Runner Up lagi di Jepang

September enam tahun lalu, Mohammad Ahsan meraih gelar pertamanya di Jepang Terbuka setelah dua kali sebelumnya hanya mampu menjadi juara kedua bersama Bona Septano di 2008 dan 2011. Sementara, buat Hendra Setiawan, gelar itu adalah gelar keduanya setelah 2009 saat masih berpasangan dengan Markis Kido.

Tahun ini mereka kembali lagi ke partai puncak Jepang Terbuka, final. Lawan mereka adalah lawan yang sama dengan yang dihadapi di partai final seminggu sebelumnya, Kevin Sanjaya-Markus Fernaldi Gideon (atau The Minions) atau partai All Indonesian Final.

Perjalanan mereka ke final bukanlah mudah. Di babak kedua, sesama pasangan Indonesia, Wahyu Pangkaryarnirya-Ade Santoso harus mereka hadapi dalam tiga gim yang ketat. Sementara di perempat final, ganda Korea Selatan sekaligus Juara Dunia 2014, Ko Sunghyun-Shin Baekcheol juga mereka lewati lewat tiga gim yang tak kalah seru. Di semifinal, ganda nomor satu Jepang, Takeshi Kamura-Keigo Sonoda, menjadi lawan mereka. Kamura dan Sonoda terkenal memiliki kecepatan (dan berisik, hehe), namun Ahsan dan Hendra mampu mengimbangi dan memperlambat tempo permainan hingga mampu menang dalam dua gim saja, 22-20 dan 21-10.

Di final, ganda terkuat di dunia saat ini, Kevin-Marcus, sudah menanti. The Minions masuk ke final setelah melewati partai tiga gim yang menegangkan melawan Duo Menara China, Li Junhui-Liu Yuchen. Final Ahsan-Hendra versus Kevin-Marcus sudah terjadi tiga kali tahun ini, Indonesia Masters Januari lalu, Indonesia Terbuka pekan lalu, dan kini di Jepang Terbuka. Pada Indonesia Masters, Kevin dan Marcus menang dengan skor yang cukup jauh, 21-17 dan 21-11. Sementara di Indonesia Terbuka, meski menang dalam dua gim, skor mereka tidak terlalu jauh, 21-19 21-16.

Final kali ini berlangsung lebih seru. Kejar mengejar angka terjadi di gim pertama, namun Kevin-Marcus akhirnya unggul 21-18. Di gim kedua, Ahsan dan Hendra lebih menguasai pertandingan dan menyentuh skor gim point duluan, 20-18, namun Kevin dan Marcus mampu mengejar sampai akhirnya unggul 23-21 sekaligus  memenangkan gelar Jepang Terbuka kali ketiganya secara beruntun.

Ahsan dan Hendra mengakui kalau Kevin-Marcus bermain sangat cepat, sementara Kevin dan Marcus mengatakan kalau mereka banyak melakukan kesalahan di gim kedua dan sulit untuk menembus pertahanan Ahsan-Hendra. Meski hanya jadi runner-up, Ahsan dan Hendra bersyukur mampu masuk ke final lagi dan berharap bisa lebih stabil lagi.

Runner-up kali ini adalah runner-up kedua bagi mereka di Jepang  setelah tahun 2014. Saat itu mereka kalah dari Lee Yongdae-Yoo Yeonseong, dua gim langsung 12-21 dan 24-26 (hiks..hiks..).

Ahsan Hendra Minions Japan Open 2019

*sumber foto: badmintonindonesia.org

 

 

Advertisements

Cireng Nasi (bekas semalam)

Salah satu efek pakai rice cooker and warmer adalah nasi kering yg akhirnya harus dibuang, huhu. Setelah lihat resep di yutup dan IG, akhirnya mencoba membuat cireng nasi dari nasi kering sisa tersebut. Caranya gampang, nasi kering direndam dulu pakai air, kemudian dihaluskan pakai blender. Hasilnya lalu dicampur dengan tepung tapioka/kanji dan maizena. Beberapa resep juga memakai terigu, tapi karena saya ingin yang bebas gluten (gluten free), saya hanya pakai tapioka dan maizena.

Untuk menambah rasa, campurkan bawang putih bubuk (atau bawang putih yg dihaluskan) dan potongan daun bawang ( dan garam tergantung selera). Aduk adonan hingga rata, jika dirasa terlalu keras bisa ditambahkan air. Goreng adonan hingga kecoklatan, angkat dan sajikan dengan saos (botolan).

cymera_20190726_1541452094439140.jpg

Runner up Indonesia Terbuka 2019, hasil yang lumayan buat Ahsan-Hendra

Tahun 2019 adalah tahun ke-6 Ahsan-Hendra tampil bersama di Indonesia Terbuka (minus 2017 saat mereka “pisah”, huhu). Di tahun pertamanya, 2013, mereka langsung mengukir prestasi jadi juara dengan mengalahkan pasangan nomor 1 asal Korea kala itu, Lee Yongdae-Ko Sunghyun (ahh, 2013 emang tahun baik buat mereka).

Tahun berikutnya, kembali mereka berhasil maju ke final. Namun sayang kali ini mereka berhadapan dengan ganda yang akan tercatat dalam sejarah sebagai pasangan “penawar” Ahsan-Hendra. Mereka takluk 15-21 17-21. (Jujur, sampai sekarang saya belum melihat pertandingan final ini. Saya hanya melakukan live scoring di twitter).

Di 2015, mereka nyaris ke babak final. Kalah dari pasangan baru muka lama China, Zhang Nan-Fu Haifeng (yang akhirnya jadi peraih Emas di Rio), 20-22 21-18 15-21. Hasil lebih miris dicatat tahun setelahnya, 2016, dimana mereka terhenti di babak kedua dari duo Denmark, Mads Conrad-Mads Kolding.

Tahun 2017, Ahsan yang berpasangan dengan Rian A.Saputro tersingkir di babak awal. Sementara Hendra yang menggandeng Tan Beon Hong hanya sampai ke babak kedua setelah dikalahkan Li Junhui-Liu Yuchen yang akhirnya jadi juara di tahun tersebut.

Tahun lalu, 2018, mereka akhirnya berpasangan kembali. Sayangnya, mereka harus melawan ganda terkuat Indonesia saat ini, Kevin Sanjaya-Marcus Gideon. Kalah dalam tiga gim, 16-21 21-18 10-21, Ahsan-Hendra gagal melangkah lebih jauh. Kevin-Marcus pun akhirnya merebut gelar Indonesia Terbuka pertamanya setelah mengalahkan pasangan Jepang Takuto Inoue-Yuki Kaneko.

Tahun ini, mereka kembali sebagai Juara All England 2019 dan unggulan keempat di ganda putra. Babak pertama dan kedua dilalui dengan menghadapi pemain dari Eropa. Babak ini dilalui dengan lancar oleh Ahsan-Hendra, dua gim saja. Hadangan sesungguhnya ada di perempat final, Sang Juara Asia 2019, Hiroyuki Endo-Yuta Watanabe membuat mereka harus bekerja keras dalam tiga gim, 21-15 9-21 22-20. Unggul jauh di gim penentuan, mereka kehilangan fokus dan akhirnya kesusul poinnya oleh pasangan Jepang. Alhamdulillah, berkat ketenangan dan pengalaman, Ahsan dan Hendra akhirnya menang juga. Babak semifinal kembali lagi bertemu dengan ganda Jepang lainnya, Takuro Hoki-Yugo Kobayashi, dalam pertarungan yang tak kalah menegangkan. Ahsan-Hendra tertinggal di gim pertama, namun mampu bangkit di gim selanjutnya. Mereka menang dengan skor akhir 17-21 21-19 21-17 dan berhak maju ke final (yeaaaay…!!).

Final tahun ini sekaligus juga adalah final ketiga Ahsan-Hendra di Indonesia Terbuka setelah 2013 dan 2014. Menatap gelar kedua di Istora, mereka harus berhadapan dengan The Minions, Kevin dan Marcus, ganda terkuat nomor satu di Indonesia dan dunia. Gim pertama berjalan ketat, kejar mengejar skor terjadi. Skor di gim pertama adalah 19-21. Situasi yang hampir sama terjadi di awal gim kedua, sampai di interval skor yang tercatat 11-10 buat keunggulan Kevin-Marcus. Setelah jeda, perolehan poin Kevin dan Marcus melaju meninggalkan Ahsan dan Hendra. Permainan cepat yang menjadi andalan Minions terus menyebabkan Ahsan-Hendra tertekan. Mereka pun menyerah 16-21 sekaligus harus puas hanya bisa jadi juara kedua/runner up.

Meski hanya jadi runner up, tapi hasil tersebut melebihi target semifinal mereka. Poin di sini juga menjadi tambahan angka yang sangat berarti bagi perburuan tiket ke Olimpiade Tokyo. Perjalanan Ahsan-Hendra selanjutnya adalah Jepang Terbuka pekan ini dan Kejuaraan Dunia bulan depan.

Mencari Pengganti Butet

Butet, panggilan akrab Liliyana Natsir, akhirnya benar-benar pensiun Ahad (27/1) kemarin. Bersamaan dengan pentas final turnamen Indonesia Masters Super 500, Butet mengumumkan pensiun di hadapan penonton yang memadati istora Senayan siang kemarin.

Tarik ulur pensiun Butet sebenarnya sudah terjadi setelah Olimpiade Rio 2016 yang lalu. Awal tahun 2017 Butet juga dilanda cidera lutut kanan yang lumayan parah. Meski begitu, prestasinya tetap berkilap walau dalam keadaan tidak seratus persen. Dua gelar bergengsi di 2017 diraihnya, Indonesia Open dan Juara Dunia.

Tahun lalu juga Butet kembali mengurungkan niat mundurnya. Dengan iming-iming gelar Asian Games yang belum pernah diraihnya, Butet akhirnya turun di nomor Ganda Campuran. Sayang, Butet hanya mampu meraih medali perunggu.

Dan kemarin, hari yang ditakuti dunia Bulutangkis Indonesia itu pun datang. Butet atau Liliyana Natsir pensiun dari dunia yang telah digelutinya selama 20 tahun lebih dengan berbagai torehan prestasi menterang: Juara Olimpiade, Juara Dunia 4 kali, Juara All England 3 kali, dan juara berbagai turnamen bergengsi lainnya di nomor ganda campuran.

Bagi Indonesia, Butet adalah bakat unik dan langka. Bermain dari usia muda, dia telah berhadapan dengan banyak pemain dunia kuat lainnya dari era awal 2000-an hingga sekarang dan masih memperlihatkan konsistensi baik dari segi fisik maupun prestasi. Tidak diragukan lagi kalau Butet adalah salah satu pebulutangkis putri Indonesia terbaik untuk masa sekarang.

Kepergian Butet meninggalkan lubang besar di nomor Ganda Campuran Pelatnas, sebab hingga kini belum ada satu pun pemain yang bisa menyamai kemampuannya. Apalagi dengan ikut mundurnya Debby Susanto, salah satu pemain yang juga menjadi andalan. Pasangan yang ada sekarang, Hafiz-Gloria, Praveen-Melati, Ronald-Annisa, seringkali hanya jadi penghias turnamen. Belum ada yang mampu memberikan konsistensi permainan dan prestasi.

Padahal nomor ini adalah yang paling sering memberikan gelar juara dunia di skala junior. Tahun ini saja, pasangan Leo dan Indah berhasil menjadi juara dunia junor mengalahkan rekannya Rehan dan Fadia mengulang final sesama Indonesia yang juga terjadi tahun lalu.

Bakat sudah banyak, kini tinggal para pelatih dan pengurus yang menentukan bagaimana cara menemukan Butet-Butet yang lainnya walau mungkin tidak 100% seperti Butet karena memang tidak ada yang mungkin sama seperti Butet.

Sekali lagi, Kevin-Marcus!

Turnamen Malaysia Masters Super 500 baru berakhir Ahad kemarin. Ada 2 wakil kita di final, Kevin-Marcus dan Greysia-Apri.

Greysia-Apri tampil di urutan pertama. Mbadmintonindonesiaelawan ganda terkuat di dunia asal Jepang, Fukushima-Hirota, Greysia dan Apri mampu mengatasi di gim pertama. Sayang, mereka gagal di gim kedua dan ketiga. Greysia Polii dan Apriyani Rahayu akhirnya jadi runner up ganda putri. Pencapaian yg tergolong lumayan mengingat tahun lalu mereka berkali-kali jadi langganan semifinalis.

Sementara Kevin Sanjaya dan Marcus Gideon, atau bisa dijuluki Minions, berhadapan dng Ong Yew Sin dan Teo Ee Yi dari Malaysia. Menjadi turnamen pertama bagi mereka di tahun ini, Kevin-Marcus tidak menyia-nyiakan kesempatan tampil di final. Walau pasangan Malaysia memberi perlawanan yg ketat, Kevin-Marcus mampu menaklukkan mereka 2 gim langsung, 21-15 21-16, dalam 35 menit. Gelar ini menambah perolehan BWF World Tour mereka menjadi 9 gelar.

Pada tahun 2016, Kevin dan Marcus juga menang di sini. Hanya saja status turnamennya masih bergelar Malaysia Grand Prix Gold (GPG). Saat itu mereka baru saja berpasangan.

Kehadiran mereka di turnamen ini di awal tahun sebenarnya diragukan. Cidera otot leher Marcus yg didapat saat tampil di World Tour Finals Desember lalu cukup mengkhawatirkan. Namun, sepertinya cidera tsb sudah bisa diatasi, dan pasangan andalan kita itu sudah bisa tampil di lapangan.

Malaysia Masters bisa dibilang adalah turnamen pemanasan bagi Minions sebelum Indonesia Masters pekan ini di Istora Jakarta.

(sumber foto: badmintonindonesia)