What makes us getting harder to sleep?

What makes us getting harder to sleep? Salah satunya lampu, penemuan manusia yg mengubah peradaban. Bayangkan dunia tanpa lampu. Zaman masih kecil dulu, kampung saya termasuk yang belum terjamah lampu secara menyeluruh. Saat malam hari, kami pasti tidur cepat. Suasana yang gelap membuat syaraf2 pasti mudah untuk terlelap. Bandingkan dgn masa kini, dimana tak ada tempat yg aman dari lampu dan sejenisnya. Sebut saja telpon genggam. Cahaya yg dipancarkan layarnya setara dengan lampu 1 watt. Dan ini masih bisa membuat kita terjaga meski dng lampu kamar padam. Lampu membuat manusia terjaga lebih lama, dan ini yang membuat banyak kemudian yg bermasalah dng tidurnya, sleeping disorder. Termasuk saya malam ini.

Urat

Sepulang acara sosialisasi kemarin, perutku mulai bermasalah. Gini emang kalau setelan perut kampung, jadinya ga cocok dengan makanan hotel.

Diare mendera, meski ga terlalu tapi buat malas makan, dan mesti makan bubur. Ditambah nyeri haid, makin lengkaplah semua.

Untuk mengatasi, saya hanya sering minum air hangat dan madu, ditambah air rebusan daun jambu. Sudah beberapa tahun ini, daun jambu menjadi andalan di saat diare. Selain ada di depan rumah, saya juga berprinsip sebisa mungkin hanya pakai herbal bukan obat seperti kebiasaan dulu.

Namun, pagi ini ternyata diare masih berlanjut.
Bingung jadinya. Padahal biasanya sehari juga sembuh.

“Oh, urat itu. Diurut saja pahamu,” kata Mama saat saya bertanya penyebab diare berkepanjangan ini. Sebagai info, di budaya orang Muna terutama pengobatan tradisional, urat adalah istilah untuk bagian tubuh yang berperan penting. Jika tubuh sakit, maka dicarilah urat mana yang terganggu dengan dipijit atau diberi air hangat (yang ekstrim adalah diberi siraman air panas/mandi air panas).

Orang yang pandai memijat urat tidak sembarangan, perlu latihan. Dan alhamdulillahnya, ada tante dari kampung yang sedang berkunjung. Pada dialah saya percayakan pemijatan. Daun jambunya juga tetap saya minum, dengan kepekatan yang lebih dari kemarin.

Hope all be better for me.

Malas Debat.

di dunia maya dan dunia nyata.

Beneran deh, malas banget berdebat panjang lebar yg ga jelas manfaatnya.

Jadi, kemarin
siang, sambil nunggu di sebuah acara, saya duduk santai di kamar panitia dan nonton infotainment (yah, benar saudara, tak lain dan tak bukan infotainment).
Terus, muncullah tayangan mantan artis cilik yg kini berubah status jadi wanita, si DR.
Salah seorang panitia cewek nyeletuk, “itukan si G******, anggota trio KwekKwek”.
What?? Sejak kapan G****** jadi anggota trio artis cilik paling beken dulu?? Dan sejak kapan dia berubah jadi wanita? Ckckck.
Info yang salah dan pembunuhan karakter. Gugling punya hasil, ternyata beberapa forum, blog memang menyebut si G****** adalah si DR. Dan, saya berasumsi kalau mereka memang hanya “menyambar” info itu tanpa cek ricek. Padahal, di sebuah berita online, si DR sudah mengklarifikasi kalau dia dulunya bukan bernama G******* atau anggota trio KwekKwek.

Jujur, saya ingin beradu argumen sebentar. Tapi, ini hanya akan buang waktu. Apalagi, saya mesti gugling sebab info yang saya miliki masih kurang kuat (guglingnya setelah pulang ke rumah), urunglah niat itu.
Kejadian ini memang sepele. Tapi, buat saya ini seperti cermin kalau kita sekarang mudah sekali menyebarkan info tak benar atau hoax (termasuk saya juga mungkin).

Balas SMS

“Assalamualaikum, pia. Pa kbar? Bla..bla..bla..” sebuah pesan masuk ke telepon genggamku.
Aku, “Oke.”
“Mbak pia, gmana caranya buat…bla..bla..” pesan lain masuk lagi.
Aku,”Oke.”
Kemudian pesan-pesan yang lain lagi.
Yang jadi masalah adalah kebiasaanku yang telat balasnya, bahkan ada yang beberapa hari kemudian.
Atau, yang parahnya, aku balas SMS dalam hati, hedeuh.

Firasat (2)

Kau tau apa itu firasat?

Mungkin ini.

Kemarin dulu dan malam sebelumnya, ada perasaan yang sangat tak enak melanda. Sangat, sangat tak enak. Bukan galau (beneran bukan galau), dan anehnya tak tahu apa sebabnya.

Kau tahu apa yang terjadi hari berikutnya? Sebuah barang penting dan berharga hilang (dan terjadi di dalam kamar). Barang yang kubeli dengan uang hasil keringat sendiri, barang yang membantu membuat beberapa buku.

What a life!