutangkisan dunia akan semakin semarak dan semakin menarik untuk diikuti.

 

Advertisements

4 thoughts on “Catatan dari Rio (2)

  1. Era para Daddy, Om-om, dan Tante-tante akan segera berganti. Heuheu… Malaysia padahal satu angka lagi dapat emas. Ga rela sih, maunya dapat dari Datok aja dan ternyata datok juga ga dapat. Heuheu… Baru sehari ga ada pertandingan udah kangen aja.

    Btw.. Daddies emang paling menurun sih di tahun ini. Tapi kita selalu percaya Daddies selalu berjaya di turnament besar. Tapiii… Ga juga ternyata 😥

  2. Iyaaa rasanya baru kmrn mrk pemain muda, nyatanya dah mo pensiun aja. Pantasan BL jugga nambah tua haha.
    Olimpiade memang ajang para atlet buat undur diri ya.

    Btw, September yaa ada turnamen lagi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s