[WC 1] (Semi)otobiografi

Nama saya pia. Nama lengkap saya?
(Kasih tau ga ya??).
Oke, daripada penasaran sampai kebawa mimpi lebih baik saya beri tahu saja 😉
Nama lengkap saya itu panjang banget, yang buat waktu daftar ujian masuk PTN musti disingkat-singkat, hehe (maaf ya, rada lebay bombay).
Waode Sitti Mudhalifana, sodara-sodara. Mungkin gak banyak yang kenal dengan nama di atas, secara jarang saya ungkap ke ruang publik #halagh.
Waode adalah nama yang umum di kampung saya, Muna. Yang unik itu Mudhalifana, nama pemberian Bapak. Sebenarnya Mudhalifana adalah hasil kolaborasi dua nama, Muzdalifah dan Ifana. Muzdalifah dari nama tempat di tanah suci, dan Ifana dari nama pebulutangkis wanita ternama di era 80-an, Ivana Li.  Bapaknya Bapak (aka. Kakek) mau menamakan saya dengan Muzdalifah, karena bertepatan dengan kepulangan beliau saat itu dari berhaji.  Sedang Bapak sudah punya nama jagoan sendiri, Ivana (atau Ifana).  Keduanya bertemu di Mudhalifana, hehe.

Lahir di rumah sendiri, dengan bantuan bidan handal dan andalan ibu-ibu di kota Kendari kala itu (karena beberapa teman rupanya lahir lewat tangan beliau), Bu Bidan Tiur, di waktu Magrib hari Rabu,  tanggal duapuluh delapan April tahun seribu sembilan ratus delapanpuluh dua.

Anak ketiga dari empat bersaudara. Beda usia antara saya dan kakak kedua enam tahun, sementara dengan yang pertamaa tujuh tahun. Sedang umur saya dan adik yang bungsu cuma dua tahun.  Itulah kenapa saya dan adik itu akrab sekali (dalam artian sering sekali berantemnya).

Nama panggilan kami semua unik-unik. Kalau saya dipanggil Pia, yang terakhir dipanggil Peyet. Bahkan saat kecil dulu, banyak yang sering tertukar mana Pia mana Peyet (saking imutnya #hedeuuuh). Kakak pertama dipanggil Cuma, dan yang kedua itu Todo. (Tak ada kata “Kakak” atau “Adik” di antara kami, semua saling memanggil dengan nama)

Asal panggilan “Pia” ini konon kabarnya berasal dari bahasa Muna, bahasa kampungku. Untuk maknanya, nanti saya konfirmasi lagi dengan ahli bahasanya, hehe.

Saya lahir di Kendari, dan sempat melalui masa-masa penuh kenakalan anak-anak di kota ini. Saya ingat, saya SD saya banyak berkawan dengan anak laki-laki, pulang sekolah selalu jalan kaki bersama mereka. Merekalah yang selalu menyemangati saya saat pengumuman juara umum di sekolah ( yang berteriak-teriak memanggil nama saya, padahal selalu kebagian juara tiga, hehe). Pernah hampir berkelahi dengan seorang anak lelaki yang saya anggap rese (alhamdulilah gak jadi), hanya gara-gara masalah Karate (padahal saya gak jago-jago amat).  Hingga Kelas Lima SD. Menjelang kenaikan kelas, Bapak dipindahkan ke kota lain, Raha. Saya pun ikut pindah.

Dari kelas lima hingga Kelas Satu SMA saya lalui di kota Raha, Kota ini adalah ibukota kabupaten, tapi sunyinya gak tanggung-tanggung. Rumah yang pertama kami tinggali dikelilingi hutan jati.  Selain sunyi, jadwal pemadaman lampunya juga sadis. Kota yang cadas, namun banyak melatih orang-orang yang tinggal di dalamnya menjadi tangguh.

Prestasi sekolah saya di Raha lumayanlah. Berkat gemblengan guru-guru yang rata-rata killer abis yang membuat mau-tidak mau saya musti belajar keras.

Setelah “melatih diri” di Raha selama lima tahun, kami sekeluarga balik lagi ke Kendari Tepatnya saat masuk Kelas Dua SMA. Saya didaftarkan ke SMA 4 Kendari oleh Bapak.

Mendaftarkan diri ke SMA 4 Kendari, rupanya berdampak besar buat saya.  Saya yang pada dasarnya pendiam (akut) di sekolah ini menemukan kawan-kawan baik bahkan sahabat hingga sekarang.  Saya juga mengenal “kajian” di sini, meski tak ikut ngaji.

Selesai SMA, saya hijrah ke Makassar untuk kuliah. Mengambil Prodi Geofisika (berdasarkan petunjuk kakak saya) di Universitas Hasanuddin. Sempat bimbang di awal perkuliahan (karena saya sebenarnya lebih condong ke Fisika), namun akhirnya kuliah itu saya selesaikan juga. Dalam waktu lima tahun tiga bulan.

Kembali ke Kendari selesai kuliah, saya sempat bercita-cita untuk menjadi dosen.  Setelah mengikuti seleksi calon dosen di universitas lokal dan ternyata tak lolos, saya pun resmi menganggur.

Selama melakoni masa-masa penantian ini, saya isi dengan membantu Mama berjualan di warung. Bisnis pulsa juga saya mulai kala itu, melalui bantuan teman baik saya, meski kecil-kecilan.  Sempat juga mengajar di sebuah akademi komputer selama setahun. Lalu, kemudian saya lulus tes penerimaan pegawai di sebuah lembaga pemerintah yang sesuai dengan bidang keilmuan saya, Geofisika.

Kali ini, saya kembali pindah domisili. Saya diterima di kantor pusat, Jakarta. Sebenarnya, saya berharap setidaknya untuk diterima di Makassar saja, kota yang lebih dekat dengan Kendari. Namun, rupanya Allah berkehendak lain. Maka, pertualangan baru saya dimulai lagi.

Selama kurang lebih tiga tahun di ibukota, saya mendapat pengalaman yang beraneka warna. Bepergian ke beberapa kota dalam rangka survei, pengalaman mengelola data dari berbagai sumber, belajar dari rekanan asing, dan belajar internet dengan lebih intensif. Namun itu juga dihiasi dengan beberapa kali masuk rumah sakit. Alergi saya bertambah parah di sana, ditambah maag dan sakit typhus. Udara, stress serta makanan yang kadangkala tak bisa saya kontrol menjadi penyebabnya.  Memang, dari awal kerja sudah ada niat pindah ke Kendari. Hingga tahun 2011, saya pun meminta mutasi.

Maret 2011, saya bekerja di kantor yang baru, stasiun kecil di Kendari.  Selain menjadi pegawai negeri, saya mulai bisnis kecil-kecilan lagi.  Juga belajar menjadi penulis. Dan menjadi bloger yang baik. Yang mau selalu mengisi blognya.

Sekian.

Advertisements

Cocok-cocokan

Seperti pakis yang tak cocok dengan wortel dalam tumisan.
Namun, tak seperti kelor yang cocok dengan semua jenis sayuran dan bahkan dengan mi instan. Seperti itulah hidup, kadang ada yang bisa cocok dengan berbagai hal. Tapi, ada juga yang musti memilah-milih.

#uhuk
#lagi bijak