Semifinalis & Finalis, Ahsan dan Hendra di Awal Tahun 2020

Tahun 2019 lalu adalah tahun yang gemilang buat Ahsan dan Hendra. Beberapa gelar bergengsi dan didapatkan dari puluhan final yang mereka berhasil ditapaki. Pencapaian nomor 2 di rangking ganda putra BWF dan juga kualifikasi Race to Tokyo menjadi bukti kecemerlangan mereka tahun lalu.

Namun, bukan berarti mereka bisa bersantai di awal tahun ini sebab berbagai kejuaraan sudah menunggu. Di pekan kedua Januari, Malaysia Masters akan berlangsung di Kuala Lumpur-Malaysia. Pekan selanjutnya ada kejuaraan Indonesia Masters yang diadakan di Jakarta.

Malaysia Masters tahun lalu Ahsan dan Hendra harus terhenti di babak kedua. Tahun ini, mereka berharap untuk lebih baik dari sebelumnya. Babak pertama, mereka bertemu dengan pasangan senior dan junior asal China, Zhang Nan-Ou Xuanyi. Walau berlangsung ketat, mereka pun bisa menang dalam 2 gim, 21-19 24-22. Tantangan berat berikutnya mereka hadapi di perempat final. Bertemu dengan unggulan ketujuh dari Taiwan, Lee Yang-Wang Chilin, pertandingan berlangsung hingga gim ketiga. Tertinggal di gim pertama, Ahsan-Hendra membalasnya di dua gim berikutnya. The Daddies menang dengan skor 20-22 21-18 21-19. Melaju ke seminal, mereka kemudian berhadapan dengan Duo Menara, Li Junhui-Liu Yuchen.

Terakhir bertemu dengan Li dan Liu di semifinal Hongkong Terbuka November tahun lalu. Saat itu mereka menang dalam 3 gim. Melawan ganda kuat China ini pasti selaluberlangsung seru. Begitu pula kali ini. Ahsan dan Hendra tertinggal di gim pertama, namun bangkit di gim kedua. Di gim penentuan, setelah terjadi tiga kali setting, mereka kalah 22-24. Gagal ke final, mereka langsung pulang ke tanah air untuk bersiap-siap bermain di Indonesia Masters.

Babak pertama dan kedua di Jakarta, mereka belum bertemu dengan hadangan yang berarti. Barulah di perempat final, mereka bertemu dengan lawan yang tangguh. Lawan yang sama mereka hadapi di perempat final pekan sebelumnya, Lee Yang-Wang Chilin dari Taiwan. Bermain dalam tiga gim, Ahsan-Hendra berhasil kembali mengalahkan Lee-Wang, 9-21 21-15 21-19, sekaligus mencapai semifinal Indonesia Masters tahun 2020-semifinal mereka yang kedua tahun ini.

Fajar Alfian-Muh. Rian Ardianto menjadi penantang mereka di semifinal. Meski berstatus junior dari The Daddies, Fajar dan Rian adalah pasangan elit Indonesia dengan peringkat BWF 5 dunia dan menjadi salah satu kandidat peraih tiket Olimpiade dari nomor Ganda Putra. Telah bertemu dua kali di turnamen resmi BWF dan tak terhitung jumlahnya di pelatnas, mereka telah paham kelebihan dan kelemahan satu sama lain.

Ahsan-Hendra bermain apik di gim pertama yang membuat Fajar-Rian tidak mampu mengembangkan permainan. Memasuki gim kedua, bermain menyerang membuat Fajar dan Rian mampu merebut gim. Pertarungan pun berlanjut ke gim ketiga. 12-21 21-17 21-18 adalah skor akhir bagi Ahsan-Hendra dan mereka pun melenggang ke final untuk tahun kedua secara berturut-turut.

Pasangan terkuat di Indonesia sudah menunggu Daddies di final, Kevin Sanjaya Sukamuljo-Marcus Fernaldi Gideon aka Minions. Telah bertemu 12 kali dengan terakhir terjadi di final Denmark Terbuka tahun lalu, Ahsan dan Hendra terakhir menang melawan Minions di tahun 2016 pada turnamen Malaysia Terbuka.

Ahsan-Hendra mampu memimpin di awal-awal pertandingan, walaupun sempat susul-menyusul angka dengan Kevin-Marcus hingga masih memimpin sebelum jeda, 11-10. Gempuran serangan dari Kevin dan Marcus serta banyaknya kesalahan sendiri yang dilakukan Ahsan dan Hendra membuat mereka kalah 15-21 di gim pertama. Permainan cepat ditampilkan Kevin-Marcus di gim kedua.  Ahsan-Hendra merespons dengan mencoba memperlambat tempo, namun Minions tetap melaju hingga mereka tertinggal 3-11. Lepas interval, Ahsan dan Hendra perlahan menyusul skor Kevin-Marcus menjadi 11-13.  Sempat berselisih hanya satu angka, 16-17, sayangnya poin Ahsan dan Hendra tidak bertambah hingga akhir gim. Gim kedua ini berakhir 16-21 bagi kemenangan Kevin dan Marcus sekaligus mengantarkan gelar pertama mereka di 2020. Sementara bagi Ahsan dan Hendra, final ini adalah final pertama di tahun ini dari dua turnamen.

Poin mereka dalam Race to Tokyo-Kualifikasi Olimpiade BWF kini mencapai 94.087 dari 15 turnamen yang diikuti. Menjadi semifinalis dan finalis di dua turnamen pertama adalah raihan penting buat Ahsan dan Hendra sebelum menjalani 4 atau 5 turnamen lagi sampai akhir pengumpulan poin Olimpiade di akhir bulan April nanti. Menjadi juara di tiap turnamen mungkin penting, namun yang lebih penting (menurut saya) adalah strategi pemilihan turnamen serta konsistensi di setiap turnamen yang diikuti agar fokus dan kebugaran mereka terjaga.

Ahsan dan Hendra dalam pekan ini bermain bersama Tim Putra Indonesia di Kejuaran Beregu Asia di Filipina. Dua tahun lalu saat digelar di Malaysia, Indonesia meraih juara di sektor Beregu Putra. Tahun ini gelar yang sama diharapkan diraih Indonesia kembali.

 

Catatan Akhir Tahun Ahsan-Hendra

Tahun 2019 akan berakhir di depan mata, insya Allah, yang berarti turnamen bulutangkis harus rehat sejenak sebelum dimulai lagi pada Januari tahun depan. Berbagai raihan prestasi ditorehkan para pemain dunia selama 2019, begitu juga para pemain Indonesia yang turut menyumbang beberapa capaian di pentas Bulutangkis dunia.

Tercatat Ganda Putra nomor 1 BWF Marcus Fernaldi Gideon dan Kevin Sanjaya Sukamuljo mencapai rekor 118 minggu sebagai pemegang rangking tertinggi itu, melampaui rekor Lee Yong Dae-Yoo Yoon Seong asal Korea Selatan ( 117 minggu). Selain itu, mereka memperoleh 8 gelar BWF World Tour dari 9 final yang dilalui dengan hanya kalah dari Yuta Watanabe-Hiroyuki Endo di Kejuaran Asia. Jumlah gelar mereka ini menyamai capaian gelar BWF World Tour tahun lalu. Praveen Jordan dan Melati Daeva Oktavianti tahun ini juga berhasil meraih gelar pertamanya di Denmark Terbuka serta Perancis Terbuka di pekan selanjutnya. Jonatan Christie adalah satu-satunya tunggal putra Indonesia yang berhasil meraih gelar di BWF World Tour, sebanyak 2 gelar. Sementara Ganda Putri dan Tunggal Putri hanya mampu mendapatkan 1 gelar saja, yaitu di Thailand Masters (Fitriani) dan India Terbuka (Greysia Polii-Apriyani Rahayu). Meski Indonesia hanya berhasil meraih medali Perunggu di Piala Sudirman, namun kita berhasil mempertahankan medali Emas Beregu Putra dan dan meraih medali Perak Beregu Putri di SEA Games Filipina. Tidak lupa juga buat prestasi membanggakan para junior yang berhasil merebut Piala Suhandinata (sektor beregu campuran) untuk kali pertama di Kejuaraan Dunia Junior 2019.

Indonesia paling banyak disorot tahun ini dari sektor ganda putra. Sebanyak 5 kali final sesama pasangan Indonesia terjadi di turnamen BWF World Tour 2019, dan partai final tersebut selalu menampilkan 2 pasangan yang sama: Kevin Sanjaya-Marcus F. Gideon vs Moh. Ahsan – Hendra Setiawan, atau The Minions vs The Daddies. Dimulai pada Indonesia Masters di Januari, lalu 6 bulan kemudian pada Indonesia Terbuka. Akhir Juli 2019 di Jepang Terbuka, kemudian September di China Terbuka dan pada bulan Oktober di turnamen Denmark Terbuka. Meski semua pertemuan tersebut berakhir dengan kemenangan Minions, tapi hampir bisa dikatakan kalau Ganda Putra Indonesia mendominasi pergelaran BWF World Tour tahun ini.

Hendra Setiawan dan Moh. Ahsan sendiri memulai awal tahun di turnamen Malaysia Masters dengan peringkat 8 BWF dan mengakhiri tahun 2019 di BWF World Tour Finals dengan peringkat 2 BWF. Di turnamen pertamanya itu, Ahsan-Hendra terhenti babak kedua dari Goh V Shem-Tan Wee Kiong asal Malaysia. Selanjutnya mereka ikut dalam 16 turnamen BWF World Tour, Piala Sudirman, Kejuaraan Asia dan Kejuaraan Dunia. Mereka akhirnya masuk final sebanyak 11 kali dengan rincian 10 final BWF World Tour dan 1 final Kejuaraan Dunia.

Tahun ini Ahsan dan Hendra memulai lembaran baru sebagai pemain profesional di luar pelatnas. Dengan alasan ingin memberikan kesempatan buat pemain yang lebih muda walaupun keduanya tak sepenuhnya lepas dari pelatnas karena masih berlatih di Pelatnas Cipayung dan di bawah bimbingan tim pelatih ganda putra-Herry Ip dan Aryono Miranat.

Dari 11 kali final yang dilakoi Ahsan dan Hendra, 4 di antaranya berbuah gelar. Gelar pertama direbut di Selandia Baru Terbuka Super 300 yang merupakan turnamen pembuka perburuan poin ke Olimpiade Tokyo. All England jadi gelar kedua di tahun ini, mereka raih di bulan Maret. Lalu di Kejuaran Dunia yang digelar di Bassel, Swiss, Moh Ahsan dan Hendra Setiawan berhasil jadi juara dunia untuk ketiga kalinya setelah mengalahkan ganda Jepang, Takuro Hoki-Yugo Kobayashi 25-23 9-21 21-15 dalam 1 jam 04 menit. Gelar terakhir, BWF World Tour Finals sekaligus menjadi gelar penutup tahun buat mereka, didapatkan setelah mengalahkan ganda kuat asal Jepang, Yuta Watanabe-Hiroyuki Endo dalam 2 gim langsung 24-22 21-19.

Raihan 4 gelar dalam setahun mungkin terbilang tidak banyak, namun level beberapa gelar turnamen yang dimenangkan sangatlah tinggi. Gelar All England, Juara Dunia dan Juara BWF World Tour Finals yang mereka raih di tahun ini membuahkan rekor tersendiri bagi The Daddies karena berhasil mengumpulkan 3 gelar prestisius dalam 1 tahun. Selain itu juga, 11 final yang mereka capai dari 20 turnamen berarti lebih dari separuh keseluruhan turnamen sepanjang tahun mereka berakhir di babak puncak.

Capaian prestasi tersebut juga turut menghantarkan Ahsan dan Hendra ke posisi 2 pengumpulan poin untuk Olimpiade Tokyo, BWF Race to Tokyo, dengan poin 92.337 di bawah Kevin dan Marcus. Olimpiade Tokyo 2020 adalah alasan mereka kembali berpasangan di awal tahun lalu, namun capaian tahun ini adalah sesuatu yang luar biasa bagi Ahsan-Hendra. Hasil yang luar biasa namun semua diraih berkat kerja keras dan konsistensi mereka selama setahun. Kerja keras yang tak akan mereka tinggalkan sebab harus segera bersiap untuk turnamen terdekat di Januari tahun depan. Bersiap-siap demi impian dan kesempatan ke Olimpiade sekali lagi sebagai pasangan.

Gelar Manis Penghujung Tahun buat Ahsan-Hendra

Moh. Ahsan dan Hendra Setiawan berangkat ke Guangzhou-China dengan target sederhana, mereka hanya ingin lolos dari penyisihan grup atau mencapai semifinal di BWF Worl Tour Finals tahun ini. Berkaca dari hasil tahun lalu yang cukup buruk, mereka tak ingin muluk-muluk kali ini.

Berada di grup B bersama 2 pasangan asal Taiwan dan 1 dari Malaysia, Ahsan-Hendra akhirnya memenuhi target awal mereka, lolos dengan status juara kedua di bawah Lee Yang-Wang Chi lin dari Taiwan. Mereka hanya kalah dari 1 kali dari sang juara grup tersebut di hari terakhir penyisihan, Jumat (13/12). Penentuan pertemuan semifinal tidak otomatis, melainkan lewat pengundian. Setelah dikocok ulang, besoknya mereka harus bertemu kembali dengan ganda Taiwan tersebut di semifinal.

Berbeda dengan saat penyisihan hari terakhir ketika mereka sudah pasti lolos, semifinal adalah partai yang harus mereka menangkan jika ingin maju ke tahap selanjutnya, partai Final. Lee dan Yang rupanya berada dalam kondisi antiklimaks dibanding saat penyisihan. Tak bisa berkembang, mereka kalah 2 gim langsung dari Ahsan dan Hendra. 18-21 18-21. Ahsan-Hendra pun maju ke babak Final dan akan berhadapan dengan Hiroyuki Endo dan Yuta Watanabe yang berhasil mengandaskan Minions aka Kevin Sanjaya-Marcus F. Gideon dan menggagalkan terjadinya final sesama ganda putra Indonesia.

Final BWF World Tour kali ini adalah final ketiga Ahsan-Hendra di turnamen akhir tahun. Mereka sudah pernah ke final di tahun 2013 dan 2015 saat masih bernama BWF Super Series Finals, di mana keduanya mereka menjadi juara. Fakta menariknya adalah mereka selalu ke final di tahun yang sama menjadi Juara Dunia. Final 2013 di Malaysia, mereka menjadi juara setelah mengalahkan ganda Korea Kim Gi Jung-Kim Sa Rang, sementara di 2015 mereka mengalahkan Chai Biao-Hong Wei dari China.

Endo-Watanabe telah bertemu dengan Ahsan-Hendra 4 kali di tahun ini, semuanya dimenangkan oleh Ahsan dan Hendra. Pertemuan terakhir terjadi di perempat final Denmark Terbuka Oktober lalu. Meskipun begitu, Yuta Watanabe dan Hiroyuki Endo adalah pasangan dengan kemampuan bertahan (defence) yang sangat andal dan sangat gigih mengejar bola/shuttlecock. Selain itu juga Watanabe bermain dengan pegangan tangan kiri dan juga handal bermain di ganda campuran. Jadi, tidak mudah untuk mengalahkan mereka.

Pertemuan kali ini pun tak mudah, apalagi di turnamen akhir tahun BWF World Tour Finals yang menjadi impian banyak pemain dunia (karena poin turnamen dan hadiah yang sangat banyak). Apalagi Watanabe dan Endo yang tampil semakin percaya diri usai mengalahkan The Minions-ganda putra terbaik dunia saat ini- di semi final.

Partai Ahsan-Hendra vs Endo-Watanabe terjadi di bagian terakhir partai puncak BWF World Tour Finals 2019. Awal permainan di gim pertama, Ahsan dan Hendra unggul dengan cepat dengan mengandalkan pukulan-pukulan pendek setelah servis, 11-8. Namun, setelah interval Endo dan Watanabe berhasil mengejar bahkan unggul 15-14. Mengandalkan reli-reli panjang, Endo dan Watanabe memimpin 19-17. Namun dengan sabar, Ahsan dan Hendra bisa menyusul dan kemudian mencapai game-point duluan, 20-18. Reli-reli fantastis lalu tersaji dalam perebutan poin berikutnya. Berkali-kali setting terjadi, Ahsan-Hendra kembali mendapat game-point dalam kedudukan 23-22. Setelah servisnya dinyatakan fault oleh hakim servis, Hendra mengajukan challenge (permintaan peninjauan). Hanya berjarak beberapa milimeter di dalam garis, servis Hendra dinyatakan masuk (in) dan poin untuk Ahsan dan Hendra, mereka akhirnya memenangkan gim pertama ini, 24-22.

Gim kedua berlangsung ketat. Endo-Watanabe melaju 11-7 di paruh pertama gim ini. Kesalahan-kesalahan sendiri Ahsan dan Hendra membuat pasangan Jepang tersebut unggul hingga 6 angka, 16-10. Namun, kembali Ahsan dan Hendra tidak menyerah begitu saja, perlahan-lahan mereka menyusul perolehan angka ganda Jepang tersebut hingga posisi 18 sama. Endo-Watanabe yang kini tertekan membuat beberapa kesalahan, hingga pasangan kita akhirnya unggul 20-18, yang juga berarti match-point (satu poin sebelum poin terakhir) buat pasangan Indonesia. Pasangan Jepang menambah satu poin lagi, sebelum ditutup oleh serangan Ahsan yang tidak bisa dikembalikan Hiroyuki Endo. Ahsan dan Hendra akhirnya menang 21-19, dan mereka menjadi merebut gelar juara ganda putra BWF World Tour Finals 2019-gelar ketiga mereka di turnamen ini.

Gelar juara kali ini menjadi gelar yang manis buat Ahsan dan Hendra karena seperti menjadi simpulan perjalanan mereka tahun ini. 11 kali  ke final dan 4 gelar di mana 3 di antaranya adalah gelar-gelar bergengsi: Juara Dunia, Juara All England dan Juara BWF World Tour Finals. Meski 7 final lainnya berakhir sebagai juara kedua, konsistensi mereka tahun ini sangat mengesankan dalam usia yang tidak bisa dibilang muda lagi.

Dalam wawancaranya, Ahsan mengatakan bahwa gelar ini adalah gelar yang ajaib, karena mereka datang tanpa ekspektasi tinggi di turnamen ini. Sementara Hendra menjawab bahwa setelah turnamen ini yang penting karena mereka harus bersiap untuk tahun depan-tahun olimpiade. Yang pasti, pasangan Ahsan-Hendra akan menjadi salah satu ganda putra Indonesia yang berkontestasi untuk menjadi peserta di Olimpiade Tokyo melalui kualifikasi yang sekarang sedang berlangsung (Race to Tokyo), dan gelar akhir tahun ini menjadi salah satu penambah semangat mereka dalam meraih tiket ke sana.

Emas (lagi) untuk Beregu Putra dan Perak buat Beregu Putri: SEA GAMES Edition

Indonesia adalah salah satu negara kuat di Bulutangkis, apalagi di kawasan Asia Tenggara. di perhelatan SEA Games lalu, 2017 di Malaysia, Indonesia memperoleh 2 medali emas dari nomor tunggal putra dan beregu putra. Sementara di edisi 2015, kita memperoleh 3 emas, masing-masing dari ganda putra, ganda campuran dan beregu putra.

Tahun ini, SEA Games digelar di Filipina. Indonesia kembali menurunkan pemain terbaik untuk berlaga. Tim Beregu Putra diisi oleh Jonatan Christie, Anthony Sinisuka Ginting, Shesar Hiren Rhustavito, Firman Abdul Kholik, Fajar Alfian, Muhammad Rian Ardianto, Wahyu Nayaka, Ade Yusuf Santoso, Praveen Jordan, dan Rinov Rivaldy. Sedangkan tim beregu putri diperkuat oleh Gregoria Mariska Tunjung, Fitriani, Ruselli Hartawan, Greysia Polii, Apriani Rahayu, Ni Ketut Mahadewi Istarani, Siti Fadia Silva Ramadhanti, Ribka Sugiarto, Melati Daeva Oktavianti, dan Pitha Haningtyas Mentari.

Nama Anthony Sinisuka Ginting adalah nama yang sebenarnya tidak ada di susunan awal. Hanya saja, setelah perhitungan poin untuk BWF World Tour Finals berakhir di Hongkong Terbuka 2019 November lalu, Ginting akhirnya dimasukkan juga karena sudah memastikan lolos ke sana bersama Jonatan Christie. Dengan tambahan Ginting, PBSI ingin memastikan medali emas di tangan Indonesia sebab kedua pemain tunggal terbaik Indonesia berada dalam tim.

Nomor beregu dimainkan mulai dari babak perempat final, sebab hanya ada 8 negara yang ikut termasuk tuan rumah Filipina. Saingan terkuat Indonesia adalah Malaysia dan Thailand, sebab kedua negara tersebutlah yang sering menjadi langganan emas di Bulutangkis SEA Games. Tahun 2017, Thailand menggondol 4 emas (ganda campuran, ganda putra, ganda putri dan beregu putri) sementara Malaysia berhasil meraih 1 emas (tunggal putri).

Indonesia mendapatkan bye (tidak bertanding) di beregu putra dan menghadapi Vietnam di beregu putri pada babak perempat final. Indonesia melaju hingga babak final, setelah mengalahkan lawan-lawanya baik di beregu putra maupun putri.

Babak final beregu putra dilangsungkan Rabu pagi (04/12) waktu Filipina. Indonesia berhadapan dengan Malaysia, lawan yang sama di final beregu putra SEA Games Malaysia 2017 yang lalu. Jika di 2017 kita mampu mengalahkan Malaysia dengan skor 3-0 langsung tanpa balas, maka kali ini Jonatan dkk harus kecolongan di satu partai. Jonatan tampil sebagai tunggal pertama. Melawan Lee Zii Jia, Jojo (panggilan Jonatan Christie) tidak kesulitan di gim pertama dan menang 21-9. Di gim kedua, Lee Zii Jia mampu memimpin di awal-awal gim. Keunggulan Lee tidak bertahan lama sebab Jonatan bisa balik unggul 21-17. Indonesia sementara memimpin 1-0 atas Malaysia.

Fajar Alfian-Muh. Rian Ardianto tampil di partai selanjutnya. Mereka menghadapi ganda nomor satu Malaysia, Aaron Chia-Soh Wooi Yik. Sudah pernah berhadapan beberapa kali, kedua pasangan sudah saling mengetahui kelebihan dan kelemahan masing-masing. Sayang sekali, Fajar dan Rian harus mengakui keungggulan Chia dan Soh. Mereka kalah 2 gim langsung 17-21 13-21. Kedudukan pun sama, Indonesia 1-Malaysia 1.

Tunggal kedua, Indonesia menurunkan Anthony Ginting yang berhadapan dengan Soong Joo Ven. Tertekan di gim pertama, Ginting kalah 13-21, namun dia berhasil bangkit di gim selanjutnya. Ginting menang 21-15 dan 21-18 di gim kedua dan ketiga. Ginting menang, Indonesia pun unggul 2-1 atas Malaysia dan memastikan mengulang kesuksesan 2 tahun lalu di SEA Games Malaysia-Emas untuk Beregu Putra.

Kesuksesan ini semakin mengokohkan posisi Indonesia di kawasan Asia Tenggara, dengan selalu menang di sektor beregu putra SEA Games sejak tahun 2007 (minus 2013 saat beregu tidak dipertandingkan).

Sementara, di hari sebelumnya, Selasa (03/12), Tim Putri Indonesia berhadapan dengan Thailand dalam Final Beregu Putri. Maju ke final merupakan peningkatan prestasi tim putri kita setelah di SEA Games sebelumnya hanya mampu menjajal semifinal setelah kalah dari Malaysia, 0-3. Sayangnya, Gregoria dkk belum mampu menghadapi tim kuat Thailand yang dimotori Ratchanok Intanon dkk. Mereka kalah 1-3 dan hanya mampu mengambil poin di ganda pertama (Ni Ketut Istarani-Apriyani Rahayu vs Rawinda Prajongjai-Puttita Supajirakul. Memang jika dibandingkan Tim Putra Indonesia, terakhir kali putri-putri kita memenangkan sektor beregu pada tahun 2007 atau 12 tahun yang lalu. Setelahnya, sektor ini didominasi Thailand dan Malaysia.

Ajang beregu telah berakhir, kini para pemain kita turun di sektor perseorangan. PBSI menargetkan dua emas di sini, sepertinya dari ganda putra dan ganda campuran. Semoga tercapai dan sukses buat tim Indonesia :).

 

Hasil Tur Eropa Ahsan-Hendra: Runner up Denmark Terbuka dan Babak Kedua Perancis Terbuka

Pergelaran Tur Eropa BWF World Tour 2019 berakhir semalam. Tim Indonesia hanya memilih bermain dalam turnamen Denmark Terbuka Super 750 dan Perancis Terbuka Super 750 yang berlangsung dua minggu berturut-turut (15 Oktober hingga 27 Oktober 2019) dan berhasil mendapatkan 4 gelar, masing-masing dari ganda putra dan ganda campuran. Gelar ganda putra melalui pasangan Kevin Sanjaya-Marcus Fernaldi Gideon, sementara ganda campuran dipersembahkan oleh Praveen Jordan-Melati Daeva Oktavianti.

Hendra Setiawan dan Mohammad Ahsan yang turun di kedua turnamen tersebut berada menempati unggulan kedua di bawah Kevin dan Marcus. Hasilnya, mereka memperoleh juara kedua di Denmark dan kalah pada babak kedua di Perancis.

Perjalanan Ahsan-Hendra di Denmark cukup mulus hingga perempat final. Mereka selalu menang dalam 2 gim langsung. Ujian berat baru terlihat di babak semi final saat berhadapan dengan Takeshi Kamura dan Keigo Sonoda dari Jepang. Mereka tertinggal 19-21 di gim pertama, lalu menang dengan 21-19 (mirror score!!) di gim kedua. Gim ketiga juga menjadi milik Ahsan-Hendra, 21-15. Saat semifinal ini, Ahsan terlihat mengenakan bebat di bagian betis.

Melaju ke babak puncak, Ahsan-Hendra berhadapan dengan Kevin dan Marcus kembali. Pertemuan di final ini merupakan kali kelima tahun ini dan  belum sekali pun Ahsan dan Hendra menang dari mereka.

Pertandingan malam itu (20/10) awalnya berlangsung ketat di gim pertama. Namun setelah interval, Kevin dan Marcus melaju hingga menang 21-14. Gim kedua juga berlangsung hampir mirip dengan gim  yang pertama, skor mepet di awal lalu semakin menjauh setelah istirahat. The Minions pun menang dengan skor akhir 21-14 dan 21-13 dan Ahsan-Hendra harus puas sebagai juara kedua.

Denmark Terbuka 2019 berakhir, mereka lalu menuju Paris-Perancis. Turnamen Perancis Terbuka yang  berlangsung dari hari Selasa, 22 Oktober 2019 juga diikuti hampir semua pemain top dunia. Sama dengan Denmark Terbuka, Perancis Terbuka adalah turnamen level Super 750.

Ahsan dan Hendra memulai turnamen ini dengan susah payah, Menghadapi ganda Malaysia, Ong Yew Sin-Teo Ee Yi, mereka harus melalui pertarungan dalam 3 gim, 12-21 21-19 21-19.  Pasangan kita banyak melakukan kesalahan sendiri (unforced error), terutama Ahsan yang terlihat belum terlalu pulih dari cidera betisnya. Hanya saja, karena pengalaman dan mental yang lebih unggul, pasangan Ahsan-Hendra bisa menang terutama di angka-angka kritis.

Menang di babak pertama, Ahsan dan Hendra maju  ke babak kedua dan berhadapan dengan ganda muda lainnya dari India, Satwiksairaj Rankireddy-Chirag Shetty. Ganda India ini bukan pasangan yang mudah untuk dihadapi, apalagi mereka sudah memenangkan 1 gelar tahun ini (Thailand Terbuka). Ahsan dan Hendra kalah di gim pertama, 18-21. Mereka akhirnya bisa membalas di gim kedua dengan skor kembar, 21-18. Gim ketiga, Ahsan dan Hendra tertinggal jauh dan akhirnya harus kalah 13-21. Mereka pun terhenti di babak kedua ini. Hasil tahun ini tidak berbeda dengan capaian mereka tahun lalu karena saat itu mereka juga kalah di babak kedua dari ganda Taiwan, Chen Hung Lin-Wang Chi Ling.

Hasil ini cukup menambah poin mereka dalam perburuan jatah ke Olimpiade Tokyo. Kini mereka berada di rangking kedua dalam Race To Tokyo-Kualifikasi Olimpiade  di bawah Kevin dan Marcus dengan jumlah poin 76.877 dari 10 turnamen yang masuk perhitungan poin olimpiade.

Denmark Open 2019_DAY3_HendraAhsan(Moh. Ahsan-Hendra Setiawan di Denmark Open 2019)

*sumber foto: badmintonindonesia.org