Mencari Pengganti Butet

Butet, panggilan akrab Liliyana Natsir, akhirnya benar-benar pensiun Ahad (27/1) kemarin. Bersamaan dengan pentas final turnamen Indonesia Masters Super 500, Butet mengumumkan pensiun di hadapan penonton yang memadati istora Senayan siang kemarin.

Tarik ulur pensiun Butet sebenarnya sudah terjadi setelah Olimpiade Rio 2016 yang lalu. Awal tahun 2017 Butet juga dilanda cidera lutu kanan yang lumayan parah. Meski begitu, prestasinya tetap berkilap walau dalam keadaan tidak 100 %. Dua gelar bergengsi di 2017 diraihnya, Indonesia Open dan Juara Dunia.

Tahun lalu juga Butet kembali mengurungkan niat mundurnya. Dengan iming-iming gelar Asian Games yang belum pernah diraihnya, Butet akhirnya turun di nomor Ganda Campuran. Sayang, Butet hanya mampu meraih medali perunggu.

Dan kemarin, hari yang ditakuti dunia Bulutangkis Indonesia itu pun datang. Butet atau Liliyana Natsir pensiun dari dunia yang telah digelutinya selama 20 tahun lebih dengan berbagai torehan prestasi menterang: Juara Olimpiade, Juara Dunia 4 kali, Juara All England 3 kali, dan juara berbagai turnamen bergengsi lainnya di nomor ganda campuran.

Bagi Indonesia, Butet adalah bakat unik dan langka. Bermain dari usia muda, dia telah berhadapan dengan banyak pemain dunia kuat lainnya dari era awal 2000-an hingga sekarang dan masih memperlihatkan konsistensi baik dari segi fisik maupun prestasi. Tidak diragukan lagi kalau Butet adalah salah satu pebulutangkis putri Indonesia terbaik untuk masa sekarang.

Kepergian Butet meninggalkan lubang besar di nomor Ganda Campuran Pelatnas, sebab hingga kini belum ada satu pun pemain yang bisa menyamai kemampuannya. Apalagi dengan ikut mundurnya Debby Susanto, salah satu pemain yang juga menjadi andalan. Pasangan yang ada sekarang, Hafiz-Gloria, Praveen-Melati, Ronald-Annisa, seringkali hanya jadi penghias turnamen. Belum ada yang mampu memberikan konsistensi permainan dan prestasi.

Padahal nomor ini adalah yang paling sering memberikan gelar juara dunia di skala junior. Tahun ini saja, pasangan Leo dan Indah berhasil menjadi juara dunia junor mengalahkan rekannya Rehan dan Fadia mengulang final sesama Indonesia yang juga terjadi tahun lalu.

Bakat sudah banyak, kini tinggal para pelatih dan pengurus yang menentukan bagaimana cara menemukan Butet-Butet yang lainnya walau mungkin tidak 100% seperti Butet karena memang tidak ada yang mungkin sama seperti Butet.

Advertisements

Sekali lagi, Kevin-Marcus!

Turnamen Malaysia Masters Super 500 baru berakhir Ahad kemarin. Ada 2 wakil kita di final, Kevin-Marcus dan Greysia-Apri.

Greysia-Apri tampil di urutan pertama. Mbadmintonindonesiaelawan ganda terkuat di dunia asal Jepang, Fukushima-Hirota, Greysia dan Apri mampu mengatasi di gim pertama. Sayang, mereka gagal di gim kedua dan ketiga. Greysia Polii dan Apriyani Rahayu akhirnya jadi runner up ganda putri. Pencapaian yg tergolong lumayan mengingat tahun lalu mereka berkali-kali jadi langganan semifinalis.

Sementara Kevin Sanjaya dan Marcus Gideon, atau bisa dijuluki Minions, berhadapan dng Ong Yew Sin dan Teo Ee Yi dari Malaysia. Menjadi turnamen pertama bagi mereka di tahun ini, Kevin-Marcus tidak menyia-nyiakan kesempatan tampil di final. Walau pasangan Malaysia memberi perlawanan yg ketat, Kevin-Marcus mampu menaklukkan mereka 2 gim langsung, 21-15 21-16, dalam 35 menit. Gelar ini menambah perolehan BWF World Tour mereka menjadi 9 gelar.

Pada tahun 2016, Kevin dan Marcus juga menang di sini. Hanya saja status turnamennya masih bergelar Malaysia Grand Prix Gold (GPG). Saat itu mereka baru saja berpasangan.

Kehadiran mereka di turnamen ini di awal tahun sebenarnya diragukan. Cidera otot leher Marcus yg didapat saat tampil di World Tour Finals Desember lalu cukup mengkhawatirkan. Namun, sepertinya cidera tsb sudah bisa diatasi, dan pasangan andalan kita itu sudah bisa tampil di lapangan.

Malaysia Masters bisa dibilang adalah turnamen pemanasan bagi Minions sebelum Indonesia Masters pekan ini di Istora Jakarta.

(sumber foto: badmintonindonesia)

Recommended Dramas in 2018

Di 2018 ini, saya berhasil menyelesaikan beberapa drama Korea. Drama-drama tersebut memiliki genre dan cerita yang beragam, mulai dari yang bikin sedih hingga buat ketawa. Beberapa drama yang saya rekomendasikan di antaranya,

  • Welcome to Waikiki/Eulachacha Waikiki (20 Episode, JTBC)

Drama yang tayang Februari hingga April ini awalnya hanya untuk 16 episode, namun kemudian diperpanjang hingga 20 episode. Bercerita tentang tiga orang pemuda yang mengelola penginapan (guesthouse) di Itaewon, Seoul dan dibantu oleh saudara dan teman.

Menonton Waikiki membuat perut sakit karena sangat lucu. Dengan format seperti sitkom amrik, kita pasti selalu terhibur dengan tingkah lucu keenam penghuni guesthouse Waikiki-Kang Dong Goo, Lee Joon Ki, Bong Doo Sik, Han Yoon Ah, Kang Seo Jin dan Min Soo Ah.

  • Miss Hammurabi (16 episode, JTBC)

Drama ini menarik karena diangkat berdasarkan novel yang ditulis oleh seorang hakim di Korea Selatan. Penulis novelnya, Moon Yoo-seok, juga menjadi penulis skenario drama ini.

Karena yang nulis memang hakim (asli), maka cerita tentang pengadilan di Korea di dalamnya sangat terlihat realistis.

  • Life (16 episode, JTBC)

Berasal dari penulis yang sama dengan drama hits tahun lalu, Stranger (Secret Forest), Life bercerita tentang perebutan kekuasaan di sebuah rumah sakit universitas.

Kalau drama rumah sakit lainnya banyak menekankan di sisi medisnya, maka drama ini pengecualian. Life lebih condong menjadi drama office-politic ketimbang medical drama dan sangat berat menyoroti sistem pelayanan kesehatan Korea Selatan.

  • Still 17/Thirty but Seventeen (32 episode
    format 35 menit , SBS)

Woo Seo Ri, seorang pemain biola berbakat, berusia 17 tahun saat mengalami kecelakaan hingga 13 tahun kemudian dia bangun dari komanya. Saat dia bangun, dia kehilangan kontak dengan keluarganya. Perjalanan Woo Seo Ri mendapatkan keluarga baru dan menapak mimpi yang baru menjadi cerita utama di drama ini.

  • Life on Mars (16 episode, OCN)

Genre drama ini time-travelling tentang seorang polisi yang koma dan dalam masa komanya kembali ke masa lalu.

  • Just Dance/Dance Sport Girls (16 episode
    format 35 menit , KBS)

Diangkat dari dokumenter berjudul yang sama, tentang klub Dance Sport di sebuah sekolah kejuruan di Geoje, sebuah kota kecil di provinsi selatan Korsel. Coming of Age drama yang sangat menyentuh dan sangat realistis menggambarkan perjuangan seorang gadis dan ke-enam temannya mencari kebahagian mereka di akhir masa sekolah.

  • SKY Castle (20 Episode, JTBC) (sementara tayang)

Genre drama SKY Castle adalah black comedy, satire. Drama ini menyindir sistem pendidikan Korea yang sangat “memuja” nilai.

  • Children of Nobody/Red Moon Blue Sun (32 episode
    format 35 menit, MBC) (sementara tayang)

Drama misteri thriller tentang teka-teki pembunuhan para orangtua yang menelantarkan dan menyiksa anaknya yang melibatkan sosok misterius, Red Cry.

Perunggu

Tidak ada wakil kita di final Kejuaraan Dunia Bulutangkis tahun ini. Kesempatan meraih 1 gelar harus pupus saat Greysia Polii dan Apriyani Rahayu kalah di semifinal kemarin siang dari ganda Jepang yang hari ini jadi Juara Dunia Ganda Putri yang baru, Mayu Matsumoto dan Wakana Nagahara. Target emas hanya mampu berwujud perunggu kali ini.

China sebagai tuan rumah sukses juga sebagai peserta. Dengan 1 gelar yang sudah pasti di tangan (Ganda Campuran), mereka juga berpeluang menambah gelar di 2 sektor lain (tunggal putra dan ganda putra). Padahal dari beberapa gelaran turnamen world tour BWF, belum satupun gelar yang mereka dapat.

Jepang adalah peserta sukses lainnya, ada 4 wakil di final. Perkembangan bulutangkis negeri tsb bisa dibilang “mencengangkan”. Target sukses di Olimpiade 2020 Tokyo menghasilkan peningkatan pesat.

Kejuaraan Dunia tahun ini juga membawa catatan tersendiri buat Carolina Marin. Di final ketiganya, dia akan tercatat sebagai salah satu pemain Eropa tersukses di Kejuaraan Dunia jika juara lagi untuk ketiga kalinya. Catatan juga buat PV Sindhu, lawan Marin, yang akan jadi Juara Dunia pertama dari India jika menang atas Marin.

Indonesia tanpa gelar tahun ini mungkin juga karena berdekatan dengan penyelenggaraan Asian Games 2018 di Jakarta-Palembang. Konsentrasi pengurus dan pelatih kita terbagi karena Asian Games yang akan berlangsung di negara sendiri.

ket foto: Bendera negara-negara medalis Ganda Putri, 3 wakil Jepang dan 1 wakil Indonesia.

Akhirnya menang di Istora, Owi!

Turnamen bulutangkis terbesar dan terheboh telah berakhir awal Juli ini, Indonesia Terbuka 2018. Digelar kembali di Istora Senayan, Indonesia Terbuka tahun ini menyajikan gelaran pertandingan-pertandingan seru dari ratusan pebulutangkis dari berbagai negara.

Tahun ini sebenarnya target Indonesia hanya 2 gelar, Kevin Sanjaya dan Marcus Gideon diharapkan menjadi penyumbang gelar dari sektor andalan Ganda Putra. Namun rupanya tahun ini Indonesia Terbuka ramah dengan pemain Indonesia. Kita kebagian gelar juga di Ganda Campuran lewat Tontowi Ahmad – Liliyana Natsir.

Owi dan Butet juga juara tahun lalu. Perbedaannya, tahun 2017 turnamen ini digelar di JCC Senayan sebab Istora sedang direnovasi persiapan buat Asian Games 2018.

Bicara tentang Istora dan Owi Butet seperti mengutak-atik misteri yang sulit dipecahkan. Pasangan yang sudah Juara Olimpiade, Juara Dunia 2 kali, All England 3 kali dan Super Series berkali-kali itu sangat sulit juara di Istora. Mereka sudah masuk final 3 kali di sana, dan ke-tiga tiganya tidak ada yang berhasil jadi juara.

Pemain Indonesia yang paling sukses di Indonesia Terbuka (dan Istora tentunya, secara kebanyakan dimainkan di sana) adalah Taufik Hidayat. Selebihnya pemain kita memang sulit menang apalagi sejak berubah status menjadi turnamen Super Series. Tapi Owi-Butet adalah salah satu pemain top kita yang paling konsisten selama bertahun-tahun semenjak berpasangan tahun 2011 dan kesulitan meraih gelar di Istora menjadi sulit buat dijelaskan.

2018

Tahun ini adalah tahun yang spesial buat Owi dan Butet karena tahun ini adalah tahun terakhir buat Butet. Butet sudah menyatakan kalau dia akan pensiun di 2019. Tahun ini target gelar yang belum pernah didapat Butet, yaitu emas Asian Games, ingin diraihnya bersama Owi.

Indonesia Terbuka tahun ini juga menjadi yang terakhir buat Butet. Meski sudah mengoleksi beberapa gelar di sini, tapi belum satu pun bersama Owi.

Sumber: olahraga.kompas.com

Namun takdir rupanya berpihak pada Owi-Butet tahun ini di Istora. Istora yang berisik, “angker” dan punya arah angin yang tak bisa diprediksi itu akhirnya ramah terhadap Owi dan Butet. Mereka juara setelah mengalahkan lawan yang sama dengan final Olimpiade Rio, Chang Peng Soon-Goh Liu Ying, 2 gim langsung. Sementara perjalanan mereka ke final cukup mulus, selalu selesai dalam 2 gim.

Modal yang bagus buat pasangan ini untuk menuju Asian Games Jakarta bulan depan, menambah kepercayaan diri bisa menang di Istora yang juga akan jadi lokasi cabang olahraga Bulutangkis digelar.