Jumpalitan Kerja dari Rumah dengan Laptop Baru yang Lebih Besar, ASUS VivoBook 15 A156!

Sudah lama tidak meng-update postingan. Hampir saja blog ini penuh debu, hehe. Terakhir saya menulis di blog ini pada bulan Februari tahun lalu, sebelum masa-masa suram Pandemi menyerang (catatan, satu postingan di minggu lalu itu adalah pemanasan sebelum saya rajin menulis lagi di sini).

Tahun lalu di bulan Maret, pemerintah menyatakan adanya masa darurat Pandemi Covid-19. Masyarakat diminta untuk membatasi kegiatan di luar rumah yang bisa menyebabkan kerumunan. Dimulailah masa Bekerja dan Belajar dari Rumah. Kantor saya juga menjalankan kebijakan itu. Terhitung di pertengahan bulan Maret itu, aktivitas kami di kantor mulai dibagi antara yang bekerja di kantor (Work from Office, WFO) dan bekerja dari rumah (Work from Home, WFH). Saya masuk ke tim WFH, karena jarak rumah saya yang jauh dari kantor dan juga karena saya masih menggunakan transportasi umum (angkot) ke kantor. Hampir semua pegawai yang tidak berurusan dengan operasional inti masuk ke tim WFH.

Bekerja dari rumah, saya memakai laptop yang baru saya beli beberapa bulan sebelumnya. Laptop yang saya dapatkan lewat platform belanja online itu mulanya saya beli karena laptop yang lama mulai bermasalah dan saya sudah tidak terlalu nyaman memakainya. Laptop yang terakhir ini sebetulnya hanya akan saya pakai sesekali saja dalam seminggu, untuk ngeblog dan nonton drama. Tapi akhirnya situasi pandemi berujung WFH ini membuat saya harus memakainya setiap hari.

Karena memang bukan diperuntukkan untuk pekerjaan yang berat, maka laptop saya ini hanya memiliki spesifikasi standar buat ngetik-ngetik ringan. Ukuran layarnya lebih kecil dari laptop saya yang lama. Prosesornya juga masuk ke kelas yang murah sesuai dengan bujet saya waktu itu. Awal-awal WFH dengan laptop kecil saya itu masih berjalan dengan baik. Namun setelah beberapa minggu, kendala di laptop saya pun mulai muncul. Karena dipakai hampir tiap hari dengan durasi lebih dari 5 jam tiap hari, beberapa kali bahkan lebih dari 8 jam.

Alhamdulillah di bulan Juli, saya mulai kembali masuk kantor walaupun dengan jadwal kerja yang baru, kombinasi WFH dan WFO. Penggunaan laptop di rumah pun juga ikut berkurang. Meski demikian, masa-masa total WFH membuat saya sadar betapa pentingnya memiliki laptop yang bagus dan handal. Sebelumnya, saya punya anggapan kalau handphone atau telepon genggam terutama smartphone (ponsel pintar) sudah bisa menggantikan peran komputer atau laptop. Namun ternyata anggapan saya salah, terbukti di era pandemi seperti sekarang. Kita masih memerlukan komputer atau laptop untuk mengerjakan berbagai pekerjaan yang membutuhkan kompleksitas dan banyak fungsi, yang tak bisa dihasilkan dengan memakai smartphone saja.

Masa-masa pandemi juga mengajarkan saya kalau laptop yang bagus itu sangat amat penting!! Salah satunya seperti Laptop ASUS VivoBook 15 A516. Layarnya cukup besar, yaitu 15,6 inci, dan memiliki teknologi nanoedge serta sudut pandang 178° yang luas, sehingga cocok untuk berbagai keperluan. Layar yang besar juga berdampak baik bagi mata kita apalagi jika menggunakan laptop dalam waktu yang lama. Harganya juga lumayan terjangkau, mulai dari 5 hingga 11 jutaan.

Laptop ASUS VivoBook 15 A156

Nikmati semua manfaat dengan PC yang lengkap – PC sudah termasuk Office Home & Student 2019. Aplikasi Office versi lengkap (Word, Excel dan PowerPoint) memberikan semua fungsi yang dibutuhkan dan diharapkan oleh penggunanya. Penggunaan aplikasi Office seumur hidup dapat memastikan Anda untuk selalu memiliki akses ke fitur yang Anda kenal dan sukai. Dilengkapi dengan 100% aplikasi Office asli, software juga akan terus mendapatkan pembaruan keamanan yang rutin untuk melindungi perangkat, program dan data Anda. Dengan adanya aplikasi Ms. Office yang asli, maka akan mempermudah berbagai pekerjaan secara mayoritas berkas perkantoran memiliki format Ms. Office. Ini sesuai juga dengan prinsip saya yang sebisa mungkin menghindari pemakaian aplikasi bajakan, yang bisa berpengaruh ke performa laptop atau PC kita.

Laptop dengan prosesor Intel® Core™ 10th Gen series ke atas didesain untuk performa dan mobilitas. Dengan efisiensi yang tinggi serta dimensi thin and light, laptop menawarkan peningkatan performa dan produktivitas untuk penggunanya. Konektivitas WiFi generasi terbaru juga memungkinkan transfer data 3x lebih cepat dibanding generasi sebelumnya. Prosesor intel terbukti memberikan performa yang terbaik. Salah satu kelebihannya adalah tidak cepat panas. Sementara konektivitas dengan WiFi adalah kebutuhan masa sekarang dimana mayoritas gawai (gadget) terhubung secara nirkabel.

Laptop ASUS VivoBook 15 A156

Komputer masa kini memiliki tampilan berbeda karena mereka memang berbeda. Dengan solid-state drive (SSD) dan teknologi terkini, Anda mendapatkan kecepatan, keamanan, ketahanan, dan desain yang cantik. Kami telah melakukan jajak pendapat, dan hasilnya, orang-orang lebih senang saat bepergian dengan PC modern.

Kesimpulannya, dengan laptop yang lebih besar dan memiliki harga yang terjangkau seperti ASUSU VivoBook 15 A156, maka berbagai pekerjaan bisa dapat dengan mudah dan cepat diselesaikan, terutama di masa-masa pandemi seperti ini yang memaksa kita untuk bekerja atau belajar dari rumah.

*Spesifikasi Asus VivoBook 15 A156

CPUProsesor Intel® Core™ i5-1035G1 1,0 GHz (Cache 6M, hingga 3,6 GHz)
Prosesor Intel® Core™ i3-1005G1 1,2 GHz (Cache 4M, hingga 3,4 GHz)
Prosesor Intel® Celeron N4020 1.1GHz (Cache 4M, hingga 2.8GHz)
Sistem OperasiWindows 10
MemoriHingga 8GB DDR4 RAM
Penyimpanan256GB PCIe® Gen3 x2 SSD512GB PCIe® Gen3 x2 SSD1TB HDD + 256GB PCIe® Gen3 x2 SSD
Tampilan15.6″, FHD (1920 x 1080) 16:9, Anti-silau15.6″, HD (1366 x 768) 16:9, Anti-silau
GrafisNVIDIA GeForce MX330 (opsional) Intel UHD Graphics
Input Output1x USB 3.2 Gen 1 Tipe-A, 1x USB 3.2 Gen 1 Tipe-C, 2x USB 2.0 Tipe-A, 1x HDMI 1.4, 1x 3.5mm Combo Audio Jack, pembaca kartu Micro SD
KameraKamera Web VGA
KonektivitasWi-Fi 5 (802.11ac), Bluetooth 4.1
AudioSonicMaster, Audio oleh ICEpower®, Speaker internal, Mikrofon internal
Baterai37WHrs, 2S1P, Li-ion 2 sel
Dimensi36,02 x 23,49 x 1,99 ~ 1,99 cm
Bobot1,8 Kg
WarnaSlate Grey
Peacock Blue
HargaRp5.299.000 (Celeron N4020/HD/Intel UHD Graphics/4GB/256GB SSD)
Rp5.399.000 (Celeron N4020/FHD/Intel UHD Graphics/4GB/256GB SSD)
Rp7.599.000 (Core i3/HD/Intel UHD Graphics/4GB/256GB SSD + 1TB HDD)
Rp7.899.000 (Core i3/FHD/Intel UHD Graphics/4GB/256GB SSD + 1TB HDD)
Rp7.799.000 (Core i3/FHD/GeForce MX330/4GB/256GB SSD)
Rp8,199.000 (Core i3/FHD/GeForce MX330/4GB/512GB SSD)
Rp10.999.000 (Core i5/FHD/GeForce MX330/4+4GB/256GB SSD + 1TB HDD)
Rp11.099.000 (Core i5/FHD/GeForce MX330/8GB/256GB SSD + 1TB HDD)
Ms. OfficeSudah termasuk Office Home and Student 2019

*Artikel ini diikutsertakan dalam ASUS – 15 Inch Modern PC. Bigger Dream, Wider Screen Writing Competition bersama dewirieka.com

Keampuhan Minyak Tawon

Pemberitahuan. Artikel ini bukan iklan, ya!

Sesuatu yang sering dengan mudah kita dapati biasanya akan mudah kita abaikan manfaatnya. We take it for granted-kalau istilah Baratnya. Begitu pula dengan minyak gosok yang satu ini, Minyak Tawon.

Ada apa dengan Minyak Tawon?

Sedari kecil, kami sekeluarga akrab dengan minyak ini. Minyak ini selalu hadir dalam keseharian kami, terutama saat sakit. Demam, digigit serangga, terkilir, keseleo, sakit gigi, sakit perut, kembung, masuk angin. You name it! Bisa dikatakan ini minyak ini dapat menyembuhkan atau meredakan gejala berbagai penyakit yang sering diidap oleh tipikal keluarga di Indonesia.

Seiring waktu, peran Minyak Tawon pun tergeser. Munculnya minyak-minyak pesaing yang baru dan obat-obatan praktis lainnya menggerus kehadiran Minyak Tawon di dalam rumah keluarga Indonesia.

Namun, sebenarnya ada satu hal yang menjadi faktor penting kenapa Minyak ini bisa menurun popularitasnya-kualitas.

Konon beredar kabar kalau kualitas Minyak Tawon sekarang sudah tak sama dengan yang dulu, itulah mengapa khasiatnya juga tak seampuh dulu. yang membuat banyak yang meninggalkannya. Masuk akal juga sih. Minyak gosok yang diproduksi sudah lama itu pasti mengalami kesulitan mempertahankan kualitas ramuan minyaknya.

Minyak Tawon memang masih saya dan keluarga temui di dalam rumah, tapi kepercayaan akan keampuhannya sudah berkurang jauh, hingga…


Tiap hari, saya biasanya gugling tentang hal-hal yang mengganggu atau terpikir dengan tak sengaja, Begitu pula dengan satu hari, tiba-tiba saya ingin gugling tentang Minyak Tawon.

Sebenarnya saya tahu kalau minyak ini berasal dari Sulawesi Selatan, tapi dengan gugling maka informasi yang saya dapatkan lebih terpercaya. Minyak yang diberi nama Minyak Gosok Cap Tawon diproduksi oleh PT. Tawon Jaya Makassar sejak tahun 1912 atau lebih dari 100 tahun yang lalu. Komposisinya juga bukan main-main. Minyak kayu putih, minyak kelapa, jahe, bawang putih, minyak serai, lada, lengkuas, dan bahan lainnya.

Semua hasil gugling saya tentang Minyak Tawon seperti membangkitkan kepercayaan terhadap minyak ini kembali.

Dan kemudian saya membuktikan kembali keampuhan minyak ini.

Jempol kaki yang cantengan beberapa minggu tak sembuh-sembuh akhirnya bisa kering dengan sering dioleskan Minyak Tawon secara rutin. Padahal saya sudah frustasi karena sudah mencoba berbagai metode dan obat, tidak ada yang membuahkan hasil memuaskan. Alhamdulillah.

2,5 poin Ahsan dan Hendra bagi Indonesia: BATC 2020 Filipina

Kejuaraan Beregu Asia (Badminton Asia Team Championships) kembali bergulir, diselenggarakan di Manila, Filipina pada 11 hingga 16 Februari lalu. Even ini menjadi salah satu turnamen yang terkena imbas wabah Virus Corona. Para pemain dari China dan Hongkong serta tim Putri India memutuskan tidak ikut karena larangan memasuki Filipina (buat tim China dan Hongkong) serta ketakutan akan wabah ini (tim Putri India).

Tim Indonesia tetap berangkat dengan banyak persiapan ekstra menangkal wabah Corona yang sudah memasuki wilayah Filipina. Status juara Tim Beregu Putra dua kali berturut-turut (2016 dan 2018) membuat Indonesia menjadi salah satu unggulan yang sangat diperhitungkan. Indonesia turun dengan kekuatan penuh, baik Putra maupun Putri.

Pasangan ganda putra yang dibawa adalah 3 pasang yang terbaik, Kevin Sanjaya-Marcus F. Gideon, Moh. Ahsan-Hendra Setiawan dan Fajar Alfian-M. Rian Ardianto. Begitu pula dengan tunggak putra, Anthony Ginting dan Jonatan Christie juga ikut berpartisipasi. Selain demi mempertahankan gelar, poin dari kejuaraan ini akan dihitung dalam poin kualifikasi Olimpiade Tokyo yang sangat dibutuhkan oleh pemain-pemain tersebut.

Indonesia tergabung dengan Korea Selatan di grup A pada Beregu Putra (Men’s Team). Grup A hanya dihuni 2 negara saja sebab negara peserta berkurang akibat China dan Hongkong yang mundur dari turnamen. Pada pertarungan di grup ini, Indonesia menang dengan skor 4-1 atas Korea Selatan dan otomatis menjadi juara grup. Ahsan dan Hendra tidak diturunkan di sini. Hendra yang belum fit setelah ikut turnamen liga PBL India beberapa hari sebelumnya dikhawatirkan belum siap untuk bermain.

Setelah lolos di putaran grup, kemudian akan masuk ke babak penyisihan (knock-out stage). Akan ada perempat final, semi final dan final yang diikuti oleh 8 negara yang lolos dari 4 grup. Dari hasil undian, tim Putra Indonesia akan bertemu dengan Filipina, dan akan berhadapan dengan pemenang antara India dan Korea jika berhasil menang.

Moh. Ahsan dan Hendra Setiawan akhirnya diturunkan di perempat final. Melawan ganda Filipina yang berperingkat 186 BWF, Peter Gabriel Magnaye-Alvin Morada, mereka menang dalam 2 gim, 21 16, 21-12, dalam waktu yang cukup cepat 20 menit. Indonesia memenangi laga ini dengan perolehan akhir 3-0 dan akan menghadapi India yang menang secara ketat 3-2 atas Thailand.

India bukanlah tim yang gampang untuk ditaklukkan. Mereka biasanya punya strategi-strategi ajaib di kejuaraan beregu. India bisa memasang pemain tunggalnya untuk bermain ganda jika perlu. Dan strategi ini kembali mereka lakukan di BATC 2020. Laksyha Sen, pemain yang baru berusia 18 tahun, diturunkan di dua nomor, tunggal kedua dan ganda kedua.

Ahsan dan Hendra juga bermain di pertandingan kontra India. Tampil sebagai ganda pertama, mereka sukses mengambil poin kemenangan kedua bagi Indonesia. Ganda yang mereka hadapi adalah M.R Arjun-Dhruv Kapila. Unggul di gim pertama 21-10, namun Ahsan-Hendra kesulitan di gim kedua hinggal kalah 14-21. Di gim ketiga mereka sudah mencapai angka match point 20-17 duluan, namun tersusul oleh pasangan India dan setting point terjadi hingga 2 kali. The Daddies kemudian bisa menuntaskan pertandingan 23-21.

Semi final Indonesia vs India berakhir dengan skor 3-2 untuk Indonesia. India mengambil angka dari tunggal kedua dan ketiga, sementara Indonesia unggul di tunggal pertama dan kedua nomor ganda. Sukses mengalahkan India, tim Putra Indonesia maju ke babak akhir, final, dan akan bertemu dengan tim negeri jiran, Malaysia. Malaysia menumbangkan tim kuat juara Piala Thomas 2014, Jepang, di semi final lainnya dengan skor 3-0.

Melawan Malaysia sudah pasti berjalan seru. Indonesia dan Malaysia sudah bersaing dalam perbulutangkisan sejak lama. Meski peringkat pemain-pemain Malaysia berada di bawah Indonesia, namun tim Malaysia tidak bisa diremehkan. Terbukti mereka bisa mengalahkan Jepang 3-0 tanpa balas.

Ahsan-Hendra tidak bermain kali ini. Moh. Ahsan malah dipasangkan dengan Fajar Alfian sebagai ganda kedua. Sepertinya Hendra Setiawan dalam keadaan kurang fit, dan head to head Fajar-Rian vs Ong Yew Sin-Teo Ee Yi kurang menguntungkan, sehingga tim pelatih memutuskan menduetkan Ahsan dan Fajar.

Pelatihlah yang lebih tahu para pemainnya di lapangan. Dan benar saja, racikan baru Ahsan-Fajar rupanya manjur. Turun di partai keempat dan dalam keadaan unggul 2-1, duet anyar ini bisa menang 2 gim langsung, 21-18 21-17. Mereka menang dan sekaligus mengantarkan Tim Putra Indonesia meraih gelar Juara Beregu Putra BATC 2020 untuk kali ketiga berturut-turut setelah 2016 dan 2018.

Setelah BATC 2020 kelar, Ahsan dan Hendra serta tim Indonesia akan bersiap buat turnamen prestisius All England Super 1000 yang akan diselenggarakan di pekan kedua bulan Maret depan.

 

Semifinalis & Finalis, Ahsan dan Hendra di Awal Tahun 2020

Tahun 2019 lalu adalah tahun yang gemilang buat Ahsan dan Hendra. Beberapa gelar bergengsi dan didapatkan dari puluhan final yang mereka berhasil ditapaki. Pencapaian nomor 2 di rangking ganda putra BWF dan juga kualifikasi Race to Tokyo menjadi bukti kecemerlangan mereka tahun lalu.

Namun, bukan berarti mereka bisa bersantai di awal tahun ini sebab berbagai kejuaraan sudah menunggu. Di pekan kedua Januari, Malaysia Masters akan berlangsung di Kuala Lumpur-Malaysia. Pekan selanjutnya ada kejuaraan Indonesia Masters yang diadakan di Jakarta.

Malaysia Masters tahun lalu Ahsan dan Hendra harus terhenti di babak kedua. Tahun ini, mereka berharap untuk lebih baik dari sebelumnya. Babak pertama, mereka bertemu dengan pasangan senior dan junior asal China, Zhang Nan-Ou Xuanyi. Walau berlangsung ketat, mereka pun bisa menang dalam 2 gim, 21-19 24-22. Tantangan berat berikutnya mereka hadapi di perempat final. Bertemu dengan unggulan ketujuh dari Taiwan, Lee Yang-Wang Chilin, pertandingan berlangsung hingga gim ketiga. Tertinggal di gim pertama, Ahsan-Hendra membalasnya di dua gim berikutnya. The Daddies menang dengan skor 20-22 21-18 21-19. Melaju ke seminal, mereka kemudian berhadapan dengan Duo Menara, Li Junhui-Liu Yuchen.

Terakhir bertemu dengan Li dan Liu di semifinal Hongkong Terbuka November tahun lalu. Saat itu mereka menang dalam 3 gim. Melawan ganda kuat China ini pasti selaluberlangsung seru. Begitu pula kali ini. Ahsan dan Hendra tertinggal di gim pertama, namun bangkit di gim kedua. Di gim penentuan, setelah terjadi tiga kali setting, mereka kalah 22-24. Gagal ke final, mereka langsung pulang ke tanah air untuk bersiap-siap bermain di Indonesia Masters.

Babak pertama dan kedua di Jakarta, mereka belum bertemu dengan hadangan yang berarti. Barulah di perempat final, mereka bertemu dengan lawan yang tangguh. Lawan yang sama mereka hadapi di perempat final pekan sebelumnya, Lee Yang-Wang Chilin dari Taiwan. Bermain dalam tiga gim, Ahsan-Hendra berhasil kembali mengalahkan Lee-Wang, 9-21 21-15 21-19, sekaligus mencapai semifinal Indonesia Masters tahun 2020-semifinal mereka yang kedua tahun ini.

Fajar Alfian-Muh. Rian Ardianto menjadi penantang mereka di semifinal. Meski berstatus junior dari The Daddies, Fajar dan Rian adalah pasangan elit Indonesia dengan peringkat BWF 5 dunia dan menjadi salah satu kandidat peraih tiket Olimpiade dari nomor Ganda Putra. Telah bertemu dua kali di turnamen resmi BWF dan tak terhitung jumlahnya di pelatnas, mereka telah paham kelebihan dan kelemahan satu sama lain.

Ahsan-Hendra bermain apik di gim pertama yang membuat Fajar-Rian tidak mampu mengembangkan permainan. Memasuki gim kedua, bermain menyerang membuat Fajar dan Rian mampu merebut gim. Pertarungan pun berlanjut ke gim ketiga. 12-21 21-17 21-18 adalah skor akhir bagi Ahsan-Hendra dan mereka pun melenggang ke final untuk tahun kedua secara berturut-turut.

Pasangan terkuat di Indonesia sudah menunggu Daddies di final, Kevin Sanjaya Sukamuljo-Marcus Fernaldi Gideon aka Minions. Telah bertemu 12 kali dengan terakhir terjadi di final Denmark Terbuka tahun lalu, Ahsan dan Hendra terakhir menang melawan Minions di tahun 2016 pada turnamen Malaysia Terbuka.

Ahsan-Hendra mampu memimpin di awal-awal pertandingan, walaupun sempat susul-menyusul angka dengan Kevin-Marcus hingga masih memimpin sebelum jeda, 11-10. Gempuran serangan dari Kevin dan Marcus serta banyaknya kesalahan sendiri yang dilakukan Ahsan dan Hendra membuat mereka kalah 15-21 di gim pertama. Permainan cepat ditampilkan Kevin-Marcus di gim kedua.  Ahsan-Hendra merespons dengan mencoba memperlambat tempo, namun Minions tetap melaju hingga mereka tertinggal 3-11. Lepas interval, Ahsan dan Hendra perlahan menyusul skor Kevin-Marcus menjadi 11-13.  Sempat berselisih hanya satu angka, 16-17, sayangnya poin Ahsan dan Hendra tidak bertambah hingga akhir gim. Gim kedua ini berakhir 16-21 bagi kemenangan Kevin dan Marcus sekaligus mengantarkan gelar pertama mereka di 2020. Sementara bagi Ahsan dan Hendra, final ini adalah final pertama di tahun ini dari dua turnamen.

Poin mereka dalam Race to Tokyo-Kualifikasi Olimpiade BWF kini mencapai 94.087 dari 15 turnamen yang diikuti. Menjadi semifinalis dan finalis di dua turnamen pertama adalah raihan penting buat Ahsan dan Hendra sebelum menjalani 4 atau 5 turnamen lagi sampai akhir pengumpulan poin Olimpiade di akhir bulan April nanti. Menjadi juara di tiap turnamen mungkin penting, namun yang lebih penting (menurut saya) adalah strategi pemilihan turnamen serta konsistensi di setiap turnamen yang diikuti agar fokus dan kebugaran mereka terjaga.

Ahsan dan Hendra dalam pekan ini bermain bersama Tim Putra Indonesia di Kejuaran Beregu Asia di Filipina. Dua tahun lalu saat digelar di Malaysia, Indonesia meraih juara di sektor Beregu Putra. Tahun ini gelar yang sama diharapkan diraih Indonesia kembali.

 

Catatan Akhir Tahun Ahsan-Hendra

Tahun 2019 akan berakhir di depan mata, insya Allah, yang berarti turnamen bulutangkis harus rehat sejenak sebelum dimulai lagi pada Januari tahun depan. Berbagai raihan prestasi ditorehkan para pemain dunia selama 2019, begitu juga para pemain Indonesia yang turut menyumbang beberapa capaian di pentas Bulutangkis dunia.

Tercatat Ganda Putra nomor 1 BWF Marcus Fernaldi Gideon dan Kevin Sanjaya Sukamuljo mencapai rekor 118 minggu sebagai pemegang rangking tertinggi itu, melampaui rekor Lee Yong Dae-Yoo Yoon Seong asal Korea Selatan ( 117 minggu). Selain itu, mereka memperoleh 8 gelar BWF World Tour dari 9 final yang dilalui dengan hanya kalah dari Yuta Watanabe-Hiroyuki Endo di Kejuaran Asia. Jumlah gelar mereka ini menyamai capaian gelar BWF World Tour tahun lalu. Praveen Jordan dan Melati Daeva Oktavianti tahun ini juga berhasil meraih gelar pertamanya di Denmark Terbuka serta Perancis Terbuka di pekan selanjutnya. Jonatan Christie adalah satu-satunya tunggal putra Indonesia yang berhasil meraih gelar di BWF World Tour, sebanyak 2 gelar. Sementara Ganda Putri dan Tunggal Putri hanya mampu mendapatkan 1 gelar saja, yaitu di Thailand Masters (Fitriani) dan India Terbuka (Greysia Polii-Apriyani Rahayu). Meski Indonesia hanya berhasil meraih medali Perunggu di Piala Sudirman, namun kita berhasil mempertahankan medali Emas Beregu Putra dan dan meraih medali Perak Beregu Putri di SEA Games Filipina. Tidak lupa juga buat prestasi membanggakan para junior yang berhasil merebut Piala Suhandinata (sektor beregu campuran) untuk kali pertama di Kejuaraan Dunia Junior 2019.

Indonesia paling banyak disorot tahun ini dari sektor ganda putra. Sebanyak 5 kali final sesama pasangan Indonesia terjadi di turnamen BWF World Tour 2019, dan partai final tersebut selalu menampilkan 2 pasangan yang sama: Kevin Sanjaya-Marcus F. Gideon vs Moh. Ahsan – Hendra Setiawan, atau The Minions vs The Daddies. Dimulai pada Indonesia Masters di Januari, lalu 6 bulan kemudian pada Indonesia Terbuka. Akhir Juli 2019 di Jepang Terbuka, kemudian September di China Terbuka dan pada bulan Oktober di turnamen Denmark Terbuka. Meski semua pertemuan tersebut berakhir dengan kemenangan Minions, tapi hampir bisa dikatakan kalau Ganda Putra Indonesia mendominasi pergelaran BWF World Tour tahun ini.

Hendra Setiawan dan Moh. Ahsan sendiri memulai awal tahun di turnamen Malaysia Masters dengan peringkat 8 BWF dan mengakhiri tahun 2019 di BWF World Tour Finals dengan peringkat 2 BWF. Di turnamen pertamanya itu, Ahsan-Hendra terhenti babak kedua dari Goh V Shem-Tan Wee Kiong asal Malaysia. Selanjutnya mereka ikut dalam 16 turnamen BWF World Tour, Piala Sudirman, Kejuaraan Asia dan Kejuaraan Dunia. Mereka akhirnya masuk final sebanyak 11 kali dengan rincian 10 final BWF World Tour dan 1 final Kejuaraan Dunia.

Tahun ini Ahsan dan Hendra memulai lembaran baru sebagai pemain profesional di luar pelatnas. Dengan alasan ingin memberikan kesempatan buat pemain yang lebih muda walaupun keduanya tak sepenuhnya lepas dari pelatnas karena masih berlatih di Pelatnas Cipayung dan di bawah bimbingan tim pelatih ganda putra-Herry Ip dan Aryono Miranat.

Dari 11 kali final yang dilakoi Ahsan dan Hendra, 4 di antaranya berbuah gelar. Gelar pertama direbut di Selandia Baru Terbuka Super 300 yang merupakan turnamen pembuka perburuan poin ke Olimpiade Tokyo. All England jadi gelar kedua di tahun ini, mereka raih di bulan Maret. Lalu di Kejuaran Dunia yang digelar di Bassel, Swiss, Moh Ahsan dan Hendra Setiawan berhasil jadi juara dunia untuk ketiga kalinya setelah mengalahkan ganda Jepang, Takuro Hoki-Yugo Kobayashi 25-23 9-21 21-15 dalam 1 jam 04 menit. Gelar terakhir, BWF World Tour Finals sekaligus menjadi gelar penutup tahun buat mereka, didapatkan setelah mengalahkan ganda kuat asal Jepang, Yuta Watanabe-Hiroyuki Endo dalam 2 gim langsung 24-22 21-19.

Raihan 4 gelar dalam setahun mungkin terbilang tidak banyak, namun level beberapa gelar turnamen yang dimenangkan sangatlah tinggi. Gelar All England, Juara Dunia dan Juara BWF World Tour Finals yang mereka raih di tahun ini membuahkan rekor tersendiri bagi The Daddies karena berhasil mengumpulkan 3 gelar prestisius dalam 1 tahun. Selain itu juga, 11 final yang mereka capai dari 20 turnamen berarti lebih dari separuh keseluruhan turnamen sepanjang tahun mereka berakhir di babak puncak.

Capaian prestasi tersebut juga turut menghantarkan Ahsan dan Hendra ke posisi 2 pengumpulan poin untuk Olimpiade Tokyo, BWF Race to Tokyo, dengan poin 92.337 di bawah Kevin dan Marcus. Olimpiade Tokyo 2020 adalah alasan mereka kembali berpasangan di awal tahun lalu, namun capaian tahun ini adalah sesuatu yang luar biasa bagi Ahsan-Hendra. Hasil yang luar biasa namun semua diraih berkat kerja keras dan konsistensi mereka selama setahun. Kerja keras yang tak akan mereka tinggalkan sebab harus segera bersiap untuk turnamen terdekat di Januari tahun depan. Bersiap-siap demi impian dan kesempatan ke Olimpiade sekali lagi sebagai pasangan.