Emas (lagi) untuk Beregu Putra dan Perak buat Beregu Putri: SEA GAMES Edition

Indonesia adalah salah satu negara kuat di Bulutangkis, apalagi di kawasan Asia Tenggara. di perhelatan SEA Games lalu, 2017 di Malaysia, Indonesia memperoleh 2 medali emas dari nomor tunggal putra dan beregu putra. Sementara di edisi 2015, kita memperoleh 3 emas, masing-masing dari ganda putra, ganda campuran dan beregu putra.

Tahun ini, SEA Games digelar di Filipina. Indonesia kembali menurunkan pemain terbaik untuk berlaga. Tim Beregu Putra diisi oleh Jonatan Christie, Anthony Sinisuka Ginting, Shesar Hiren Rhustavito, Firman Abdul Kholik, Fajar Alfian, Muhammad Rian Ardianto, Wahyu Nayaka, Ade Yusuf Santoso, Praveen Jordan, dan Rinov Rivaldy. Sedangkan tim beregu putri diperkuat oleh Gregoria Mariska Tunjung, Fitriani, Ruselli Hartawan, Greysia Polii, Apriani Rahayu, Ni Ketut Mahadewi Istarani, Siti Fadia Silva Ramadhanti, Ribka Sugiarto, Melati Daeva Oktavianti, dan Pitha Haningtyas Mentari.

Nama Anthony Sinisuka Ginting adalah nama yang sebenarnya tidak ada di susunan awal. Hanya saja, setelah perhitungan poin untuk BWF World Tour Finals berakhir di Hongkong Terbuka 2019 November lalu, Ginting akhirnya dimasukkan juga karena sudah memastikan lolos ke sana bersama Jonatan Christie. Dengan tambahan Ginting, PBSI ingin memastikan medali emas di tangan Indonesia sebab kedua pemain tunggal terbaik Indonesia berada dalam tim.

Nomor beregu dimainkan mulai dari babak perempat final, sebab hanya ada 8 negara yang ikut termasuk tuan rumah Filipina. Saingan terkuat Indonesia adalah Malaysia dan Thailand, sebab kedua negara tersebutlah yang sering menjadi langganan emas di Bulutangkis SEA Games. Tahun 2017, Thailand menggondol 4 emas (ganda campuran, ganda putra, ganda putri dan beregu putri) sementara Malaysia berhasil meraih 1 emas (tunggal putri).

Indonesia mendapatkan bye (tidak bertanding) di beregu putra dan menghadapi Vietnam di beregu putri pada babak perempat final. Indonesia melaju hingga babak final, setelah mengalahkan lawan-lawanya baik di beregu putra maupun putri.

Babak final beregu putra dilangsungkan Rabu pagi (04/12) waktu Filipina. Indonesia berhadapan dengan Malaysia, lawan yang sama di final beregu putra SEA Games Malaysia 2017 yang lalu. Jika di 2017 kita mampu mengalahkan Malaysia dengan skor 3-0 langsung tanpa balas, maka kali ini Jonatan dkk harus kecolongan di satu partai. Jonatan tampil sebagai tunggal pertama. Melawan Lee Zii Jia, Jojo (panggilan Jonatan Christie) tidak kesulitan di gim pertama dan menang 21-9. Di gim kedua, Lee Zii Jia mampu memimpin di awal-awal gim. Keunggulan Lee tidak bertahan lama sebab Jonatan bisa balik unggul 21-17. Indonesia sementara memimpin 1-0 atas Malaysia.

Fajar Alfian-Muh. Rian Ardianto tampil di partai selanjutnya. Mereka menghadapi ganda nomor satu Malaysia, Aaron Chia-Soh Wooi Yik. Sudah pernah berhadapan beberapa kali, kedua pasangan sudah saling mengetahui kelebihan dan kelemahan masing-masing. Sayang sekali, Fajar dan Rian harus mengakui keungggulan Chia dan Soh. Mereka kalah 2 gim langsung 17-21 13-21. Kedudukan pun sama, Indonesia 1-Malaysia 1.

Tunggal kedua, Indonesia menurunkan Anthony Ginting yang berhadapan dengan Soong Joo Ven. Tertekan di gim pertama, Ginting kalah 13-21, namun dia berhasil bangkit di gim selanjutnya. Ginting menang 21-15 dan 21-18 di gim kedua dan ketiga. Ginting menang, Indonesia pun unggul 2-1 atas Malaysia dan memastikan mengulang kesuksesan 2 tahun lalu di SEA Games Malaysia-Emas untuk Beregu Putra.

Kesuksesan ini semakin mengokohkan posisi Indonesia di kawasan Asia Tenggara, dengan selalu menang di sektor beregu putra SEA Games sejak tahun 2007 (minus 2013 saat beregu tidak dipertandingkan).

Sementara, di hari sebelumnya, Selasa (03/12), Tim Putri Indonesia berhadapan dengan Thailand dalam Final Beregu Putri. Maju ke final merupakan peningkatan prestasi tim putri kita setelah di SEA Games sebelumnya hanya mampu menjajal semifinal setelah kalah dari Malaysia, 0-3. Sayangnya, Gregoria dkk belum mampu menghadapi tim kuat Thailand yang dimotori Ratchanok Intanon dkk. Mereka kalah 1-3 dan hanya mampu mengambil poin di ganda pertama (Ni Ketut Istarani-Apriyani Rahayu vs Rawinda Prajongjai-Puttita Supajirakul. Memang jika dibandingkan Tim Putra Indonesia, terakhir kali putri-putri kita memenangkan sektor beregu pada tahun 2007 atau 12 tahun yang lalu. Setelahnya, sektor ini didominasi Thailand dan Malaysia.

Ajang beregu telah berakhir, kini para pemain kita turun di sektor perseorangan. PBSI menargetkan dua emas di sini, sepertinya dari ganda putra dan ganda campuran. Semoga tercapai dan sukses buat tim Indonesia :).

 

Another Runner-Up for Ahsan and Hendra in Hongkong.

23 November 2014, final Kejuaraan Hongkong Terbuka Super 500 menghadirkan pertarungan dua ganda putra, Indonesia versus China. Ahsan-Hendra yang menjadi unggulan kedua menghadapi unggulan keenam dari China, Liu Xiaolong-Qiu Zihan. Final ganda putra ini akhirnya harus berlangsung dalam 3 gim dan mengantarkan Ahsan dan Hendra meraih gelar ketiganya di tahun itu setelah All England dan Emas Ganda Putra Asian Games Incheon.

5 tahun kemudian, pada 17 November 2019, Ahsan-Hendra kembali ke final sebagai unggulan kedua dan menghadapi pemain non unggulan asal Korea Selatan, Choi Solgyu-Seo Seungjae. Hanya saja kali ini mereka harus menelan kekalahan dalam tiga gim, 21-13 12-21 13-21, sehingga hanya mampu membawa gelar juara kedua atau runner-up.

Selama berpasangan, perjalanan Moh-Ahsan dan Hendra di kejuaraan ini minimal mencapai perempat final, yaitu di awal pertama mereka dipasangkan-tahun 2012. Selebihnya, Ahsan dan Hendra selalu mencapai semifinal (pengecualian tahun 2017 saat mereka berpisah). Tahun lalu, mereka ditaklukkan oleh Kevin Sanjaya dan Marcus F. Gideon di semifinal. Kevin-Marcus akhirnya jadi juara tahun lalu. Tahun ini, mereka tidak bertemu dengan Kevin dan Marcus. Pemain Indonesia yang satu grup dengan mereka adalah Wahyu Nayaka-Ade Yusuf Santoso yang mereka kalahkan di babak kedua.

Pertandingan final tahun ini terjadi di partai kedua. Ahsan dan Hendra menang mudah di gim pertama dalam waktu 12 menit. Memasuki gim kedua, pola permainan mulai berubah. Pasangan Korea mulai menjalankan pola bertahan dan menyerang balik dengan baik.  Choi Solgyu-Seo Seungjae menang di gim ini sehingga pertandingan harus dilanjutkan ke gim ketiga atau rubber game. Gim ketiga berjalan dengan keuntungan di pihak ganda Korea. Dari awal mereka terus memimpin. Dalam wawancaranya, Ahsan mengakui kalau stamina mereka menurun dan akibatnya mereka susah untuk menembus pertahanan Choi dan Seo yang memang bertahan dengan sangat baik. Ahsan-Hendra pun takluk dengan skor akhir 21-13 12-21 13-21 dalam durasi pertandingan 50 menit.

Gelar Runner-up ini adalah yang ketujuh bagi Ahsan-Henda di tahun ini, 5 dari pertarungan versus Kevin-Marcus dan 1 dari Takeshi Kamura-Keigo Sonoda di Singapura Terbuka Super 500. Sementara di turnamen sebelumnya, Fuzhou China Open Super 750,  mereka terhenti di perempat final. Hasil ini semakin mengokohkan peringkat mereka di nomor 2 di Rangking BWF dan  perhitungan Kualifikasi Olimpiade BWF-Race to Tokyo, di bawah The Minnions-Kevin Sanjaya dan Marcus F. Gideon.

Ahsan dan Hendra kemudian akan bermain di BWF World Tour Finals di Guangzhou pada 11 hingga 15 Desember mendatang. Mereka lolos ke turnamen akhir tahun selain karena mereka adalah Juara Dunia tahun ini, juga karena tetap berada di peringkat Top 20 BWF hingga akhir waktu kualifikasi BWF World Tour Finals.

Hasil Tur Eropa Ahsan-Hendra: Runner up Denmark Terbuka dan Babak Kedua Perancis Terbuka

Pergelaran Tur Eropa BWF World Tour 2019 berakhir semalam. Tim Indonesia hanya memilih bermain dalam turnamen Denmark Terbuka Super 750 dan Perancis Terbuka Super 750 yang berlangsung dua minggu berturut-turut (15 Oktober hingga 27 Oktober 2019) dan berhasil mendapatkan 4 gelar, masing-masing dari ganda putra dan ganda campuran. Gelar ganda putra melalui pasangan Kevin Sanjaya-Marcus Fernaldi Gideon, sementara ganda campuran dipersembahkan oleh Praveen Jordan-Melati Daeva Oktavianti.

Hendra Setiawan dan Mohammad Ahsan yang turun di kedua turnamen tersebut berada menempati unggulan kedua di bawah Kevin dan Marcus. Hasilnya, mereka memperoleh juara kedua di Denmark dan kalah pada babak kedua di Perancis.

Perjalanan Ahsan-Hendra di Denmark cukup mulus hingga perempat final. Mereka selalu menang dalam 2 gim langsung. Ujian berat baru terlihat di babak semi final saat berhadapan dengan Takeshi Kamura dan Keigo Sonoda dari Jepang. Mereka tertinggal 19-21 di gim pertama, lalu menang dengan 21-19 (mirror score!!) di gim kedua. Gim ketiga juga menjadi milik Ahsan-Hendra, 21-15. Saat semifinal ini, Ahsan terlihat mengenakan bebat di bagian betis.

Melaju ke babak puncak, Ahsan-Hendra berhadapan dengan Kevin dan Marcus kembali. Pertemuan di final ini merupakan kali kelima tahun ini dan  belum sekali pun Ahsan dan Hendra menang dari mereka.

Pertandingan malam itu (20/10) awalnya berlangsung ketat di gim pertama. Namun setelah interval, Kevin dan Marcus melaju hingga menang 21-14. Gim kedua juga berlangsung hampir mirip dengan gim  yang pertama, skor mepet di awal lalu semakin menjauh setelah istirahat. The Minions pun menang dengan skor akhir 21-14 dan 21-13 dan Ahsan-Hendra harus puas sebagai juara kedua.

Denmark Terbuka 2019 berakhir, mereka lalu menuju Paris-Perancis. Turnamen Perancis Terbuka yang  berlangsung dari hari Selasa, 22 Oktober 2019 juga diikuti hampir semua pemain top dunia. Sama dengan Denmark Terbuka, Perancis Terbuka adalah turnamen level Super 750.

Ahsan dan Hendra memulai turnamen ini dengan susah payah, Menghadapi ganda Malaysia, Ong Yew Sin-Teo Ee Yi, mereka harus melalui pertarungan dalam 3 gim, 12-21 21-19 21-19.  Pasangan kita banyak melakukan kesalahan sendiri (unforced error), terutama Ahsan yang terlihat belum terlalu pulih dari cidera betisnya. Hanya saja, karena pengalaman dan mental yang lebih unggul, pasangan Ahsan-Hendra bisa menang terutama di angka-angka kritis.

Menang di babak pertama, Ahsan dan Hendra maju  ke babak kedua dan berhadapan dengan ganda muda lainnya dari India, Satwiksairaj Rankireddy-Chirag Shetty. Ganda India ini bukan pasangan yang mudah untuk dihadapi, apalagi mereka sudah memenangkan 1 gelar tahun ini (Thailand Terbuka). Ahsan dan Hendra kalah di gim pertama, 18-21. Mereka akhirnya bisa membalas di gim kedua dengan skor kembar, 21-18. Gim ketiga, Ahsan dan Hendra tertinggal jauh dan akhirnya harus kalah 13-21. Mereka pun terhenti di babak kedua ini. Hasil tahun ini tidak berbeda dengan capaian mereka tahun lalu karena saat itu mereka juga kalah di babak kedua dari ganda Taiwan, Chen Hung Lin-Wang Chi Ling.

Hasil ini cukup menambah poin mereka dalam perburuan jatah ke Olimpiade Tokyo. Kini mereka berada di rangking kedua dalam Race To Tokyo-Kualifikasi Olimpiade  di bawah Kevin dan Marcus dengan jumlah poin 76.877 dari 10 turnamen yang masuk perhitungan poin olimpiade.

Denmark Open 2019_DAY3_HendraAhsan(Moh. Ahsan-Hendra Setiawan di Denmark Open 2019)

*sumber foto: badmintonindonesia.org

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ember Biru dan Piala yg Balik Kampung

Kazan Gymnastics Center bergemuruh Sabtu siang itu. Suasananya sudah tak seperti di Eropa lagi, lebih mirip Istora. Sejumlah penonton Indonesia bernyanyi, berteriak dan menyorakkan yel-yel khasnya, mereka tampak nyaman seperti bukan di negara orang. Beberapa membawa bendera merah-putih dan juga benda yg bisa ditabuh (seperti botol air mineral dan ember biru).

Pasukan junior bulutangkis Indonesia sedang bertarung dengan China di final Kejuaraan Junior Dunia nomor Beregu Campuran (Mix Team) di sana. Suasana meriah itu bukan saat final itu saja, penonton Indonesia sudah hadir sejak penyisihan hari Selasa (1 Oktober 2019).

Final tahun ini adalah final ketiga bagi tim Indonesia. Tiga tahun berturut-turut, 2013, 2014, dan 2015 kita juga maju ke final. Namun sayangnya ketiganya berakhir sebagai juara kedua. Di 2013, kita takluk dari Korea Selatan, sementara 2014 dan 2015 kalah dari lawan kita yang sama tahun ini, China. Ini berarti belum sekalipun Indonesia mengangkat Piala Suhandinata, piala kejuaraan dunia beregu junior.

Saya sebenarnya pesimis dengan tim kita tahun ini. Waktu melihat sesi foto mereka di akun twitter PBSI, saya tidak berekspektasi apa-apa (karena takut kecewa, hiks). Tapi, rupanya perkiraan saya salah, alhamdulillah.

Menghadapi junior China di final pasti tidak mudah. China pemegang titel juara bertahan selama 5 tahun sangatlah kuat baik per individu maupun sebagai tim. Di partai pertama, ganda campuran, kita menurunkan pasangan baru (sebenarnya tak baru-baru amat), Daniel Marthin-Indah Cahya Sari Jamil melawan Feng Yanzhe-Lin Fanling. Indah sebenarnya berpasangan dengan Leo Rolly Carnando. Mereka adalah Juara Dunia Junior tahun lalu dan juga Juara Asia Junior di tahun ini. Namun strategi tim Indonesia kali ini membongkar pasangan tersebut. Strategi ini berhasil, dalam pertarungan 3 gim, Daniel-Indah pun menang.

Nomor selanjutnya adalah tunggal puri, nomor yg dianggap banyak orang bukanlah milik Indonesia. Tapi hasil di lapangan berkata lain, Putri KW berhasil mengalahkan Zhou Meng. Indonesia pun unggul 2-0 atas China.

Tunggal putra jadi nomor selanjutnya. Bobby Setiabudi versus Liu Liang. Jika Boby menang maka Indonesia otomatis jadi juara dan tidak perlu memainkan partai keempat dan kelima. Bobby yang bermain cemerlang pada semifinal di hari sebelumnya atas Thailand, rupanya sangat terbebani atas perannya sebagai penentu kemenangan Indonesia di final ini. Sempat menyentuh angka match point duluan di gim penentuan (20-16), namun sayang skor Bobby tidak berubah dan akhirnya kalah 17-21 21-17 20-22.

Pertandingan pun harus dilanjutkan ke nomor ganda putri. Lagi-lagi terjadi bongkar pasang di sini. Putri Syaikah yg biasanya bermain bersama Nita Violina Marwah, dipasangkan dengan Febriana Dwipuji Kusuma. Putri dan Nita adalah pasangan dunia junior nomor satu dan turun saat semifinal melawan Thailand. Hanya saja di pertandingan tersebut mereka kalah.

Melawan Li Yijing-Tan Ning, Febriana-Putri ketinggalan di gim pertama. Namun mereka bangkit di gim kedua dan menang setelah terjadi adu setting. Gim ketiga, pasangan kita unggul jauh dari pasangan China dan memenangi gim ini. Skor akhir 16-21 25-23 21-13. Kemenangan ganda putri ini sekaligus memberikan kemenangan buat Indonesia. Kedudukan akhir, 3-1 untuk Indonesia.

Indonesia akhirnya bisa memenangkan Piala Suhandinata, piala yg diberi nama dari tokoh bulutangkis Indonesia-Suharso Suhandinata, 19 tahun sejak pertama kali diperebutkan. Prestasi ini semoga dapat diteruskan tim junior kita selanjutnya (walau format kejuaraan akan berbeda di tahun depan), dan semoga menular ke tim senior Indonesia, aamiin.

*sumber gambar: ss Youtube BWF

The Daddies-Minions Jilid 4 di China

Apa yang terjadi kalau peringkat 1 bertemu dengan peringkat 2? Perang besar atau perang dingin? Bagaimana kalau mereka adalah rekan senegara? Semakin menarik.

Indonesia kini memiliki 2 pasangan terkuat di ganda putra dunia, Kevin Sanjaya Sukamuljo-Marcus Fernaldi Gideon (dng julukan Minions) dan Moh. Ahsan-Hendra Setiawan (yg dijuluki The Daddies) yg berada di urutan 1 dan 2 BWF. Sebagai pemilik peringkat tertinggi maka sangat kecil bagi mereka bertemu di babak-babak awal karena biasanya mereka akan menempati grup/pool yg berbeda. Peluang terbesar adalah bertemu di partai final, dan itu yg terjadi pekan kemarin di Changzhou, China.

Pertemuan mereka kali ini di final adalah yg keempat kalinya tahun ini. Rekor sebelumnya, 3-0 bagi kemenangan Kevin dan Marcus untuk tahun 2019. Pertemuan yg terakhir di Jepang berjalan seru dalam 3 gim.

Kalau pertemuan antar rekan senegara, yang dikhawatirkan biasanya “main sabun” (apalagi negara tertentu, huk..huk..) atau permainan yang telah diatur. Tapi tidak begitu dengan Indonesia, apalagi sektor ganda putra yang telah menjadi kebanggaan kita. Begitu pula dengan pertemuan Ahsan-Hendra dengan Kevin-Marcus, dijamin seru walaupun dengan keadaan salah satu pemain sedang dalam cidera yang tak ringan.

Moh. Ahsan maju ke Final dalam keadaan cidera betis kanan yang dialaminya sejak perempat final pada hari kamis (20/9) saat menghadapi ganda Jepang, Endo-Watanabe. Namun, dengan permainan yang sangat impresif,  akhirnya dia dan Hendra mampu menang hingga ke babak Final.

Gim pertama berlangsung dengan skor ketat dari awal, namun akhirnya Kevin-marcus yang mampu menyentuh angka 21 duluan, 21-18 buat mereka. Gim kedua, Minions masih memimpin hingga pertengahan gim, 11-8, namun Ahsan-Hendra bisa balik menyerang dan akhirnya unggul 21-17. Kevin-Marcus di awal gim ketiga melaju hingga mendapat skor yang sangat jauh, 8-2. Setelah reli seru buat poin 3 untuk Ahsan-Hendra, perawatan harus diberikan untuk Moh. Ahsan. Setelahnya, Kevin dan Marcus terus melejit hingga angka 19-10.  Sebelum skor berubah ke 20, Ahsan dan Hendra terus menambah poin hingga 15 dan menambah tensi ke pertandingan ini. Kevin dan Marcus yang tidak mau lengah terus menekan. Mereka pun menutup gim ini, 21-15, dan merebut gelar China (Changzhou) Open tahun ini dalam waktu total 42 menit.

Bagi Ahsan dan Hendra, final ini adalah final ke-8 dan gelar Runner-up ke-5 mereka tahun ini dari 13 turnamen yang telah mereka ikuti. Sementara buat Minions, ini adalah gelar ke-5 dari 11 turnamen mereka di 2019 ini.  Dalam Race To Tokyo (kualifikasi Olimpiade BWF) , keduanya masing-masing berada di peringkat 1 (Ahsan-Hendra dari 8 turnamen) dan 3 (Kevin-Marcus dari 7 turnamen).