Berlebihan

Kue lapis, kolak, es buah dan gorengan tersaji di atas meja. Ini mungkin adalah pemandangan yang “wajar” selama bulan puasa. Berbagai makanan aneka macam menjadi menu berbuka puasa baik yang dibuat sendiri ataupun yang dibeli. Mumpung penjual makanan lagi ramai-ramainya.

Saat sedang berpuasa, terkadang sering terlintas keinginan mau makan apa di saat berbuka. Apalagi jika bertemu penjual makanan kaki lima yang banyak berjamuran di bulan ini, nafsu berbelanja makanan pun jadi tak terkendali. 

Ke pasar pun juga, para Ibu-ibu bersemangat untuk membeli banyak macam bahan makanan khas Ramadhan. Entah karena permintaan anak dan suami, atau karena pengaruh resep yang semakin gencar di medsos.

Tanpa sadar, di bulan ini konsumsi kita pun bertambah bahkan berlipat-lipat. Belum lagi belanja buat Lebaran nanti. Bukannya menahan nafsu, kita malah memperturutkan nafsu. Bukannya makan yang seharusnya berkurang dari 3 kali jadi 2 saja, ini malah seperti makan 4 kali sehari. Padahal yang bisa masuk ke perut hanya sedikit. 

Mungkin konsumsi kita yang berlebihan itu bisa kita “arahkan” buat memberi kepada yang lain. Bagi mereka yang membutuhkan dan yang sedang berpuasa juga. Karena kalau tak salah, memberi makan orang yang sedang beruasa pahalanya sama dengan pahala orang yang berpuasa. Wallahu a’lam.

Hari ke-3 Ramadhan, selamat berbuka puasa. 

(Catatan buat diri saya juga, berlebihan itu tak baik. Hindari.)

Advertisements

Sarung

Jingle iklan khas Ramadhan terdengar, bukan iklan sirup tapinya. Itu iklan sarung. Modelnya seorang aktor senior yang kini menjabat wakil gubernur (pasti tau dah, hehe). Saya bertanya ke Mama, “Ma, bagus sarungnya?”. “Heh, tidak. Tipiss” jawab Mama. 

Saya siy percaya ajah kata Mama. Soal sarung-sarungan, Mamalah jagonya. Tidak terhitung berapa lembar sarung yang dijualnya, bahkan dari jaman Bapak kuliah. Dalam memilih dan menjual sarung, Mama punya standar sendiri. Sarung yang tebal yang dijamin berdaya tahan lama, tak mudah sobek dilekang waktu. Motifnya pun tidak sembarangan, tidak norak dan sesuai dengan perkembangan jaman. Meski sekarang sudah tak seaktif dulu berjualan, tapi tak mengurangi kehandalannya dalam dunia per-sarungan. 

Eniwei, sudah hari ke-2 puasa. Selamat menjalankan ibadah puasa kawan-kawan.

All England 2017: Mimpi jadi nyata buat Kevin&Sinyo

All England 2017 telah selesai Senin (13/3) dinihari yang lalu. Lima juara dari lima negara telah menerima medali dan trofi, salah satunya Indonesia.

Kita datang ke Barclay Arena, Birmingham ini dengan kekuatan 18 pebulutangkis terbaik. Satu persatu berguguran dan akhirnya tertinggal 1 wakil di semifinal. Satu-satunya wakil tersebut adalah Kevin Sanjaya-Marcus Fernaldi Gideon, ganda putra nomor 1 Indonesia. Juara tahun lalu, Praveen Jordan-Debby Susanto yang ditargetkan mempertahankan gelar sudah duluan tersingkir, tragis di babak pertama.

Bertarung dengan duo Mads asal Denmark, Kevin dan Sinyo (panggilan Marcus) terasa amat sulit. Selain keduanya memiliki tinggi badan yang minta ampun jangkungnya (qeqe), pertemuan sebelumnya Kevin dan Sinyo selalu kalah, bahkan terakhir Desember lalu di Dubai, membuat mereka tidak berani memasang target yang muluk-muluk.

Kalah di gim pertama, harapan ke final pun terlihat berat. Beranjak ke gim kedua, Kevin-Sinyo pun juga tertinggal. Namun, momentum berubah setelah interval. Servis kejut Kevin memecah fokus ganda Denmark. Selepas itu, 10 poin beruntun didapat minions (julukan mereka) dalam sekali servis, kedudukan berubah drastis jadi game point buat mereka 20-12. Gim ini akhirnya mereka menangkan. Pertandingan harus diselesaikan dalam tiga gim penuh.

Gim terakhir, kejar-mengejar terus terjadi. Kedua pasangan yang punya pertahanan dan serangan kuat bermain dalam reli-reli panjang yang lama. Interval jadi milik Denmark dalam skor 11-10. Setelah itu, kedudukan selalu sama kuat hingga mencapai angka 17. Pasangan Indonesia terus menekan di akhir gim ini dan berbuah 4 poin beruntun yang menghasilkan kemenangan dan kesempatan maju ke partai final.

Final Impian 

Masuk ke final All England adalah impian setiap pemain bulutangkis dunia. Namun, mendapat gelar di sini bukanlah hal yang mudah. Itulah pula yang dirasakan Kevin dan Sinyo.

Berhadapan dengan pemain jangkung lainnya asal China, Li Junhui-Liu Yuchen, Kevin dan Sinyo sudah pernah kalah di Vietnam Grand Prix 2015 yang lalu. Pasangan ganda muda yang sepantaran Kevin itu bukanlah lawan yang gampang, mereka sudah punya 1 gelar Superseries tahun lalu. 

Awal-awal pertandingan masih terasa ketegangan di dua kubu, kejar-mengejar poin terus terjadi meski Kevin-Sinyo sempat unggul sebelum interval. Unggul 14-10 tapi pemain China bisa mengejar dan menyamakan kedudukan. Reli-reli pendek terjadi dan kejar-mengejar angka hingga skor sama 17-17.  Namun Kevin-Sinyo menyentuh poin 20 duluan, sayang mereka belum berhasil menyelesaikan gim pertama pada kesempatan pertama karena servis kejut (flick serve) Kevin di-fault oleh hakim servis. Di kesempatan kedualah akhirnya angka 21 dicapai setelah serobotan penerimaan servis Sinyo tidak mampu dikembalikan Liu Yuchen. 
Gim kedua berjalan lebih satu arah, Kevin-Sinyo lebih dominan. Pasangan China sering sekali berbuat kesalahan yang berbuah keunggulan hingga 18-10 bagi pasangan kita. Sinyo juga terlihat gugup dan melakukan kesalahan sendiri walau tak sebanyak pemain China. Namun akhirnya mereka bisa dengan tenang menutup gim kedua dan menuntaskan perlawanan China dengan skor 21-14. 

Bonus kemenangan lainnya adalah peringkat 1 BWF Ganda Putra bagi Kevin dan Sinyo menggeser pasangan Malaysia Goh V Shem-Tan Wee Kiong. Ini berarti mengembalikan kegemilangan ganda putra Indonesia setelah pasangan Moh. Ahsan dan Hendra Setiawan di 2013.

Kevin dalam wawancara di lapangan setelah pertandingan bilang kalau Juara All England adalah impiannya. Beberapa saat sebelumnya mereka berdua juga berujar kalau target mereka tahun ini salah satunya All England. Akhirnya, impian dan target itu terwujud bagi ganda yang baru dipasangkan 2 tahun ini di 2017 ini.

Selamat buat Kevin-Sinyo, ditunggu gelar yang lainnya. SEMANGAT!!

Badominton to Watashi: My Badminton Diary

Maret 5 tahun yang lalu di dalam sebuah pelatihan menulisnya Tere Liye, saya pernah bertanya kepada beliau, bagaimana dengan blogger yang menulis buku. Bang Tere liye menjawab kalau (penulis blog) itu bagus bahkan menganjurkan agar membukukan blog kita. Tekad makin membara untuk membukukan blog setelah peristiwa penutupan multiply (blog yang paling asyik karena komunitasnya) pada Maret 2013. Tulisan-tulisan di sana terancam hilang. Walau migrasi post masih bisa dilakukan tapi saya berpikir akan lebih baik kalau postingan-postingan itu dibukukan saja. Dengan 2 blog yang aktif, blogpost dan multiply, saya menganggap kalau itu bisa jadi bahan buku solo pertama saya.

Apa hendak di kata, kesibukan membuat saya tidak sempat-sempat untuk mewujudkan keinginan itu. Tugas-tugas kantor membuat saya agak menjauh dari menulis dan ngeblog, harapan membuat buku pun semakin memudar.

Sebenarnya ada satu ganjalan besar, tema buku. Maunya sih membuat buku motivasi, eh isi blog kebanyakan cerita tak terlalu penting dan curhat ga jelas. Terlalu random, acak dan tak beraturan. Bisa membuat pembaca bukannya termotivasi tapi mungkin malah mengernyitkan dahi dan senyum kecut. Hingga di awal 2016, Aha! moment terjadi-sebuah pencerahan (qeqe). Saya yang sudah suka bulutangkis (suka nonton dan komen lebih tepatnya) atau istilah kerennya Badminton Lovers aka BL, ternyata sudah lama juga menuliskan berbagai momen bulutangkis ke dalam blog. Pas sudah, saya blogger yang suka bulutangkis kenapa ga bikin buku tentang bulutangkis saja. (why not??!!).

Meski jika dihitung-hitung jumlah postingan bulutangkis belum seberapa, saya bertekad bulat. Momen Olimpiade Rio 2016 jadi patokan, bukunya kalau bisa udah ada di 2016.

Mulailah saya mencicil tulisan, setiap selesai turnamen sebisanya saya posting di blog yang baru (blog ini), pianochenk.wordpress.com-blog pengganti multiply. Ngeblog yang dulunya sangat bergantung mood, saya upayakan agar berubah. Musti, kudu, harus nulis tiap ada turnamen/kejuaraan besar.

Fokus saya di kejuaraan level Super Series atau yang setara. Atau setiap ada pebulutangkis Indonesia yang menang. Kalau di kejuaraan besar dan Indonesia tidak dapat gelar, maka tidak saya tuliskan. Kenapa? Karena sakit banget rasanya (hahaha, BL baperan ini mah).

Bentuk buku mulai terlihat di pertengahan 2016. Sayang target sebelum Olimpiade Rio tidak tercapai. Alhamdulillah-nya, Indonesia dapat medali emas di Rio. Perasaan kecewa di 2012 terobati di 2016. Momen ini saya kekalkan ke dalam konsep buku, keterpurukan Bulutangkis Indonesia di 2012 menuju kebangkitan di 2016.

Bahan dan konsep buku akhirnya tuntas di awal Januari ini. Saya minta teman penulis ( Hairi Yanti) yg juga BL untuk “menilai”nya sedikit. Syukurlah dapat penilaian yang lumayan, bukunya layak baca walau ga wah-wah amat, hehe.

Akhir Januari saya masukkan ke penerbit indie, Leutika Prio. Penerbit yang sudah pernah berkerjasama menerbitkan buku teman saya, Labuhan-Tiara Rumaysha. Leutika Prio sengaja saya pilih karena saya puas dan yakin dengan kualitas terbitan mereka.

Akhir Februari bukunya sudah terbit di Leutika Prio, dan awal Maret ini sudah sampai ke tangan saya. Alhamdulillah.

Badominton to Watashi: My Badminton Diary adalah buku solo pertama saya, buku yang lahir dari tulisan-tulisan tentang bulutangkis (Indonesia) di blog saya.

*Badominton to Watashi artinya Bulutangkis dan Saya (Jepang)

Bagi yang mau pesan, bisa ke sini,

http://www.leutikaprio.com/produk/110223/olahraga/17031471/badominton_to_watashi/14086220/pia_haruddin 

atau hubungi saya di WA 085241717975, email di piaharuddin@gmail.com.

Harga 42 ribu di luar ongkir ( kalo pesan di Leutika 41.600 tapi ga pake tandatangan ;-P ).

cymera_20170310_212540.jpg

Sughoi, Japan^^

Jepang datang ke Kejuaraan Beregu Campuran Asia (Asia Mix Team Champs 2017) di Vietnam dengan kekuatan penuh.  Mengandalkan  pemain-pemain top mereka seperti ganda Takeshi Kamura-Keigo Sonoda dan Misaki Matsutomo-Ayaka Takahashi serta tunggal putri  Akane Yamaguchi, mereka pun akhirnya melaju ke final yang berlangsung hari ini, Ahad (19/2). Meski sempat kalah di penentuan juara grup dari Thailand, namun Jepang membuktikan kalau tim beregu mereka adalah yang paling solid di Asia kali ini.

Bertemu dengan Indonesia di perempat final dan sempat tertinggal 2-0 di awal, mereka bisa mengungguli Indonesia dalam 3 nomor berikutnya. Selanjutnya di semi final kemarin, Jepang berhadapan dengan tim kuat China. China yang belum sekalipun kehilangan angka dalam perjalanan ke semifinal, mereka kalahkan dalam kedudukan 3-1 dengan hanya melepas nomor ganda campuran di nomor awal.

Final tadi siang menampilkan pertarungan Jepang dengan negara Asia Timur lainnya, Korea Selatan. Korea yang juga datang dengan tim utama maju ke final setelah mengalahkan Thailand juga dengan skor yang sama, 3-1, ternyata tak mampu berbicara banyak di final kali ini. Korea takluk 0-3 tanpa balas dari Jepang.  Kim Gi Jung-Yoo Yeon Seong, Jeon Hyeok jin, dan Sung Ji Hyun kalah dua gim langsung dari masing-masing Takeshi Kamura-Keigo Sonoda, Kenta Nishimoto dan Akane Yamaguchi.  Jepang kembali merebut gelar bergengsi setelah Piala Thomas 2014 yang lalu. Congrats, Japan!

Pencapaian Indonesia.

Indonesia memiliki target semifinal di ajang ini, sayang harus terhenti di perempat final oleh sang Juara, Jepang.  Sejak pemilihan pemain, saya memang sudah pesimis. Bisa dibilang kita hanya mengirimkan pemain lapis dua selain nomor ganda putra.  Namun, satu yang menjadi kelegaan atau mungkin lebih tepatnya kejutan adalah mulai bangkitnya Tunggal Putri kita. Nomor yang selalu dihina dina oleh para BL ini satu kali pun tak pernah kalah, selalu menyumbang poin (thumbs up for our new coaches!!).

Hasil di Vietnam kali ini bisa menjadi gambaran bagi Piala Sudirman Mei nanti di Australia, karena beberapa negara telah turun dengan kekuatan utamanya. Sekarang menjadi pekerjaan rumah buat Indonesia untuk lebih menyiapkan skuad yang akan turun di sana. Yang pasti pemain-pemain terbaik yang akan dipilih sebab Piala Sudirman adalah salah satu target PBSI di tahun ini.