No Title for China in China

Kejadian yang benar-benar terjadi kemarin, China tak mendapat gelar satupun di kandang mereka sendiri. Turnamen China SSP 2016 yang diadakan di Fuzhou dan diikuti oleh hampir semua pemain terbaik negara “adidaya” Bulutangkis kemarin itu tak menyisakan 1 gelar pun buat sang tuan rumah. NIHIL.

Empat wakil mereka di partai final kalah semua. Dimulai dari ganda putri, Huang Dongping-Li Yinhui yang takluk atas ganda Korea, Lee Soo Hee-Chang Ye Na. Disusul Sun Yu di tunggal putri yang kalah atas peraih perak Olimpiade Rio, PV. Sindhu. Dan terakhir Zhang Nan dan Li Yinhui (kembali) di ganda campuran yang kandas di tangan ganda terbaik Indonesia, Tontowi Ahmad-Liliyana Natsir.

Peristiwa ini adalah catatan langka dalam sejarah bulutangkis, karena biasanya China selalu mendapatkan gelar dalam turnamen-turnamen besar, apalagi setingkat super series.

Gelar Super Series Premier Pertama Kevin-Marcus

Setelah 4 turnamen Super Series tanpa adanya wakil Indonesia di final, akhirnya kemarin ada juga. Bukan hanya 1 tapi langsung 2 ๐Ÿ˜€ , pasangan ganda putra Kevin Sanjaya-Marcus Fernaldi dan ganda campuran terbaik kita, Tontowi Ahmad-Liliyana Natsir. 

Kevin-Marcus menapaki puncak turnamen ini dengan tidak mudah. Mereka harus melalui unggulan pertama dan andalan tuan rumah di semi final dalam pertarungan rubber gim yang ketat dan bahkan sangat tertinggal jauh di gim kedua. Setelah memaksa adu setting dan menang di gim tersebut, Kevin-Marcus pun memenangkan gim terakhir dengan skor yang sangat mepet.

Bertemu jagoan “tua” Eropa,  Mathias Boe-Carsten Mogensen, di final, strategi yang dipakai pun berbeda. Pemain China terkenal akan pukulan yang cepat dan keras (speed and power), maka tipe Eropa banyak mengandalkan penempatan bola (placing) apik serta sedikit perang mental. Setelah interval gim pertama, Boe-Mogensen mampu berbalik unggul atas Kevin-Marcus. Namun, Kevin dan Marcus mampu mengambil alih kembali hingga skor sama 16-16 dan melaju hingga menang 21-18. Keunggulan Kevin-Marcus berlanjut hingga gim kedua dan bahkan sampai menyentuh skor match point, 20-16. Sempat merasa tegang, Kevin dan Marcus berbuat kesalahan hingga pasangan Denmark menyamakan angka 20-20. Alhamdulillah, mereka mampu menguasai lagi keadaan dan menutup gim ini dalam skor 22-20, pfyuhhh. (Dalam kenyataannya, nonton pertandingan ini sukses bikin jantung deg-degan dan tangan gemeteran. Sumpah tegaaang buanget!!!!)

Setelah menang di Australia Terbuka Super Series Juni lalu, mereka sempat berujar ingin meraih gelar yang lebih tinggi yaitu Super Series Premier. Dan akhirnya terwujud 5 bulan kemudian. Melihat prestasinya sejauh ini, maka pantaslah kalau mereka digadang menjadi pengganti Muh. Ahsan dan Hendra Setiawan yang telah berpisah. Harapan yang menurut saya tidak terlalu berlebihan.

Owi-Butet kandaskan Harapan China

Selain Kevin dan Marcus, Owi dan Butet juga maju ke final China Terbuka ini. Setelah meraih emas di Olimpiade Rio, mereka nyaris sibuk dengan berbagai perayaan dan wawancara. Turnamen paska Olimpiade tak beruntung dijalani, kandas di babak kedua oleh pasangan muda China.

Namun akhirnya Owi-Butet menampilkan performa terbaiknya di turnamen ini. Melalui 2 ganda Korea di perempat final dan semi final dalam pertandingan yang melelahkan (benar-benar jatuh bangun dan menegangkan!!), Owi-Butet kembali bertemu Zhang Nan di final. Hanya saja pasangannya bukan Zhao Yunlei lagi (karena sudah pensiun) melainkan pemain yang jauh lebih muda, 19 tahun  Li Yinhui.

Partai ganda campuran ditaruh di slot paling akhir, dimana sudah 3 wakil China sebelumnya gagal mendapat gelar. Zhang dan Li adalah harapan terakhir. 

Melawan mereka, Owi-Butet bermain dominan di gim pertama. Namun di gim kedua, Zhang-Li berbalik unggul. Meski Owi-Butet bisa mengejar dan meraih match point 20-19, ganda China mampu memaksakan imbang dengan skor 24-22. Situasi yang sama seperti gim pertama terjadi di gim ketiga. Owi dan Butet mampu menjaga keunggulan dan menang 21-16. Skor akhir 21-13 22-24 dan 21-16. Gelar China Terbuka kedua buat mereka setelah pertama di tahun 2013.

Kemenangan Owi dan Butet sekaligus menihilkan gelar China di rumahnya sendiri. 


Advertisements

3 thoughts on “No Title for China in China

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s