[WC3] Buku “Sedikit Tentangku dan Kendari (Lagi)”

Berkisah tentang buku.

Sudah lama writing challenge ini saya terlantarkan….

Maafkan ya ^^

Sedikit dulu cerita di balik terbitnya buku baru kami, “Sedikit tentangku dan Kendari”.

Adalah di permulaan 2013 ini, saya dan rekan saya bertekad untuk mencetak kembali buku Kendari. Berkaca dari buku yang pertama, kami ingin agar buku yang kedua ini lebih baik. Hingga awal April sebuah musibah menimpa, laptop yang berisi naskah mentah hilang. Kalut, galau campur kesal. Mau tak mau, target cetak pertengahan tahun mesti mundur.
Alhamdulillah, di tengah kekalutan ini, saya akhirnya bisa melacak draf naskah yang ternyata sempat saya simpan di imel. Pffffffuuuuuuuh, leganya bukan main.
Waktu terus berdetak, kami makin semangat. Mencari ide-ide baru, memburu cerita-cerita yang lebih segar. Bongkar pasang, ganti sampul, debat sana-sini, bahkan terkadang perang ide dan opini. Ditambah lagi, kini tambah satu kepala, seorang teman yang menyumbangkan sampul-cerita ikut terlibat lebih dalam proses pembuatan buku ini.  Pokoknya rasanya nano-nano.
Kali ini, percetakan yang kami pilih adalah yang sudah menjadi langganan saya, indiebook corner. Berbekal beberapa kali kerjasama, setelah nego beberapa kali, harga cocok, buku pun kami cetak.
Cerita belum selesai, setelah bukunya jadi dan di kirim, rupanya paketnya hanya sampai di bandara *hedeuh* aka port to port. Padahal saya sudah wanti-wanti agar dikirim langsung ke rumah (door to door). Eniwei, meski harus keluar biaya ekstra, akhirnya bukunya sampai juga dengan selamat. Legaaaaaaaaa. Perjuangan lebih setengah tahun akhirnya ada hasilnya.

***

Sekarang tentang bukunya,

kover

Bagi yang pertama melihat buku ini mungkin akan mengira ini buku komik, bukan kumcer, hehe. Yah, konsep sampulnya memang sangat kartun, bahkan isi dalamnya beberapa dihiasi kartun. Nuansa cerah ceria menjadi tema buku memang, beda dengan yang buku yang lama yang agak sedikit “gloomy” atau sendu.

Selain mengganti sampul, cerita di dalamnya juga beberapa diganti. Ada tambahan empat cerita dan dua penulis baru.

Buku yang bercerita tentang kota saya, my beloved Kendari, apalagi yang “nyantai” kayak ini masih jarang (atau bahkan ini mungkin buku pertama). Kendari memang bukan kota yang terkenal-terkenal amat, namun untuk kami-penghuninya, kota ini yang paling oke.

My personal opinion ’bout this book? Hmm, so..so. Masih ada banyak yang belum sempurna. Tapi, untuk ukuran buku sendiri, yang kebanyakan dikerjakan sendiri, for me it’s a great achievement. Really.

 

————–

Judul: Sedikit Tentangku dan Kendari (Lagi)
Penyusun: Mudhalifana Haruddin & Ayu Aga
Desain Cover: Bobby Joediaf
Harga: 40.000 (diluar ongkir)
Tebal: viii + 117 halaman

Penerbit: Audisi Menulis Kendari

(dicetak oleh indiebook)

Kontributor:
Mudhalifana Haruddin, Chaerul Sabara, Atyra Sansa, Ely Widyawati, Desi Dian Yustisia, Hana Yusida Syarif, Tatik Bahar, Itsuki Nurmani, Raya Adawiyah, Ummu Shavana, , Andie Dodiet Fauzzie, Januar Lestari,, Nurusyainie, Ayu Aga, Jois Rani Udin, Bobby Joediaf.

Penulis Tamu:
Arham Kendari

Sinopsis

Sedikit tentangku dan Kendari datang lagi! Kali ini dengan kemasan yang lebih segar. Semua kisah tentang Kendari ada di sini. Dari yang lucu, seram hingga yang bikin senyum-senyum sendiri. Pokoknya semua tentang Kendari. Selamat membaca dan …

“Welcome to our beloved city, Kendari!!!”

—-

pemesanan bisa ke email piaharuddin@gmail.com atau twitter @pia_haruddin.

semua keuntungan buat amal

 

 

Advertisements

Uang Besar

Seperti sudah suatu keniscayaan, jika naik pete-pete dan membayar dengan uang besar (50 ribu atau 100 ribu), maka siap-siaplah dicibir atau diomeli oleh sang sopir.

Makanya, setiapkali naik pete-pete, saya selalu mengusahakan membayar memakai uang pas atau yang nominalnya tidak terlalu besar.

Tapi, kalau sudah terlanjur tak ada uang kecil? Nah, ada tips yang saya pelajari dari teman saya.

Pagi ini saya mengalaminya sendiri. Uang pas saya habis, tertinggal 50 ribu di dompet. Sebuah pete-pete menghampiri.
“Pak, uangku 50 ribu. Adaji kembalianta?”
Pete-pete yang pertama menolak, bilang kalau ini masih pagi, uang yang ada tak cukup.

Namun, alhamdulillah, yang kedua mengiyakan. Walaupun hari masih terbilang pagi, tapi sang sopir sudah mempersiapkan uang kembalian.

400px-50.000Rp-front

Akhirnya, selamat sampai tujuan tanpa ada cibiran dari pak sopir.

*gambar dari  http://id.wikipedia.org/wiki/Rp50.000

Lelang

Lelang Ikan Kendari

 

Tempat Pelelangan Ikan Kendari

“Pak  sopir, bisa kita masuk di lelang?” seorang ibu mengajukan permintaan kepada sopir pete-pete. Pete-pete beberapa menit lagi akan melewati lorong ke arah pelelangan ikan yang dimaksud.

Pak sopir tidak menjawab, tapi juga tidak menolak. Sebelumnya, ibu yang tepat duduk dibelakangnya meminta hal yang sama. Dan sang sopir sempat menolak.

Lorong ke pelelangan, akhirnya pete-pete membelok ke sana. Kedua ibu itu “menang”, dan waktuku ke kantor ikut “terpangkas”.

Tak mengapa, selama absen fingerprint belum dilaksanakan.

 

*gambar dari http://vibizportal.com/images/portal/gallery/Akibat%20Gelombang%20Tinggi.jpg

Untuk Bumi dari Kendari

Peduli lingkungan dan hemat energi? Tema yang jarang saya ambil. Bukan karena tak peduli, tapi memang selama ini belum terpikir saja buat postingan tentang lingkungan dan energi.

Mari kita mulai saja.

***

Coba kalian perhatikan daerah sekitar atau di kota kalian? Apa yang berubah? Kalau dari pandangan mata saya saat ini, banyak. Kota tempat saya lahir ini, Kendari, termasuk yang perkembangannya sangat pesat. Dulu, yang banyak itu rawa dan tanah lapang. Sekarang, semua penuh dengan bangunan. Padat.

Kalau dulu, saya masih bisa berlari-lari di lapangan yang luas, sekarang sudah jarang mendapatkan tanah yang seperti itu lagi. Semuanya mulai di isi dengan rumah dan ruko. Yah, Kendari memang terkenal dengan kota ruko. Pertambahan penduduk di kota ini juga tak main-main. Baik yang datang dari wilayah Sulawesi Tenggara (provinsi dimana Kendari adalah ibukotanya)  ataupun dari provinsi tetangga maupun dari lain pulau. Kendari mulai “gemuk”.

Nah, dengan lahan yang makin “sempit” dan penduduk yang bertambah, maka masalah yang paling cepat muncul adalah sampah.

Ngomongin sampah, pasti ujung-ujungnya ke TPA juga alias Tempat Pembuangan Akhir. Dan, beruntungnya Kendari punya TPA yang keren, namanya TPA Puuwatu [1]. Gimana gak keren, di sana sampah diubah jadi gas metan yang dimanfaatkan warga sekitar TPA.

Meski TPA-nya bagus, namun yang menjadi masalah lagi adalah budaya membuang sampah warga kota. Kali, pinggir jalan, bahkan dari atas angkutan umum, mereka bebas membuang sampahnya. Miris rasanya melihat perilaku yang tidak bertanggung jawab ini. Tapi, tunggu dulu. Menunjuk memakai satu jari ke arah orang lain, berarti empat jari yang lain tertuju ke diri sendiri. Jangan-jangan kita juga sering berlaku yang sama. Jadi, mulai sadar diri untuk tak membuang sampah di tempat yang tak sepatutnya, yuuuukkk!

Salah satu bentuk sampah yang jamak di jaman modern, adalah sampah plastik dan kertas. Untuk sampah kertas, di kantor semua kertas hasil print yang tak terpakai atau salah, tak langsung dibuang dan dibakar. Hampir semua kertas bekas itu disatukan (di-staples) lalu dipakai lagi. Untuk apa?? Sebagian besar untuk kertas cakaran (bukan yang dicakar-cakar lo ya;) ) dan untuk menuliskan parameter gempa hasil analisa  sebelum dilaporkan (kantor saya adalah kantor pengamatan gempa daerah).

Sementara sampah plastik, sampai saat ini menjadi PR besar buat saya. Selain botol air mineral yang biasa dipakai kembali, sampah plastik yang lain langsung dibuang. Walau, sebenarnya ada jenis sampah plastik yang bisa dikurangi, yaitu kantong plastik (yang umumnya berwarna hitam). Setiap kali berbelanja, usahakan untuk tak membungkus belanjaan dengan bahan selain kantong plastik, seperti koran atau tas khusus. Beberapa kali, saya mempersiapkan dari rumah tas jinjing berbahan kanvas untuk berbelanja di pasar. Bahkan, juga pernah menolak kantong plastik dari penjual dan langsung memasukkan barang belanjaan ke tas ransel saya (yang kebetulan bisa muat banyak barang).

Kota yang tambah padat seperti Kendari juga berarti kendaraan yang berlalu-lalang di jalannya turut bertambah. Pada 2011, ada sekitar 129 ribu unit kendaraan di kota ini, dengan yang terbesar adalah motor[2]. Pertambahan kendaraan pribadi dianggap sebagai hasil dari tambah makmurnya warga kota. Namun, itu juga berarti berlipat-lipatnya polusi udara. Untuk yang ini, saya setia dengan kendaraan umum saja. Setiap saat saya selalu naik pete-pete.

Pete-pete (atau angkot) adalah kendaraan umum yang banyak di Kendari. Saat normal, pete-pete mampu menampung 10-12 orang. Meski tak sebanyak jumlah penumpang bus atau kereta, namun jumlah BBM yang dapat dihemat tidak sedikit untuk ukuran kota ini. Meski belum men-cover keseluruhan kota, namun hingga saat ini pete-pete masih bisa saya andalkan untuk berpergian di dalam kota.

Kdi Teater2

pete-pete

Tentang kota yang beranjak maju, maka tak lengkap kalo tak menyinggung tentang pemakaian alat elektronik  yang bertambah pula, salah satunya yang mengkonsumsi energi listrik paling besar, AC. Mau hemat energi yang praktis? Pakai AC hemat listrik dengan suhu yang tak terlalu rendah. Standar untuk Indonesia sudah ada juga [3]. Saya kebetulan tak terlalu suka dingin, namun juga tak suka kepanasan. Suhu 24 derajat celsius sudah ideal. Pas banget^^

Semua orang sekarang sudah punya handphone, dan keborosan terbesar dari handphone adalah dari sisi charger-nya. Sering lihat charger yang tergantung begitu saja tanpa ada handphone yang tengah di-charge? Oh, kawan hindarilah perilaku yang satu ini. Salah satu kebiasaan saya adalah segera mencabut charger tersebut dan menggulungnya hingga rapi, hehe. Selalu saya usahakan untuk mengisi baterai handphone hingga penuh, dan segera mencabut charger-nya. Juga untuk kasus kabel TV atau yang lain, kalau tak terpakai, segera saya cabut.

Mematikan lampu yang tak perlu juga bisa buat hemat energi. Apalagi lampu kamar saat tidur. Selain hemat energi, juga baik untuk kesehatan[4].  Kebiasaan yang dulu ditanamkan oleh Bapak, mulai saya lakukan lagi beberapa bulan lalu. Dengan lampu yang temaram dahulu,  perlahan-lahan menjadi padam secara total. Bagi yang tak bisa gelap sama sekali, bisa mencoba memakai lampu tidur.  Mematikan lampu saat tidur juga sunnah Rasul, lho. Jadi, kebiasaan yang amat sangat bermanfaat.

Prinsipnya sih matikan alat elektronik/lampu yang tidak sedang digunakan, seperti TV, kipas angin. Kalau perlu cabut kabelnya. Apalagi kalau waktu untuk memakainya lagi tak pasti, lebih baik dimatikan saja. Penghematan dari sisi mengubah kebiasaan ini bisa berarti banyak buat penggunaan listrik. Satu rumah satu lampu yang dimatikan, bayangkan dalam satu kota (seperti Kendari yang punya jumlah pelanggan 50 ribu [2]) besaran daya listrik yang dihemat. Besar sekali.

***

Akhirnya, semua tips dan kebiasaan di atas hanyalah hal-hal kecil yang sangat mudah untuk dilakukan. Meski kecil, namun akan berdampak besar jika dilakukan oleh banyak orang. Apalagi jika ditambah komitmen dan kesungguhan, bagi bumi kita yang lebih baik, untuk anak dan cucu kita.

__________________________

Sumber

[1] http://sultra.antaranews.com/print/264626/pemkot-kendari-olah-sampah-menjadi-gas-metan

[2] http://kendarikota.bps.go.id/statda/2012/kotakendari/statdakota2012.pdf

[3] http://harianandalas.com/Berita-Utama/Suhu-AC-27C-Lampu-12-Watt

[4] http://erabaru.net/kesehatan/34-kesehatan/5034-tidur-malam-lebih-baik-lampu-mati-atau-tidak

 

Tulisan ini dalam diikutkan dalam Blogger Contest Sobat Bumi Pertamina

Pertamina

 

 

Hoax Pembuat Runyam

Malam Kamis beberapa minggu yang lalu, saya dikejutkan oleh berita di twitter. “Pesawat Lion Air jatuh di konawe” dari akun @KendariTa. Bagaimana tak terkejut, teman saya baru saja berangkat dari Kendari sore itu, dan kalau tak salah dengan maskapai yang sama. Segera saya menelpon teman saya itu. Alhamdulillah, ternyata dia sudah sampai dengan selamat di Makassar.

SMS dari teman saya kemudian menyadarkan saya,

“Kak, darimana kita dapat beritanya?”

Tabayyun. Cek-ricek dulu berita yang sampai ke kita, jangan-jangan cuma hoax. Saya lupa bertabayyun!

Dan benar ternyata, kabar itu rupanya hoax belaka :(.

Saya sempat “geram” dengan para penyebar hoax, ingin rasanya “membejek-bejek” orang-orang yang hobinya buat kerusuhan itu. Ingin berkonfrontir dengan akun-akun tersebut. Tapi, apa daya, saya tak punya “bakat” bertengkar, baik di dunia nyata apalagi di dunia maya.

Pelajaran dari peristiwa ini adalah selalu tabayyun dalam menerima berita atau isu, sehingga kita tak terjerumus menjadi si penyebar hoax.

———————-

Beritanya bisa dilihat di sini