Tanpa Lee Yong Dae, Korea Juara Piala Sudirman

China kembali kehilangan piala berharganya setelah tahun lalu gagal di Piala Thomas. Kali ini di Piala Sudirman dengan status sangat diunggulkan di awal turnamen, China kalah secara dramatis 3-2 dari Korea Selatan (Korea).

Semula, sama seperti kebanyakan prediksi, saya beranggapan China akan unggul dari Korea di final ini. Tahun lalu saat berhadapan dengan Korea di Final Piala Uber, China menang mudah 3-1 meski kehilangan satu nomor di partai ganda putri. Tahun ini, dengan format beregu campuran-nya, China tetap jadi unggulan karena kekuatannya yang merata di semua nomor.

Sementara Korea dianggap sebagai tim yang paling lemah di antara tim unggulan. Ditinggalkan para bintangnya, seperti Lee Yong Dae dan Yoo Yeon Seong, Ko Sung Hyun dan Shin Baek Cheol, serta Kim Gi Jung dan Kim Sa Rang, banyak yang menyangsikan Korea bisa bertahan sampai babak penyisihan. Namun semua prediksi buyar saat Korea melaju ke semifinal setelah menundukkan Taiwan yang sempat mengalahan mereka di babak penyisihan grup. Tanpa bintang ganda putra, mereka mempercayakan Seo Seung Jae, pemain mudanya untuk bermain. Pemain yang bahkan lebih sering bermain tunggal di turnamen reguler.

China ke final Sudirman dengan melalui pertarungan melawan Jepang di semifinal. Pertarungan yang tak kalah sulitnya hingga harus melalui lima partai. China menang 3-2 setelah ganda Jepang yang juga nomor 1 dunia, Misaki Matsutomo-Ayaka Takahashi takluk dari Chen Qin Chen-Jia Yifan. Sedangkan Korea ke final setelah menang atas Thailand 3-1.

Di final yang berlangsung di kota Goldcoast, Australia, partai pertama China unggul lewat pasangan peraih emas Olimpiade Rio Fu Haifeng-Zhang Nan. Tanpa kesulitan mereka berhasil mengatasi pasangan muda Seo Seung Jae-Choi Sol Gyu. Namun di partai selanjutnya, Korea menyamakan kedudukan 1-1. Sung Ji Hyun menang atas He Bingjiao dua set langsung. Di partai tunggal putra berikutnya, China menurunkan pemain terbaiknya dan juga peraih emas Olimpiade Rio, Chen Long, sementara Korea dengan pemain mudanya Jeon Hyeok Jin. Kalah kelas, Jeon menyerah dua set langsung. China unggul 2-1.

Hanya membutuhkan 1 partai lagi, China menurunkan ganda putri terbaiknya, psangan yang juga diturunkan saat semifinal, Chen Qing Chen-Jia Yifan. Melawan Juara All England tahun ini, Chang Ye Na- Lee Seo Hee, China sepertinya yakin akan bisa merebut nomor ini. Rekor pertemuan sebelumnya 6-0 buat Chen-Jia atas Chang-Lee menjadi modal prediksi ini.

Tapi, pertandingan berlangsung di lapangan bukannya di atas kertas. Dengan meyakinkan, Chang dan Lee “membabat” Chen dan Jia dalam 2 gim langsung. Pertandingan pun harus diperpanjang sampai partai ke-5.

Partai penentuan, ganda campuran, China kembali menurunkan pemain terbaiknya. Huang Yaqiong dan Lu Kai yang sudah menjuarai All England dan beberapa gelar bergengsi tahun ini bertemu dengan Chae Yoo Jung-Choi Sol Gyu. Pertandingan berlangsung alot di gim pertama, susul-menyusul poin terjadi. Namun ganda Korea lebih tenang, mereka mampu menutup gim pertama 21-17. China mulai cemas, kehilangan gim kedua berarti kehilangan Piala Sudirman, piala yang sudah sejak 2005 bersama mereka.

Chae dan Choi makin bersemangat di gim kedua, kepercayaan diri mereka semakin berlipat-lipat. Sementara Huang dan Lu semakin sering membuat kesalahan. Aura juara tak nampak, yang terlihat hanya wajah-wajah kebingungan. Pertandingan berakhir di angka 21-13 bagi keunggulan Chae-Choi sekaligus memastikan gelar Juara Piala Sudirman untuk Korea setelah 14 tahun lalu juga juara di Eindhoven, Belanda.

Menurut saya kunci kemenangan Korea kali ini adalah kekompakkan. Dengan materi yang lumayan walau timpang di ganda putra, kekuatan mereka juga merata. Pemain tunggal mereka bukan pemain sembarangan, ganda putri pun bukan asal-asalan. Ganda campuran walau bukan 10 besar dunia namun sangat solid. Sementara di ganda putra, meski tanpa pemain bintang, tradisi ganda putra Korea tak bisa diremehkan. Kepercayaan kepada pemain mudanya juga tak main-main. Choi Sol Gyu yang baru 21 tahun menjadi motor di dua nomor sekaligus, ganda campuran dan ganda putra. Sedangkan China semakin rapuh di sektor putri. Tunggal dan ganda putri yang dulu selalu pasti menyumbang angka kini tak bisa berbicara banyak.

Jika berbicara Tim Korea Selatan maka tak akan bisa lepas dari Lee Yong Dae. Namun kali ini Korea tanpa Lee Yong Dae yang telah mengundurkan diri dari tim nasional selepas Olimpiade Rio. Meski tanpa sang bintang tenar, Korea berhasil juara Piala Sudirman. Bukti kalau semangat tim dan kekompakkan terkadang lebih punya peran dibanding nama besar.

Dengan kemenangan Korea di Sudirman kali ini, dan Denmark tahun lalu dengan Piala Thomas, bisa dipastikan peta persaingan bulutangkis dunia akan semakin menarik dan berwarna ke depannya.

(Soal Indonesia akan saya tulis kemudian…)

Advertisements

Berlebihan

Kue lapis, kolak, es buah dan gorengan tersaji di atas meja. Ini mungkin adalah pemandangan yang “wajar” selama bulan puasa. Berbagai makanan aneka macam menjadi menu berbuka puasa baik yang dibuat sendiri ataupun yang dibeli. Mumpung penjual makanan lagi ramai-ramainya.

Saat sedang berpuasa, terkadang sering terlintas keinginan mau makan apa di saat berbuka. Apalagi jika bertemu penjual makanan kaki lima yang banyak berjamuran di bulan ini, nafsu berbelanja makanan pun jadi tak terkendali. 

Ke pasar pun juga, para Ibu-ibu bersemangat untuk membeli banyak macam bahan makanan khas Ramadhan. Entah karena permintaan anak dan suami, atau karena pengaruh resep yang semakin gencar di medsos.

Tanpa sadar, di bulan ini konsumsi kita pun bertambah bahkan berlipat-lipat. Belum lagi belanja buat Lebaran nanti. Bukannya menahan nafsu, kita malah memperturutkan nafsu. Bukannya makan yang seharusnya berkurang dari 3 kali jadi 2 saja, ini malah seperti makan 4 kali sehari. Padahal yang bisa masuk ke perut hanya sedikit. 

Mungkin konsumsi kita yang berlebihan itu bisa kita “arahkan” buat memberi kepada yang lain. Bagi mereka yang membutuhkan dan yang sedang berpuasa juga. Karena kalau tak salah, memberi makan orang yang sedang beruasa pahalanya sama dengan pahala orang yang berpuasa. Wallahu a’lam.

Hari ke-3 Ramadhan, selamat berbuka puasa. 

(Catatan buat diri saya juga, berlebihan itu tak baik. Hindari.)

Sarung

Jingle iklan khas Ramadhan terdengar, bukan iklan sirup tapinya. Itu iklan sarung. Modelnya seorang aktor senior yang kini menjabat wakil gubernur (pasti tau dah, hehe). Saya bertanya ke Mama, “Ma, bagus sarungnya?”. “Heh, tidak. Tipiss” jawab Mama. 

Saya siy percaya ajah kata Mama. Soal sarung-sarungan, Mamalah jagonya. Tidak terhitung berapa lembar sarung yang dijualnya, bahkan dari jaman Bapak kuliah. Dalam memilih dan menjual sarung, Mama punya standar sendiri. Sarung yang tebal yang dijamin berdaya tahan lama, tak mudah sobek dilekang waktu. Motifnya pun tidak sembarangan, tidak norak dan sesuai dengan perkembangan jaman. Meski sekarang sudah tak seaktif dulu berjualan, tapi tak mengurangi kehandalannya dalam dunia per-sarungan. 

Eniwei, sudah hari ke-2 puasa. Selamat menjalankan ibadah puasa kawan-kawan.

All England 2017: Mimpi jadi nyata buat Kevin&Sinyo

All England 2017 telah selesai Senin (13/3) dinihari yang lalu. Lima juara dari lima negara telah menerima medali dan trofi, salah satunya Indonesia.

Kita datang ke Barclay Arena, Birmingham ini dengan kekuatan 18 pebulutangkis terbaik. Satu persatu berguguran dan akhirnya tertinggal 1 wakil di semifinal. Satu-satunya wakil tersebut adalah Kevin Sanjaya-Marcus Fernaldi Gideon, ganda putra nomor 1 Indonesia. Juara tahun lalu, Praveen Jordan-Debby Susanto yang ditargetkan mempertahankan gelar sudah duluan tersingkir, tragis di babak pertama.

Bertarung dengan duo Mads asal Denmark, Kevin dan Sinyo (panggilan Marcus) terasa amat sulit. Selain keduanya memiliki tinggi badan yang minta ampun jangkungnya (qeqe), pertemuan sebelumnya Kevin dan Sinyo selalu kalah, bahkan terakhir Desember lalu di Dubai, membuat mereka tidak berani memasang target yang muluk-muluk.

Kalah di gim pertama, harapan ke final pun terlihat berat. Beranjak ke gim kedua, Kevin-Sinyo pun juga tertinggal. Namun, momentum berubah setelah interval. Servis kejut Kevin memecah fokus ganda Denmark. Selepas itu, 10 poin beruntun didapat minions (julukan mereka) dalam sekali servis, kedudukan berubah drastis jadi game point buat mereka 20-12. Gim ini akhirnya mereka menangkan. Pertandingan harus diselesaikan dalam tiga gim penuh.

Gim terakhir, kejar-mengejar terus terjadi. Kedua pasangan yang punya pertahanan dan serangan kuat bermain dalam reli-reli panjang yang lama. Interval jadi milik Denmark dalam skor 11-10. Setelah itu, kedudukan selalu sama kuat hingga mencapai angka 17. Pasangan Indonesia terus menekan di akhir gim ini dan berbuah 4 poin beruntun yang menghasilkan kemenangan dan kesempatan maju ke partai final.

Final Impian 

Masuk ke final All England adalah impian setiap pemain bulutangkis dunia. Namun, mendapat gelar di sini bukanlah hal yang mudah. Itulah pula yang dirasakan Kevin dan Sinyo.

Berhadapan dengan pemain jangkung lainnya asal China, Li Junhui-Liu Yuchen, Kevin dan Sinyo sudah pernah kalah di Vietnam Grand Prix 2015 yang lalu. Pasangan ganda muda yang sepantaran Kevin itu bukanlah lawan yang gampang, mereka sudah punya 1 gelar Superseries tahun lalu. 

Awal-awal pertandingan masih terasa ketegangan di dua kubu, kejar-mengejar poin terus terjadi meski Kevin-Sinyo sempat unggul sebelum interval. Unggul 14-10 tapi pemain China bisa mengejar dan menyamakan kedudukan. Reli-reli pendek terjadi dan kejar-mengejar angka hingga skor sama 17-17.  Namun Kevin-Sinyo menyentuh poin 20 duluan, sayang mereka belum berhasil menyelesaikan gim pertama pada kesempatan pertama karena servis kejut (flick serve) Kevin di-fault oleh hakim servis. Di kesempatan kedualah akhirnya angka 21 dicapai setelah serobotan penerimaan servis Sinyo tidak mampu dikembalikan Liu Yuchen. 
Gim kedua berjalan lebih satu arah, Kevin-Sinyo lebih dominan. Pasangan China sering sekali berbuat kesalahan yang berbuah keunggulan hingga 18-10 bagi pasangan kita. Sinyo juga terlihat gugup dan melakukan kesalahan sendiri walau tak sebanyak pemain China. Namun akhirnya mereka bisa dengan tenang menutup gim kedua dan menuntaskan perlawanan China dengan skor 21-14. 

Bonus kemenangan lainnya adalah peringkat 1 BWF Ganda Putra bagi Kevin dan Sinyo menggeser pasangan Malaysia Goh V Shem-Tan Wee Kiong. Ini berarti mengembalikan kegemilangan ganda putra Indonesia setelah pasangan Moh. Ahsan dan Hendra Setiawan di 2013.

Kevin dalam wawancara di lapangan setelah pertandingan bilang kalau Juara All England adalah impiannya. Beberapa saat sebelumnya mereka berdua juga berujar kalau target mereka tahun ini salah satunya All England. Akhirnya, impian dan target itu terwujud bagi ganda yang baru dipasangkan 2 tahun ini di 2017 ini.

Selamat buat Kevin-Sinyo, ditunggu gelar yang lainnya. SEMANGAT!!

Badominton to Watashi: My Badminton Diary

Maret 5 tahun yang lalu di dalam sebuah pelatihan menulisnya Tere Liye, saya pernah bertanya kepada beliau, bagaimana dengan blogger yang menulis buku. Bang Tere liye menjawab kalau (penulis blog) itu bagus bahkan menganjurkan agar membukukan blog kita. Tekad makin membara untuk membukukan blog setelah peristiwa penutupan multiply (blog yang paling asyik karena komunitasnya) pada Maret 2013. Tulisan-tulisan di sana terancam hilang. Walau migrasi post masih bisa dilakukan tapi saya berpikir akan lebih baik kalau postingan-postingan itu dibukukan saja. Dengan 2 blog yang aktif, blogpost dan multiply, saya menganggap kalau itu bisa jadi bahan buku solo pertama saya.

Apa hendak di kata, kesibukan membuat saya tidak sempat-sempat untuk mewujudkan keinginan itu. Tugas-tugas kantor membuat saya agak menjauh dari menulis dan ngeblog, harapan membuat buku pun semakin memudar.

Sebenarnya ada satu ganjalan besar, tema buku. Maunya sih membuat buku motivasi, eh isi blog kebanyakan cerita tak terlalu penting dan curhat ga jelas. Terlalu random, acak dan tak beraturan. Bisa membuat pembaca bukannya termotivasi tapi mungkin malah mengernyitkan dahi dan senyum kecut. Hingga di awal 2016, Aha! moment terjadi-sebuah pencerahan (qeqe). Saya yang sudah suka bulutangkis (suka nonton dan komen lebih tepatnya) atau istilah kerennya Badminton Lovers aka BL, ternyata sudah lama juga menuliskan berbagai momen bulutangkis ke dalam blog. Pas sudah, saya blogger yang suka bulutangkis kenapa ga bikin buku tentang bulutangkis saja. (why not??!!).

Meski jika dihitung-hitung jumlah postingan bulutangkis belum seberapa, saya bertekad bulat. Momen Olimpiade Rio 2016 jadi patokan, bukunya kalau bisa udah ada di 2016.

Mulailah saya mencicil tulisan, setiap selesai turnamen sebisanya saya posting di blog yang baru (blog ini), pianochenk.wordpress.com-blog pengganti multiply. Ngeblog yang dulunya sangat bergantung mood, saya upayakan agar berubah. Musti, kudu, harus nulis tiap ada turnamen/kejuaraan besar.

Fokus saya di kejuaraan level Super Series atau yang setara. Atau setiap ada pebulutangkis Indonesia yang menang. Kalau di kejuaraan besar dan Indonesia tidak dapat gelar, maka tidak saya tuliskan. Kenapa? Karena sakit banget rasanya (hahaha, BL baperan ini mah).

Bentuk buku mulai terlihat di pertengahan 2016. Sayang target sebelum Olimpiade Rio tidak tercapai. Alhamdulillah-nya, Indonesia dapat medali emas di Rio. Perasaan kecewa di 2012 terobati di 2016. Momen ini saya kekalkan ke dalam konsep buku, keterpurukan Bulutangkis Indonesia di 2012 menuju kebangkitan di 2016.

Bahan dan konsep buku akhirnya tuntas di awal Januari ini. Saya minta teman penulis ( Hairi Yanti) yg juga BL untuk “menilai”nya sedikit. Syukurlah dapat penilaian yang lumayan, bukunya layak baca walau ga wah-wah amat, hehe.

Akhir Januari saya masukkan ke penerbit indie, Leutika Prio. Penerbit yang sudah pernah berkerjasama menerbitkan buku teman saya, Labuhan-Tiara Rumaysha. Leutika Prio sengaja saya pilih karena saya puas dan yakin dengan kualitas terbitan mereka.

Akhir Februari bukunya sudah terbit di Leutika Prio, dan awal Maret ini sudah sampai ke tangan saya. Alhamdulillah.

Badominton to Watashi: My Badminton Diary adalah buku solo pertama saya, buku yang lahir dari tulisan-tulisan tentang bulutangkis (Indonesia) di blog saya.

*Badominton to Watashi artinya Bulutangkis dan Saya (Jepang)

Bagi yang mau pesan, bisa ke sini,

http://www.leutikaprio.com/produk/110223/olahraga/17031471/badominton_to_watashi/14086220/pia_haruddin 

atau hubungi saya di WA 085241717975, email di piaharuddin@gmail.com.

Harga 42 ribu di luar ongkir ( kalo pesan di Leutika 41.600 tapi ga pake tandatangan ;-P ).

cymera_20170310_212540.jpg