Berbuka dengan yang Manis?

Ungkapan “Berbukalah dengan yang manis” begitu akrab di telinga,apalagi di bulan Ramadhan ini. Banyak yang menganggap itu adalah sunnah Nabi, padahal jauh sekali.

Tuntunan Nabi dalam berbuka seperti dalam hadist berikut, “Biasanya Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam berbuka puasa dengan ruthab sebelum shalat (Maghrib) Jika tidak ada ruthab (kurma muda)  maka dengan tamr (kurma matang), jika tidak ada tamr maka beliau meneguk beberapa teguk air ” (HR. Abu Daud 2356, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Sunan AbitDaud). Jadi, yang disunnahkan adalah kurma, jika tidak ada kurma maka boleh dengan air saja.

Apa makanan manis bisa di-qiyaskan dengan kurma? Ternyata tidak, sebabnya karena kurma memiliki kerberkahan yang tak dimiliki makanan manis lain. Makanan manis, sebaik apapun manfaatnya bagi tubuh (dalam hal menaikkan energitsetelah berpuasa dengan cepat) tidak bisa menggantikan keberkahan kurma sebagai makanan berbuka.

Wallahu a’lam.

#sumber muslimah.or.id/ramadhan/­hadits-berbukalah-dengan-yang-manis.html

REPOST

Greysia-Apriani Juara di Turnamen Debutnya-Thailand Terbuka GPG 2017

Indonesia bisa dibilang gagal total di Piala Sudirman tahun ini. Target juara tapi nyatanya kita harus tersisih di fase grup, kalah dari India-negara yang sempat kita anggap mudah buat ditaklukkan.

Dalam penyisihan grup melawan Denmark, di partai terakhir dan penentuan, Indonesia menurunkan pasangan baru. Kombinasi senior dan junior, Greysia Polii dan Apriani Rahayu. Apriani (19 tahun) yang tahun lalu masih turun di Kejuaraan Dunia Junior, tampil mengesankan. Meski kalah 3 gim oleh Christina Pedersen-Kamilla Rytter Juhl, penampilan peraih medali perunggu Ganda Campuran Asia Junior Championship 2016 itu dirasa menjanjikan. Ganda ini kemudian turun di turnamen perseorangan pertamanya,   Thailand Terbuka GPG 2017.  Tak mengejutkan, mereka berhasil menembus final turnamen yang sudah ada sejak 1984 itu. 

Mengalahkan pasangan Thailand, Chayanit Chaladchalam-Phataimas Muenwong dengan skor cantik 21-12 21-12, Greysia-Apriani menampilkan permainan agresif. Pertahanan yang solid serta serangan yang konsisten serta mematikan ditampilkan oleh pasangan kita. Meskipun beberapa kalah Apriani melakukan kesalahan, namun dengan bimbingan Greysia, dia mampu memperbaiki dan kembali konsisten dalam pertahanan dan serangan. Gelar ini sekaligus gelar pertama tahun ini ganda putri Indonesia di tingkatan GPG.

Selain gelar ganda putri, Indonesia juga mendapat gelar di ganda putra lewat Berry Anggriawan-Hardianto. Serta runner up tunggal putra oleh Jonatan Christie.

Greysia dan Apriani akan kembali berpasangan di Indonesia Terbuka Super Series Premier (SSP) 2017 yang akan berlangsung minggu depan di JCC Senayan Jakarta. 

Telat

Hari ini tidak sahur, bangun-bangun udah jam 5 subuh. Langsung ngadu ke Mama kenapa ga bangunin sahur. Mama bilang, kirain saya ga mau puasa. Weker udah bunyi kencang banget, sayanya gak bangun-bangun juga.

Oh iya, saya setel weker 3 biji. 2 hape, 1 pakai weker asli. Qadarullah, gak ada yang kedengaran pada waktu sahur. Padahal yang weker asli itu bunyinya lumayan kenceng sekali.

Kesalahan saya adalah terlalu bergantung alat, padahal yang punya kuasa hanyalah Allah. Lupa berdoa kepada-Nya agar dibangunkan saat sahur. 

Jadi, hari ini hanya bisa berdoa supaya bisa kuat sampai Maghrib nanti, aamiin. 

Tanpa Lee Yong Dae, Korea Juara Piala Sudirman

China kembali kehilangan piala berharganya setelah tahun lalu gagal di Piala Thomas. Kali ini di Piala Sudirman dengan status sangat diunggulkan di awal turnamen, China kalah secara dramatis 3-2 dari Korea Selatan (Korea).

Semula, sama seperti kebanyakan prediksi, saya beranggapan China akan unggul dari Korea di final ini. Tahun lalu saat berhadapan dengan Korea di Final Piala Uber, China menang mudah 3-1 meski kehilangan satu nomor di partai ganda putri. Tahun ini, dengan format beregu campuran-nya, China tetap jadi unggulan karena kekuatannya yang merata di semua nomor.

Sementara Korea dianggap sebagai tim yang paling lemah di antara tim unggulan. Ditinggalkan para bintangnya, seperti Lee Yong Dae dan Yoo Yeon Seong, Ko Sung Hyun dan Shin Baek Cheol, serta Kim Gi Jung dan Kim Sa Rang, banyak yang menyangsikan Korea bisa bertahan sampai babak penyisihan. Namun semua prediksi buyar saat Korea melaju ke semifinal setelah menundukkan Taiwan yang sempat mengalahan mereka di babak penyisihan grup. Tanpa bintang ganda putra, mereka mempercayakan Seo Seung Jae, pemain mudanya untuk bermain. Pemain yang bahkan lebih sering bermain tunggal di turnamen reguler.

China ke final Sudirman dengan melalui pertarungan melawan Jepang di semifinal. Pertarungan yang tak kalah sulitnya hingga harus melalui lima partai. China menang 3-2 setelah ganda Jepang yang juga nomor 1 dunia, Misaki Matsutomo-Ayaka Takahashi takluk dari Chen Qin Chen-Jia Yifan. Sedangkan Korea ke final setelah menang atas Thailand 3-1.

Di final yang berlangsung di kota Goldcoast, Australia, partai pertama China unggul lewat pasangan peraih emas Olimpiade Rio Fu Haifeng-Zhang Nan. Tanpa kesulitan mereka berhasil mengatasi pasangan muda Seo Seung Jae-Choi Sol Gyu. Namun di partai selanjutnya, Korea menyamakan kedudukan 1-1. Sung Ji Hyun menang atas He Bingjiao dua set langsung. Di partai tunggal putra berikutnya, China menurunkan pemain terbaiknya dan juga peraih emas Olimpiade Rio, Chen Long, sementara Korea dengan pemain mudanya Jeon Hyeok Jin. Kalah kelas, Jeon menyerah dua set langsung. China unggul 2-1.

Hanya membutuhkan 1 partai lagi, China menurunkan ganda putri terbaiknya, psangan yang juga diturunkan saat semifinal, Chen Qing Chen-Jia Yifan. Melawan Juara All England tahun ini, Chang Ye Na- Lee Seo Hee, China sepertinya yakin akan bisa merebut nomor ini. Rekor pertemuan sebelumnya 6-0 buat Chen-Jia atas Chang-Lee menjadi modal prediksi ini.

Tapi, pertandingan berlangsung di lapangan bukannya di atas kertas. Dengan meyakinkan, Chang dan Lee “membabat” Chen dan Jia dalam 2 gim langsung. Pertandingan pun harus diperpanjang sampai partai ke-5.

Partai penentuan, ganda campuran, China kembali menurunkan pemain terbaiknya. Huang Yaqiong dan Lu Kai yang sudah menjuarai All England dan beberapa gelar bergengsi tahun ini bertemu dengan Chae Yoo Jung-Choi Sol Gyu. Pertandingan berlangsung alot di gim pertama, susul-menyusul poin terjadi. Namun ganda Korea lebih tenang, mereka mampu menutup gim pertama 21-17. China mulai cemas, kehilangan gim kedua berarti kehilangan Piala Sudirman, piala yang sudah sejak 2005 bersama mereka.

Chae dan Choi makin bersemangat di gim kedua, kepercayaan diri mereka semakin berlipat-lipat. Sementara Huang dan Lu semakin sering membuat kesalahan. Aura juara tak nampak, yang terlihat hanya wajah-wajah kebingungan. Pertandingan berakhir di angka 21-13 bagi keunggulan Chae-Choi sekaligus memastikan gelar Juara Piala Sudirman untuk Korea setelah 14 tahun lalu juga juara di Eindhoven, Belanda.

Menurut saya kunci kemenangan Korea kali ini adalah kekompakkan. Dengan materi yang lumayan walau timpang di ganda putra, kekuatan mereka juga merata. Pemain tunggal mereka bukan pemain sembarangan, ganda putri pun bukan asal-asalan. Ganda campuran walau bukan 10 besar dunia namun sangat solid. Sementara di ganda putra, meski tanpa pemain bintang, tradisi ganda putra Korea tak bisa diremehkan. Kepercayaan kepada pemain mudanya juga tak main-main. Choi Sol Gyu yang baru 21 tahun menjadi motor di dua nomor sekaligus, ganda campuran dan ganda putra. Sedangkan China semakin rapuh di sektor putri. Tunggal dan ganda putri yang dulu selalu pasti menyumbang angka kini tak bisa berbicara banyak.

Jika berbicara Tim Korea Selatan maka tak akan bisa lepas dari Lee Yong Dae. Namun kali ini Korea tanpa Lee Yong Dae yang telah mengundurkan diri dari tim nasional selepas Olimpiade Rio. Meski tanpa sang bintang tenar, Korea berhasil juara Piala Sudirman. Bukti kalau semangat tim dan kekompakkan terkadang lebih punya peran dibanding nama besar.

Dengan kemenangan Korea di Sudirman kali ini, dan Denmark tahun lalu dengan Piala Thomas, bisa dipastikan peta persaingan bulutangkis dunia akan semakin menarik dan berwarna ke depannya.

(Soal Indonesia akan saya tulis kemudian…)

Berlebihan

Kue lapis, kolak, es buah dan gorengan tersaji di atas meja. Ini mungkin adalah pemandangan yang “wajar” selama bulan puasa. Berbagai makanan aneka macam menjadi menu berbuka puasa baik yang dibuat sendiri ataupun yang dibeli. Mumpung penjual makanan lagi ramai-ramainya.

Saat sedang berpuasa, terkadang sering terlintas keinginan mau makan apa di saat berbuka. Apalagi jika bertemu penjual makanan kaki lima yang banyak berjamuran di bulan ini, nafsu berbelanja makanan pun jadi tak terkendali. 

Ke pasar pun juga, para Ibu-ibu bersemangat untuk membeli banyak macam bahan makanan khas Ramadhan. Entah karena permintaan anak dan suami, atau karena pengaruh resep yang semakin gencar di medsos.

Tanpa sadar, di bulan ini konsumsi kita pun bertambah bahkan berlipat-lipat. Belum lagi belanja buat Lebaran nanti. Bukannya menahan nafsu, kita malah memperturutkan nafsu. Bukannya makan yang seharusnya berkurang dari 3 kali jadi 2 saja, ini malah seperti makan 4 kali sehari. Padahal yang bisa masuk ke perut hanya sedikit. 

Mungkin konsumsi kita yang berlebihan itu bisa kita “arahkan” buat memberi kepada yang lain. Bagi mereka yang membutuhkan dan yang sedang berpuasa juga. Karena kalau tak salah, memberi makan orang yang sedang beruasa pahalanya sama dengan pahala orang yang berpuasa. Wallahu a’lam.

Hari ke-3 Ramadhan, selamat berbuka puasa. 

(Catatan buat diri saya juga, berlebihan itu tak baik. Hindari.)