Akhirnya menang di Istora, Owi!

Turnamen bulutangkis terbesar dan terheboh telah berakhir awal Juli ini, Indonesia Terbuka 2018. Digelar kembali di Istora Senayan, Indonesia Terbuka tahun ini menyajikan gelaran pertandingan-pertandingan seru dari ratusan pebulutangkis dari berbagai negara.

Tahun ini sebenarnya target Indonesia hanya 2 gelar, Kevin Sanjaya dan Marcus Gideon diharapkan menjadi penyumbang gelar dari sektor andalan Ganda Putra. Namun rupanya tahun ini Indonesia Terbuka ramah dengan pemain Indonesia. Kita kebagian gelar juga di Ganda Campuran lewat Tontowi Ahmad – Liliyana Natsir.

Owi dan Butet juga juara tahun lalu. Perbedaannya, tahun 2017 turnamen ini digelar di JCC Senayan sebab Istora sedang direnovasi persiapan buat Asian Games 2018.

Bicara tentang Istora dan Owi Butet seperti mengutak-atik misteri yang sulit dipecahkan. Pasangan yang sudah Juara Olimpiade, Juara Dunia 2 kali, All England 3 kali dan Super Series berkali-kali itu sangat sulit juara di Istora. Mereka sudah masuk final 3 kali di sana, dan ke-tiga tiganya tidak ada yang berhasil jadi juara.

Pemain Indonesia yang paling sukses di Indonesia Terbuka (dan Istora tentunya, secara kebanyakan dimainkan di sana) adalah Taufik Hidayat. Selebihnya pemain kita memang sulit menang apalagi sejak berubah status menjadi turnamen Super Series. Tapi Owi-Butet adalah salah satu pemain top kita yang paling konsisten selama bertahun-tahun semenjak berpasangan tahun 2011 dan kesulitan meraih gelar di Istora menjadi sulit buat dijelaskan.

2018

Tahun ini adalah tahun yang spesial buat Owi dan Butet karena tahun ini adalah tahun terakhir buat Butet. Butet sudah menyatakan kalau dia akan pensiun di 2019. Tahun ini target gelar yang belum pernah didapat Butet, yaitu emas Asian Games, ingin diraihnya bersama Owi.

Indonesia Terbuka tahun ini juga menjadi yang terakhir buat Butet. Meski sudah mengoleksi beberapa gelar di sini, tapi belum satu pun bersama Owi.

Sumber: olahraga.kompas.com

Namun takdir rupanya berpihak pada Owi-Butet tahun ini di Istora. Istora yang berisik, “angker” dan punya arah angin yang tak bisa diprediksi itu akhirnya ramah terhadap Owi dan Butet. Mereka juara setelah mengalahkan lawan yang sama dengan final Olimpiade Rio, Chang Peng Soon-Goh Liu Ying, 2 gim langsung. Sementara perjalanan mereka ke final cukup mulus, selalu selesai dalam 2 gim.

Modal yang bagus buat pasangan ini untuk menuju Asian Games Jakarta bulan depan, menambah kepercayaan diri bisa menang di Istora yang juga akan jadi lokasi cabang olahraga Bulutangkis digelar.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s