Juara Dunia (lagi) Ahsan-Hendra

It took me days to write ’bout their win in World Champ this year. I am excited but worldless at the same time. Ga tau mau nulis apa.

———

Mereka datang sebagai unggulan ke-4. Berperingkat 2 BWF, mereka berada dalam pool atas bersama dengan Kevin-Marcus (unggulan ke-1) dan Fajar-Rian (unggulan ke-7). Melihat susunan undian pertandingan ini, Kepala Pelatih Ganda Putra Indonesia-Herry IP-jauh-jauh hari sudah mengemukakan kekecewaannya. Pemain unggulan Indonesia terkumpul dalam satu pool yang sama, dan bukan tidak mungkin akan saling berhadapan di babak awal bahkan semi final. Tak ada harapan buat menciptakan Final sesama Indonesia (seperti di Indonesia Terbuka dan Jepang Terbuka).

Kenyataan pahit harus dihadapi Kevin-Marcus aka The Minions. Mereka dijegal ganda Korea, Choi Solgyu-Seo Seung Jae, dalam pertarungan tiga gim 21-16 14-21 21-23 di babak kedua sehingga mereka harus mengubur mimpi di Kejuaraan Dunia untuk tahun ketiga keikutsertaannya. Sementara pasangan Fajar dan Rian mampu melaju hingga ke babak semi final setelah mengalahkan ganda Korea tersebut dalam dua gim langsung 21-13 21-17.

Kekhawatiran pelatih Herry IP pun terbukti di semi final, Fajar dan Rian harus bertanding melawan Ahsan dan Hendra demi merebut satu tiket ke final kejuaraan dunia ini. Rekor pertemuan mereka 2-1 untuk Ahsan dan Hendra di pertandingan resmi BWF, namun jika mau dihitung dengan saat latihan di Pelatnas, jumlahnya pasti tak bisa terhitung lagi. Fajar dan Rian yang terpaut umur cukup jauh dengan Ahsan dan Hendra memiliki keunggulan dari segi kecepatan dan stamina yang lebih baik dari mereka.

Pertandingan semi final menyajikan laga yang sangat ketat hingga harus dilangsungkan dalam tiga gim. Ahsan dah Hendra unggul di gim pertama, 21-16. Sementara di gim kedua, berbalik Fajar dan Rian yang menang 21-15. Di gim penentuan, akhirnya Ahsan dan Hendra mampu memimpin jauh 21-10 berbekal pengalaman dan kemampuan mengendalikan permainan. Menang 3 gim, mereka melaju ke final dan bersiap menghadapi ganda putra Jepang, Takuro Hoki dan Yugo Kabayashi yang terlebih dulu mengalahkan Juara Dunia tahun sebelumnya dari China, Li Junhui-Liu Yuchen.

Berhasil ke final berarti Ahsan-Hendra belum terkalahkan selama tiga kali ikut serta di kejuaraan dunia, 2013, 2015 dan 2019 (2014 dan 2018 mereka tidak ikut, 2014 karena Ahsan cidera dan 2018 karena mereka digantikan Fajar-Rian). Sebuah prestasi yang sangat membanggakan.

Pertandingan final pun tersaji, pada Ahad siang (waktu lokal) tanggal 25 Agustus. Berlangsung di St. Jacob Arena Basel, Swiss, partai Ahsan-Hendra versus Hoki-Kobayashi ditaruh di urutan paling akhir (biasanya yang terakhir adalah yang paling seru!). Ahsan dan Hendra menjadi satu-satunya harapan Indonesia meraih medali Emas di ajang ini, setelah Greysia dan Apriyani di ganda putri tersingkir di semi final.

Pertandingan final ganda putra berlangsung 1 jam lebih 5 menit. Gim pertama berlangsung seru dan ketat hingga harus melalui setting sampai skor menyentuh angka 25. Ahsan-Hendra akhirnya unggul 25-23 setelah game point beberapa kali. Pertarungan di gim kedua berlangsung kurang imbang, mereka harus  takluk cukup jauh 9-21. Setelah tertinggal jauh dan sulit untuk mengejar skor lawan, mereka hanya bermain aman dan tidak berusaha mencetak angka. Wasit Jacob Syndberg yang memimpin bahkan sampai memperingatkan mereka agar serius bermain (padahal mereka serius dan tak main-main, apalagi ini sudah final kejuaraan dunia, ini hanya strategi menyimpan energi buat gim ketiga). Dan, benar saja, di gim ketiga mereka langsung ngebut hingga unggul jauh 6-1.  Terus memimpin 11-7 sebelum jeda, mereka kemudian menang 21-15 di gim ini dan sekaligus memenangkan gelar Juara Dunia (lagi) untuk ketiga kalinya.

Keunggulan dari Ahsan dan Hendra adalah mental mereka yang sangat tangguh. Meski fisik mereka kini tak sekuat saat pertama kali berpasangan, namun mental yang kuat membuat mereka mampu mengatasi momen-momen kritis saat tanding.  Peran sebagai  ayah dan kepala keluarga serta pemain profesional di luar Pelatnas juga menambah kekuatan mental mereka.

Menjadi Juara Dunia kali ini sebenarnya menjadi kejutan bagi mereka, karena mereka datang ke Basel dengan target paling jauh mencapai semi final. Namun dengan konsistensi yang telah Ahsan dan Hendra tunjukkan selama tahun 2019 ini, hasil Juara Dunia bukan lagi menjadi hal yang mengejutkan bagi banyak pihak terutama pecinta Bulutangkis dunia.

Dengan hasil ini, Ahsan-Hendra untuk sementara (per 27 Agustus 2019) memimpin peroleh klasemen Ganda Putra Race to Tokyo-Kualifikasi Olimpiade Tokyo dengan jumlah poin 53.007 dari 7 turnamen yang diikuti (Kevin dan Marcus di posisi ke-4 dengan poin 40.343 dari 5 turnamen).

sumber foto: badmintonindonesia.org

Advertisements

Runner Up lagi di Jepang

September enam tahun lalu, Mohammad Ahsan meraih gelar pertamanya di Jepang Terbuka setelah dua kali sebelumnya hanya mampu menjadi juara kedua bersama Bona Septano di 2008 dan 2011. Sementara, buat Hendra Setiawan, gelar itu adalah gelar keduanya setelah 2009 saat masih berpasangan dengan Markis Kido.

Tahun ini mereka kembali lagi ke partai puncak Jepang Terbuka, final. Lawan mereka adalah lawan yang sama dengan yang dihadapi di partai final seminggu sebelumnya, Kevin Sanjaya-Markus Fernaldi Gideon (atau The Minions) atau partai All Indonesian Final.

Perjalanan mereka ke final bukanlah mudah. Di babak kedua, sesama pasangan Indonesia, Wahyu Pangkaryarnirya-Ade Santoso harus mereka hadapi dalam tiga gim yang ketat. Sementara di perempat final, ganda Korea Selatan sekaligus Juara Dunia 2014, Ko Sunghyun-Shin Baekcheol juga mereka lewati lewat tiga gim yang tak kalah seru. Di semifinal, ganda nomor satu Jepang, Takeshi Kamura-Keigo Sonoda, menjadi lawan mereka. Kamura dan Sonoda terkenal memiliki kecepatan (dan berisik, hehe), namun Ahsan dan Hendra mampu mengimbangi dan memperlambat tempo permainan hingga mampu menang dalam dua gim saja, 22-20 dan 21-10.

Di final, ganda terkuat di dunia saat ini, Kevin-Marcus, sudah menanti. The Minions masuk ke final setelah melewati partai tiga gim yang menegangkan melawan Duo Menara China, Li Junhui-Liu Yuchen. Final Ahsan-Hendra versus Kevin-Marcus sudah terjadi tiga kali tahun ini, Indonesia Masters Januari lalu, Indonesia Terbuka pekan lalu, dan kini di Jepang Terbuka. Pada Indonesia Masters, Kevin dan Marcus menang dengan skor yang cukup jauh, 21-17 dan 21-11. Sementara di Indonesia Terbuka, meski menang dalam dua gim, skor mereka tidak terlalu jauh, 21-19 21-16.

Final kali ini berlangsung lebih seru. Kejar mengejar angka terjadi di gim pertama, namun Kevin-Marcus akhirnya unggul 21-18. Di gim kedua, Ahsan dan Hendra lebih menguasai pertandingan dan menyentuh skor gim point duluan, 20-18, namun Kevin dan Marcus mampu mengejar sampai akhirnya unggul 23-21 sekaligus  memenangkan gelar Jepang Terbuka kali ketiganya secara beruntun.

Ahsan dan Hendra mengakui kalau Kevin-Marcus bermain sangat cepat, sementara Kevin dan Marcus mengatakan kalau mereka banyak melakukan kesalahan di gim kedua dan sulit untuk menembus pertahanan Ahsan-Hendra. Meski hanya jadi runner-up, Ahsan dan Hendra bersyukur mampu masuk ke final lagi dan berharap bisa lebih stabil lagi.

Runner-up kali ini adalah runner-up kedua bagi mereka di Jepang  setelah tahun 2014. Saat itu mereka kalah dari Lee Yongdae-Yoo Yeonseong, dua gim langsung 12-21 dan 24-26 (hiks..hiks..).

Ahsan Hendra Minions Japan Open 2019

*sumber foto: badmintonindonesia.org

 

 

Cireng Nasi (bekas semalam)

Salah satu efek pakai rice cooker and warmer adalah nasi kering yg akhirnya harus dibuang, huhu. Setelah lihat resep di yutup dan IG, akhirnya mencoba membuat cireng nasi dari nasi kering sisa tersebut. Caranya gampang, nasi kering direndam dulu pakai air, kemudian dihaluskan pakai blender. Hasilnya lalu dicampur dengan tepung tapioka/kanji dan maizena. Beberapa resep juga memakai terigu, tapi karena saya ingin yang bebas gluten (gluten free), saya hanya pakai tapioka dan maizena.

Untuk menambah rasa, campurkan bawang putih bubuk (atau bawang putih yg dihaluskan) dan potongan daun bawang ( dan garam tergantung selera). Aduk adonan hingga rata, jika dirasa terlalu keras bisa ditambahkan air. Goreng adonan hingga kecoklatan, angkat dan sajikan dengan saos (botolan).

cymera_20190726_1541452094439140.jpg

Runner up Indonesia Terbuka 2019, hasil yang lumayan buat Ahsan-Hendra

Tahun 2019 adalah tahun ke-6 Ahsan-Hendra tampil bersama di Indonesia Terbuka (minus 2017 saat mereka “pisah”, huhu). Di tahun pertamanya, 2013, mereka langsung mengukir prestasi jadi juara dengan mengalahkan pasangan nomor 1 asal Korea kala itu, Lee Yongdae-Ko Sunghyun (ahh, 2013 emang tahun baik buat mereka).

Tahun berikutnya, kembali mereka berhasil maju ke final. Namun sayang kali ini mereka berhadapan dengan ganda yang akan tercatat dalam sejarah sebagai pasangan “penawar” Ahsan-Hendra. Mereka takluk 15-21 17-21. (Jujur, sampai sekarang saya belum melihat pertandingan final ini. Saya hanya melakukan live scoring di twitter).

Di 2015, mereka nyaris ke babak final. Kalah dari pasangan baru muka lama China, Zhang Nan-Fu Haifeng (yang akhirnya jadi peraih Emas di Rio), 20-22 21-18 15-21. Hasil lebih miris dicatat tahun setelahnya, 2016, dimana mereka terhenti di babak kedua dari duo Denmark, Mads Conrad-Mads Kolding.

Tahun 2017, Ahsan yang berpasangan dengan Rian A.Saputro tersingkir di babak awal. Sementara Hendra yang menggandeng Tan Beon Hong hanya sampai ke babak kedua setelah dikalahkan Li Junhui-Liu Yuchen yang akhirnya jadi juara di tahun tersebut.

Tahun lalu, 2018, mereka akhirnya berpasangan kembali. Sayangnya, mereka harus melawan ganda terkuat Indonesia saat ini, Kevin Sanjaya-Marcus Gideon. Kalah dalam tiga gim, 16-21 21-18 10-21, Ahsan-Hendra gagal melangkah lebih jauh. Kevin-Marcus pun akhirnya merebut gelar Indonesia Terbuka pertamanya setelah mengalahkan pasangan Jepang Takuto Inoue-Yuki Kaneko.

Tahun ini, mereka kembali sebagai Juara All England 2019 dan unggulan keempat di ganda putra. Babak pertama dan kedua dilalui dengan menghadapi pemain dari Eropa. Babak ini dilalui dengan lancar oleh Ahsan-Hendra, dua gim saja. Hadangan sesungguhnya ada di perempat final, Sang Juara Asia 2019, Hiroyuki Endo-Yuta Watanabe membuat mereka harus bekerja keras dalam tiga gim, 21-15 9-21 22-20. Unggul jauh di gim penentuan, mereka kehilangan fokus dan akhirnya kesusul poinnya oleh pasangan Jepang. Alhamdulillah, berkat ketenangan dan pengalaman, Ahsan dan Hendra akhirnya menang juga. Babak semifinal kembali lagi bertemu dengan ganda Jepang lainnya, Takuro Hoki-Yugo Kobayashi, dalam pertarungan yang tak kalah menegangkan. Ahsan-Hendra tertinggal di gim pertama, namun mampu bangkit di gim selanjutnya. Mereka menang dengan skor akhir 17-21 21-19 21-17 dan berhak maju ke final (yeaaaay…!!).

Final tahun ini sekaligus juga adalah final ketiga Ahsan-Hendra di Indonesia Terbuka setelah 2013 dan 2014. Menatap gelar kedua di Istora, mereka harus berhadapan dengan The Minions, Kevin dan Marcus, ganda terkuat nomor satu di Indonesia dan dunia. Gim pertama berjalan ketat, kejar mengejar skor terjadi. Skor di gim pertama adalah 19-21. Situasi yang hampir sama terjadi di awal gim kedua, sampai di interval skor yang tercatat 11-10 buat keunggulan Kevin-Marcus. Setelah jeda, perolehan poin Kevin dan Marcus melaju meninggalkan Ahsan dan Hendra. Permainan cepat yang menjadi andalan Minions terus menyebabkan Ahsan-Hendra tertekan. Mereka pun menyerah 16-21 sekaligus harus puas hanya bisa jadi juara kedua/runner up.

Meski hanya jadi runner up, tapi hasil tersebut melebihi target semifinal mereka. Poin di sini juga menjadi tambahan angka yang sangat berarti bagi perburuan tiket ke Olimpiade Tokyo. Perjalanan Ahsan-Hendra selanjutnya adalah Jepang Terbuka pekan ini dan Kejuaraan Dunia bulan depan.

All England 2019: Ahsan dan Hendra

One of their fans that brokenhearted in 2016 was me. And also the one that ecxited when their paired again in 2018, yeaah it was me again.

Ahsan dan Hendra itu kayak mur dengan baut, klop satu sama lain. Satunya pendiam dan gak banyak ekspresi, satunya menggebu-gebu walau tak seekspresif awal-awal berpasangan. Satunya depan net sangat mematikan, yang lain punya smash menggelegar.

Datang ke turnamen tertua dan paling bergengsi, All England, tahun ini nama mereka kurang dilirik pengamat dan pecinta bulutangkis sebagai juara. Meski mereka sudah pernah jadi pemenang di 2014 , The Minions (Kevin-Marcus) dianggap yg paling punya peluang. Namun ternyata kenyataannya berbeda. Ahsan-Hendralah yang menjadi juaranya, sementara Minions kandas di babak pertama.

Kemenangan mereka tahun ini semakin manis karena diraih melalui pertarungan dramatis. Meski lawan mereka pasangan muda dari Malaysia, tapi kondisi Hendra sedang cedera betis akibat salah posisi mendarat di semifinal. Ahsan akhirnya harus berperan lebih banyak untuk menutup ruang mereka karena pergerakan Hendra yang terbatas. Dan akhirnya mereka mampu menang berkat ketenangan, pengalaman dan mental juara.

Hendra yang biasanya tidak banyak ekspresi terlihat berbeda dengan seringnya “merayakan” setiap poin yang didapatnya. Di wawancara lapangan sehabis bertanding dia mengaku hanya berusaha fokus dan tidak terlalu memikirkan cederanya.

Kemenangan yang sangat emosional dan berarti bagi mereka mengingat keinginan keduanya yang ingin lolos ke Olimpiade Tokyo 2020 setelah gagal di Rio 2016 (hiks..hiks).

Selamat buat Ahsan dan Hendra untuk gelar Ganda Putra All England keduanya. Semoga konsisten, aamiin.

(sumber foto: badmintonindonesia)